Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Kapan saja terjadi kejadian gempa di Flores?
2. Mengapa daerah Flores sangat rawan gempa dan tsunami?
3. Apa langkah mitigasi bencana gempa yang harus diprioritaskan pemerintah di Flores?
4. Bagaimana cara masyarakat Flores membangun rumah tahan gempa secara mandiri?
Bagi masyarakat Flores, menjelang akhir tahun senantiasa menjadi momen waspada dengan gempa. Bahkan, gempa itu dengan skala kecil hingga menengah merupakan kejadian ”normal” yang dialami. Akan tetapi, trauma atas gempa besar dan tsunami telah menjadi bayang-bayang kolektif.
Kembali pada peristiwa 12 Desember 1992, gempa bermagnitudo 7,5-7,8 kala itu memicu tsunami yang tingginya mencapai 25 meter di sejumlah titik. Sejumlah catatan mengonfirmasi korban jiwa lebih dari 2.000 orang.
Kerusakan terparah melanda Pulau Babi di lepas pantai Maumere yang akhirnya dinyatakan tidak layak huni. Tiga kampung di pesisir Flores Timur pun lenyap disapu gelombang. Trauma pun membekas dan menjadi memori kolektif dengan bayangan air laut setinggi pohon kelapa menyapu daratan.
Pada 14 Desember 2021, guncangan dan trauma itu muncul kembali tatkala gempa bermagnitudo 7,5 melanda Maumere. Warga di sana pun kembali mengingat kejadian tahun 1992.
Kemudian pada tahun 2026, pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita detik ke-23, sebagaimana dicatat Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bermagnitudo 7,0 melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Titiknya berada di 30 km timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 10 km.
Sepanjang hari Sabtu (15/8/2026) sedikitnya terpantau 10 kejadian gempa dengan magnitudo di atas 5,0. Selain Mbay, Nagekeo, NTT, gempa lumayan kencang bertitik di Ruteng, Manggarai, dan Labuan Bajo. Artinya, lempeng dan patahan sekitar samudra yang mengitari NTT sedang sangat aktif.
Ketika gempa Flores 2026 mengembalikan ingatan akan gempa pada 2021 dan yang terparah 1992, hal ini kembali ditegaskan oleh alam bahwa kawasan ini rawan gempa berpotensi tsunami. BMKG mencatat Sesar Naik Busur Belakang Flores berpotensi memicu gempa magnitugo hingga 7,9.
Dalam situasi ini, bukan hanya trauma yang harus diturunkan secara kolektif, tetapi bagaimana mitigasi pun menjadi hal yang disadari oleh masyarakat. Kondisi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab mandiri masyarakat tetapi juga kehadiran negara.
Kondisi geologi di sekitar lokasi episenter memengaruhi guncangan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, bermagnitudo 7,7, Sabtu (15/8/2026). Gempa yang berpusat di timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, itu bahkan dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Barat, Bali, hingga Sulawesi Selatan.
Gempa kali ini bersumber dari aktivitas Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, struktur tektonik aktif di utara Flores. Sesar naik atau patahan ini terbentuk di belakang busur vulkanik Flores dan memanjang di dasar laut dari utara Pulau Flores hingga bagian utara Pulau Lombok.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tergolong dangkal, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Kedalaman ini ikut menjelaskan kuatnya guncangan dan kerusakan yang ditimbulkan. Selain guncangan besar yang terjadi, keparahan yang terjadi di Flores disebabkan waktu gempa masih pagi, sehingga warga cenderung masih berada di dalam rumah.
Sistem sesar ini bukan sumber gempa yang baru dikenal. Pada 12 Desember 1992, kawasan Flores diguncang gempa besar yang juga berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Gempa ini memicu tsunami dahsyat dan menewaskan lebih dari 2.000 orang. BMKG dalam berbagai kajian mencatat sesar ini termasuk sumber gempa merusak yang mengancam kawasan Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Lana Saria menjelaskan, meski lokasi episenter berada di laut, daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam. Daerahnya terdiri dari dataran, kawasan berombak dan bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur tersier serta batuan sedimen berumur kuarter.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episentrum terklasifikasi dalam kelas tanah C (tanah sangat padat atau batuan lunak), kelas tanah D (tanah sedang), dan kelas tanah E (tanah lunak). Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa di area tersebut terasa lebih intens.
”Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan di permukaan. Batuan yang telah mengalami pelapukan ataupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi,” kata Lana di Bandung.
Gempa, misalnya, dirasakan warga Pulau Bonerate berjarak sekitar 100 mil laut atau 185 kilometer dari Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Butuh 12 jam berlayar untuk mencapai pulau ini. Dari Flores, pulau ini hanya berjarak sekitar 60 mil laut atau sekitar 112 km.
Indonesia memiliki begitu banyak sumber gempa aktif sehingga membayangkan bahwa suatu daerah akan ”aman” hanya karena sudah lama tidak diguncang gempa adalah kesalahan besar. Kita tidak bisa tahu secara presisi kapan dan di mana gempa besar berikutnya akan terjadi. Karena itu, yang jauh lebih penting adalah mengurangi kerentanan yang sudah kita ketahui.
Pemerintah mesti memperkuat sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Dalam kejadian bencana gempa di Flores beberapa hari lalu, sistem peringatan dini bekerja cepat. BMKG mengeluarkan peringatan tsunami hanya sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa utama. Akan tetapi, teknologi peringatan dini hanyalah satu lapis pertahanan.
Lapisan lainnya, yakni masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan, tata ruang yang mempertimbangkan bahaya, jalur evakuasi yang benar-benar berfungsi, dan bangunan yang tidak berubah menjadi perangkap ketika tanah berguncang.
Rumah sakit harus diperiksa. Sekolah harus diperkuat. Rumah warga yang rentan harus diretrofit. Bangunan baru harus memenuhi standar. Jalur evakuasi harus jelas dan bebas hambatan. Latihan evakuasi harus dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah bencana terjadi.
Meski jalur evakuasi mungkin ada, warga bisa panik saat tak pernah berlatih. Dalam ancaman tsunami, waktu adalah keselamatan. Berjalan ke tempat tinggi jauh lebih masuk akal daripada terjebak di dalam mobil. Di sinilah makna sebenarnya kesiapsiagaan: tak sekadar memiliki sirene, aplikasi atau peta bahaya. Kesiapsiagaan, yakni saat seseorang mendengar gempa, otomatis tahu apa yang harus dilakukan.
Ancaman gempa-tsunami di Flores yang sifatnya berulang menuntut kesiapsiagaan jangka panjang. Kendati tidak diikuti tsunami, korban jiwa yang jatuh pada 2026 akibat tertimpa reruntuhan membuktikan perlunya tata ruang dan standar bangunan tahan gempa.
Artinya, regulasi zonasi permukiman yang menjauhkan area pada penduduk dengan garis pantai rawan harus terus dibarengi penegakan standar konstruksi tahan gempa. Selain itu jalur evakuasi dan penyelamatan permanen harus terus diupayakan kelayakannya.
Rentetan gempa bumi beruntun di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam beberapa hari terakhir, mengingatkan pentingnya membuat bangunan dengan konstruksi tahan gempa. Konsep bangunan tahan gempa itu sudah ada, tetapi dilupakan warga yang bermukim di daerah rawan gempa tersebut.
Dokumen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT menunjukkan kerusakan rumah tersebar di sejumlah kabupaten. Di Manggarai tercatat 29 rumah rusak berat, 9 rusak sedang, dan 9 rusak ringan. Di Manggarai Timur, 23 rumah di Desa Lenang dilaporkan hancur total. Sejumlah rumah lain rusak di berbagai desa.
Ini bukan berarti rumah tembok tak aman. Rumah bata atau beton dapat dirancang tahan gempa. Masalahnya, banyak rumah dibangun tanpa sistem struktur yang benar. Dinding bata tak diperkuat dengan baik, sambungan antara dinding dan struktur lemah, kualitas material buruk, atau bangunan didirikan tanpa mengikuti standar.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Don Gaspar da Costa, mengatakan, setelah gempa diikuti tsunami di Kabupaten Flores Timur dan Sikka pada 1992, pihaknya membuat panduan membangun bangunan tahan gempa. ”Tahan gempa itu bukan berarti tidak rusak, tapi proses kerusakan itu tidak langsung cepat dan mencelakakan penghuninya,” ujarnya.
Namun banyak warga mengabaikan konstruksi tahan gempa saat membangun rumah karena keterbatasan uang untuk membangun rumah dan minimnya pengetahuan ancaman bencana. Hal yang sama ditemukan dalam proyek infrastruktur pada bangunan pemerintah.
Padahal sebenarnya di Flores, masyarakat telah lama mengenal rumah dengan material lokal yang ringan dan lentur. Pengetahuan itu bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena rumah beton dianggap lebih modern. Saat gempa, warga yang rumahnya berbahan bambu dan papan relatif tahan terhadap gempa.
Cerita tentang rumah kayu dan bambu yang bertahan seharusnya mendorong kita melihat kembali pengetahuan konstruksi lokal yang selama ini kerap dianggap kuno. Jangan sampai, teknologi rumah kayu atau bambu yang tahan gempa justru dianggap tertinggal.






Komentar (0)