Warga Kabupaten Aceh Tamiang Kini Bisa Mengakses Air Bersih Tanpa Harus Mengantre

jpnn.com
13 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, ACEH TAMIANG - Warga Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang kini sudah bisa mengakses air bersih, tanpa harus mengantre setelah bencana mengganggu akses air bersih.

Beroperasinya sumur bor di Masjid Simpang Lhee membuat kegiatan ibadah, kebersihan masjid, dan kebutuhan rumah tangga kembali berjalan.

BACA JUGA: Jasindo Syariah Hadirkan Perlindungan Khusus Bagi Perjalanan Umrah dan Haji

“Alhamdulillah sekarang air sudah mengalir lancar. Jamaah bisa beribadah dengan tenang, warga sekitar juga ikut merasakan manfaatnya, tidak perlu antre lagi. Kami berharap sumur ini terus dijaga dan berfungsi lama karena sangat membantu kami,” kata Aisyah Rahmi, salah satu warga di sana.

Bagi warga, tidak perlu mengantre air adalah bentuk kemajuan yang sangat konkret.

BACA JUGA: Perkuat Logistik Lintas Batas, ASDP Dorong Konektivitas RoRo Batam–Johor

Air yang tersedia membuat keluarga bisa memasak, membersihkan rumah, mandi, mencuci, dan beribadah dengan lebih tenang.

Sumur bor di Masjid Simpang Lhee merupakan salah satu dari 24 titik pengeboran yang dikerjakan untuk memulihkan akses air bersih di Aceh Tamiang.

BACA JUGA: Kisah Kru Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Dari Selat Hormuz ke Tanah Air

Sejumlah titik ditempatkan di lingkungan permukiman, fasilitas ibadah, kantor pelayanan, pesantren, dan sekolah agar manfaatnya menjangkau aktivitas masyarakat.

Harapan warga tersebut berjalan beriringan dengan penguatan infrastruktur air di berbagai wilayah.

Pada 10 Juli 2026, lima bendungan baru diresmikan secara serentak, yakni Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Rukoh dan Keureuto di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Kelima bendungan itu didukung jaringan irigasi sekitar 280 kilometer untuk melayani 39.540 hektare lahan pertanian.

Secara keseluruhan, kapasitas tampungnya mencapai sekitar 371 juta meter kubik dan menyediakan air baku sebesar 3,6 meter kubik per detik.

Di sekitar Bendungan Meninting, petani menyambut peluang meningkatnya pola tanam setelah pasokan air menjadi lebih terjamin.

Bagi keluarga petani, tambahan musim tanam berarti tambahan kesempatan memperoleh penghasilan dan menjaga kebutuhan rumah tangga.

Sementara itu, program berbasis masyarakat seperti PAMSIMAS dan P3-TGAI memperkuat peran warga dalam merencanakan, membangun, mengawasi, serta merawat sarana air.

Bagi Aisyah dan warga Manyak Payed, air yang tersedia menghadirkan rasa tenang setelah masa sulit.

Harapan mereka sederhana: fasilitas dijaga bersama, tetap berfungsi lama, dan manfaat serupa dapat dirasakan masyarakat di wilayah lain.

Semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui kebiasaan warga menggunakan air secara bijak, menjaga sumber air, merawat sumur dan jaringan perpipaan, tidak membuang sampah ke sungai, serta bergotong royong memperbaiki kerusakan kecil sebelum menjadi masalah besar.

Swasembada air bukan hanya capaian pembangunan fisik. Bagi masyarakat, swasembada air berarti memiliki kepastian bahwa air tetap tersedia pada musim hujan maupun kemarau dan dapat dikelola bersama untuk kehidupan hari ini serta generasi berikutnya.(chi/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Yessy Artada


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Obor Asian Games Aichi-Nagoya mulai perjalanan dari Tokyo
• 2 jam lalu
0
thumb
Hadiri HUT RI, Dewi Soekarno Kaget Lihat Banyak Perubahan di Istana
• 8 jam lalu
0
thumb
Peringati HUT ke-81 RI, Menko Airlangga Tegaskan Semangat Gotong Royong Mewujudkan Indonesia Makmur
• 5 jam lalu
0
thumb
Gempa NTT, Dapur Umum Kemensos Mulai Beroperasi di Nagekeo
• 36 menit lalu
0
thumb
Pernyataan Menko Polkam soal Penurunan Bendera Merah Putih di Aceh, Singgung Pidana
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.