BMKG mencatat sebanyak 1.598 gempa susulan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala BMKG Faisal Fathani mengatakan BMKG masih memantau terus gempa susulan.
"Gempa susulan terus kita pantau, sebentar saya buka dulu ya informasi terakhir. Ya, sampai dengan jam 7.00 pagi hari ini telah tercatat 1598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa," kata Faisal di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026).
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan akan terus meluruh dalam 2-3 minggu ke depan. Dia mengatakan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gempa akan terus dilakukan.
"Tapi kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting atau perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan," ujarnya.
Dia mengatakan timnya telah bergerak ke sejumlah lokasi terdampak gempa di NTT. BMKG memiliki tiga UPT atau kantor di Pulau Flores serta dua pos yang berada di wilayah tersebut.
"Di NTT tim kita sekarang sudah bergerak ke lokasi. bahkan ada 3 UPT atau kantor BMKG yang ada di Pulau Flores dan juga ada dua pos kami di sana," ujarnya.
"Jadi ketika gempa terjadi memang ah staf BMKG sudah ada di lokasi, kita tersebar di 191 lokasi di Indonesia sehingga kita langsung bersama pementa daerah mengambil tindakan-tindakan ah penyelamatan, mendampingi BPBD, mendampingi tim SAR dan sebagainya," imbuh dia.
Diketahui, gempa bumi kuat mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8). Guncangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, hingga membuat ribuan warga harus mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan laporan jumlah korban dalam bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Disampaikan bahwa sebanyak 53 orang meninggal dunia, dan 135 orang terluka.
"Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian, Kabupaten Manggarai Barat, satu jiwa. Kabupaten Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai: 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa," ucap Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari, dalam konferensi pers, Minggu (16/8).
(amw/dhn)






Komentar (0)