Jakarta, tvOnenews.com — Utang kerap dianggap sebagai bahan bakar untuk memperbesar bisnis. Namun, bagi pengusaha yang pernah mengalaminya, utang juga bisa berubah menjadi beban ketika pertumbuhan usaha tidak sejalan dengan kemampuan membayar kewajiban.
Hal itu menjadi salah satu sorotan Dahlan Iskan dalam talk show bertajuk “75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang” yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, akhir pekan lalu.
Dalam diskusi tersebut, Dahlan mempertemukan sejumlah pengusaha yang pernah berada dalam tekanan utang hingga ratusan miliar rupiah. Mereka kemudian menceritakan bagaimana bisnis dibangun kembali setelah ketergantungan terhadap utang dihentikan.
Dahlan menyoroti pentingnya keberanian pengusaha melakukan pengereman ketika ekspansi mulai membebani kesehatan perusahaan.
“Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar Dahlan.
- SyaREA World.
Utang yang Awalnya Jadi Mesin Pertumbuhan
Bagi sebagian pengusaha, utang pada awalnya memang menjadi pilihan untuk memperbesar bisnis. Modal tambahan dapat digunakan untuk menambah stok, membuka cabang, membeli aset hingga mengerjakan proyek dalam skala lebih besar.
Masalah muncul ketika penambahan utang terus dilakukan tanpa diikuti arus kas yang memadai.
Tri Dawang, pengusaha di bidang sistem teknologi informasi, mengaku pernah berada dalam kondisi tersebut. Pada 2021, bisnisnya masih memiliki banyak utang karena sebelumnya ia meyakini bahwa bisnis harus menggunakan utang agar dapat berkembang.
Namun setelah seluruh kewajibannya dilunasi, pandangannya berubah. Ia justru menemukan bahwa bisnis tetap bisa tumbuh melalui pengelolaan yang lebih disiplin tanpa harus terus menambah utang.
800 Cek Kosong hingga Beralih Menjadi Produsen
Kisah lebih ekstrem datang dari Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo.
Sebelum mengalami krisis, bisnis Syaikhul berkembang agresif. Ia pernah memegang distribusi produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di sejumlah wilayah Jawa hingga luar Jawa.
Namun ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi. Beban kewajiban terus membesar hingga Syaikhul pernah menerbitkan sekitar 800 kali cek kosong.
Pada 2018, setelah mendapat teguran keras dari ayahnya, ia memutuskan menghentikan ketergantungan terhadap perbankan dan mulai menyelesaikan kewajibannya.





Komentar (0)