Dolar AS Tertekan Data Ekonomi Dalam Negeri

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, setelah sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Investing.com, Senin, 17 Agustus 2026, indeks dolar AS turun 0,1 persen menjadi 99,52. Sebelumnya, indeks tersebut ditutup melemah 0,3 persen pada perdagangan Jumat.

Pelemahan dolar terjadi setelah sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan perkembangan yang lebih lemah. Data penggajian nonpertanian serta inflasi konsumen dan produsen turut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut pada tahun ini.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, kontrak berjangka dana The Fed menunjukkan probabilitas sekitar 70 persen bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Pasar kini menantikan risalah rapat The Fed pada Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu. Investor juga akan mencermati simposium ekonomi Jackson Hole pada akhir bulan untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS.
 

Baca Juga :

Dolar AS Tertekan, Pasar Cermati Harga Minyak dan The Fed
  Mata uang Asia beragam
Sejumlah mata uang Asia juga bergerak terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,2 persen dengan pasangan USD/KRW bergerak turun.

Sementara itu, yuan Tiongkok di pasar domestik relatif stabil. Dolar Singapura juga menguat tipis 0,1 persen, sedangkan dolar Australia naik 0,2 persen terhadap dolar AS.

Berbeda dengan mata uang tersebut, rupee India justru mengalami tekanan. Pasangan USD/INR naik 0,2 persen setelah Reserve Bank of India (RBI) secara tidak terduga, memperpendek tenggat waktu bagi bank untuk menggunakan fasilitas swap valuta asing dengan diskon bagi deposito nonresiden. Keputusan tersebut diambil setelah arus dana melalui fasilitas tersebut melampaui USD50 miliar.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
  Ketegangan Timur Tengah masih jadi perhatian
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Harapan terhadap kesepakatan AS-Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz semakin berkurang, sementara lalu lintas kapal tanker melalui jalur tersebut dilaporkan menurun tajam.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada akhir pekan Teheran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendorong masyarakat Amerika menerima kemungkinan kenaikan harga bensin seiring konflik yang masih berlangsung.

Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian pasar valuta asing karena ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi harga energi dan sentimen terhadap aset global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Brio Terbakar di Tol Sumo Usai Tabrak Truk Muatan Tabung Gas, Satu Anak Meninggal
• 5 jam lalu
0
thumb
Ziarah Nasional dan Renungan Suci HUT ke-81 RI: Link Live Streaming Langsung dari TMP Kalibata
• 17 jam lalu
0
thumb
Persiapan Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Grahadi Surabaya
• 6 jam lalu
0
thumb
Hetifah Desak Rehabilitasi 100 Ribu Sekolah Dipacu, Pendidikan Inklusif Diperkuat
• 23 jam lalu
0
thumb
Daftar 21 Lokasi Parkir Sekitar Monas hingga Bundaran HI Saat HUT ke-81 RI di Jakarta
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.