Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.598 gempa susulan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Senin (17/8) pukul 07.00 waktu setempat. Gempa susulan terbesar tercatat memiliki magnitudo 6,2.
Kepala BMKG Faisal Fathani mengatakan, dari ribuan gempa susulan tersebut, sekitar 54 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Sementara itu, gempa susulan dengan magnitudo terkecil tercatat sebesar 1,3.
"Ya, sampai dengan jam 7 pagi hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa," ujar Faisal di Istana Negara, Senin (17/8).
BMKG masih terus memantau perkembangan aktivitas gempa dan proses peluruhan gempa susulan di wilayah tersebut. Menurut Faisal, aktivitas gempa susulan diperkirakan akan berangsur menurun dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
"Kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh," ucapnya.
Dengan adanya proses peluruhan tersebut, BMKG memperkirakan upaya perbaikan bangunan yang terdampak maupun pembangunan kembali dapat mulai dilakukan sesuai kebutuhan dan hasil asesmen di lapangan.
Untuk menangani kondisi di NTT, BMKG telah mengerahkan tim ke lokasi. BMKG memiliki tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Pulau Flores serta dua pos pemantauan yang berada di wilayah tersebut.
Faisal menjelaskan, keberadaan personel di sejumlah lokasi memungkinkan respons terhadap kejadian gempa dapat dilakukan dengan cepat. BMKG juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tim SAR dalam penanganan dampak gempa.
"Staf BMKG sudah ada di lokasi, kita tersebar di 191 lokasi di Indonesia sehingga kita langsung bersama pemerintah daerah mengambil tindakan-tindakan penyelamatan, mendampingi BPBD, mendampingi tim SAR dan sebagainya," ujarnya.
BMKG memastikan pemantauan terhadap gempa susulan di NTT masih terus dilakukan untuk memberikan informasi terbaru kepada pemerintah dan masyarakat.






Komentar (0)