Kontrak Saham AS Stabil, Pasar Menanti Arah Suku Bunga The Fed

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

New York: Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) bergerak terbatas pada awal perdagangan Senin, 17 Agustus 2026. Investor mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) setelah Wall Street menutup pekan sebelumnya dengan kinerja positif.

Mengutip MarketWatch, Senin, 17 Agustus 2026, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun sekitar 80 poin atau 0,1 persen. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,09 persen dan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,31 persen.

Pergerakan tersebut mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati sambil menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Pergerakan kontrak berjangka tersebut mengikuti kinerja pasar saham AS pada perdagangan Jumat. Indeks S&P 500 turun 0,17 persen pada Jumat, tetapi secara mingguan masih mencatat kenaikan 0,4 persen. Penguatan mingguan tersebut juga mencakup pencapaian rekor tertinggi baru.

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turut menguat secara mingguan meskipun turun 0,28 persen pada perdagangan Jumat. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 0,6 persen sepanjang pekan.
 

Baca Juga :

Wall Street Hijau, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
  Investor menanti risalah rapat The Fed
Perhatian pasar pada pekan ini tertuju pada risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Risalah tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih rinci mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap perkembangan inflasi dan kondisi suku bunga di AS.

Tidak banyak agenda ekonomi utama yang dijadwalkan pada pekan ini. Kondisi tersebut membuat perhatian investor lebih terpusat pada komunikasi The Fed dan perkembangan indikator ekonomi yang dapat memengaruhi keputusan kebijakan moneter.

Inflasi AS masih menjadi perhatian karena berada di atas target The Fed sebesar 2 persen dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, data indeks harga konsumen (CPI) Juli yang dirilis pekan sebelumnya menunjukkan kenaikan yang relatif terbatas.

Selain kebijakan The Fed, investor juga mencermati dampak investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap biaya produksi.

Pengembangan infrastruktur AI membutuhkan investasi besar dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai komponen, mulai dari bahan baku hingga perangkat elektronik konsumen. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pasar di tengah upaya The Fed menjaga inflasi tetap menuju target 2 persen.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Video: Ini Hadiah Kemerdekaan RI dari Bank Indonesia, Ada Soal QRIS!
• 2 jam lalu
0
thumb
Peringatan HUT Ke-81 RI, Prabowo akan Pimpin Renungan Suci di TMPN Utama Kalibata
• 17 jam lalu
0
thumb
Profil Celine Olivia Apriani Theo Pembawa Baki Bendera Merah Putih di HUT ke-81 RI 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
HP Cepat Panas Saat Rekam Lomba 17 Agustus? Ini Cara Mengatasinya
• 3 jam lalu
0
thumb
Kirab Bendera Merah Putih dari Monas ke Istana Merdeka, Diiringi Pasukan Berkuda
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.