Dahlan Iskan Bongkar Sisi Gelap Utang Pengusaha: Rp350 Miliar hingga 800 Cek Kosong

tvonenews.com
52 menit lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Utang kerap dianggap sebagai bahan bakar untuk memperbesar bisnis. Namun, bagi pengusaha yang pernah mengalaminya, utang juga bisa berubah menjadi beban ketika pertumbuhan usaha tidak sejalan dengan kemampuan membayar kewajiban.

Hal itu menjadi salah satu sorotan Dahlan Iskan dalam talk show bertajuk “75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang” yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, akhir pekan lalu.

Dalam diskusi tersebut, Dahlan mempertemukan sejumlah pengusaha yang pernah berada dalam tekanan utang hingga ratusan miliar rupiah. Mereka kemudian menceritakan bagaimana bisnis dibangun kembali setelah ketergantungan terhadap utang dihentikan.

Dahlan menyoroti pentingnya keberanian pengusaha melakukan pengereman ketika ekspansi mulai membebani kesehatan perusahaan.

“Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar Dahlan.

Talkshow '75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang.'
Sumber :
  • SyaREA World.

Utang yang Awalnya Jadi Mesin Pertumbuhan

Bagi sebagian pengusaha, utang pada awalnya memang menjadi pilihan untuk memperbesar bisnis. Modal tambahan dapat digunakan untuk menambah stok, membuka cabang, membeli aset hingga mengerjakan proyek dalam skala lebih besar.

Masalah muncul ketika penambahan utang terus dilakukan tanpa diikuti arus kas yang memadai.

Tri Dawang, pengusaha di bidang sistem teknologi informasi, mengaku pernah berada dalam kondisi tersebut. Pada 2021, bisnisnya masih memiliki banyak utang karena sebelumnya ia meyakini bahwa bisnis harus menggunakan utang agar dapat berkembang.

Namun setelah seluruh kewajibannya dilunasi, pandangannya berubah. Ia justru menemukan bahwa bisnis tetap bisa tumbuh melalui pengelolaan yang lebih disiplin tanpa harus terus menambah utang.

800 Cek Kosong hingga Beralih Menjadi Produsen

Kisah lebih ekstrem datang dari Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo.

Sebelum mengalami krisis, bisnis Syaikhul berkembang agresif. Ia pernah memegang distribusi produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di sejumlah wilayah Jawa hingga luar Jawa.

Namun ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi. Beban kewajiban terus membesar hingga Syaikhul pernah menerbitkan sekitar 800 kali cek kosong.

Pada 2018, setelah mendapat teguran keras dari ayahnya, ia memutuskan menghentikan ketergantungan terhadap perbankan dan mulai menyelesaikan kewajibannya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Bangun Posko Terpadu hingga Percepatan Rehab-Rekon Pasca Gempa Flores
• 6 jam lalu
0
thumb
Dari Prabowo hingga Kiai Pendiri NU, 100 Lukisan Wajah Tokoh Bakal Hiasi Muktamar ke-35 di Jombang
• 7 jam lalu
0
thumb
[FULL] Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera
• 9 jam lalu
0
thumb
Jelang HUT RI Ke-81, Ini 6 Ide Hadiah Lomba 17 Agustusan yang Dijamin Bermanfaat untuk Masyarakat
• 10 jam lalu
0
thumb
Update Dampak Gempa NTT: Lebih dari 5.000 Warga Bertahan di Pengungsian
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.