Pemandangan unik dan tak biasa menghiasi permukiman warga di kawasan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Di saat mayoritas lingkungan berlomba-lomba mengecat jalanan dengan nuansa merah dan putih, para pemuda di wilayah ini justru memilih kombinasi warna yang kontras: kuning dan hitam.
Langkah kreatif anak-anak muda ini sontak menyedot perhatian warga maupun pengguna jalan yang melintas. Namun, opsi dekorasi jalanan yang tampil beda ini bukan sekadar untuk mencari perhatian atau sekadar bergaya. Di balik garis-garis tegas warna kuning dan hitam di sepanjang jalan gang tersebut, tersimpan pesan tersendiri.
Salah seorang tokoh warga setempat, Ririe, mengungkapkan bahwa keputusan memilih warna kuning dan hitam salah satunya didasari oleh pertimbangan etika serta rasa hormat yang tinggi terhadap simbol negara.
"Merah-Putih itu simbol kehormatan bangsa yang sakral. Menurut kami kurang tepat kalau dilukis di atas permukaan jalanan yang nantinya bakal dilintasi, digilas roda kendaraan, dan terinjak-injak oleh kaki manusia setiap hari," ujar Ririe.
Menurut Ririe dan warga sekitar, perlakuan terhadap warna bendera negara harus tetap dijaga kesuciannya. Melukiskan warna merah dan putih di tapak jalan dinilai berpotensi mengurangi rasa hormat karena secara tidak sengaja akan selalu terinjak oleh warga maupun pengendara yang lalu lalang.
Filosofi Warna Kuning-Hitam dan Dinamika KehidupanSelain menjaga marwah warna bendera, pemilihan warna kuning dan hitam ini ternyata menyimpan makna mendalam tentang perjalanan hidup manusia.
Warna kuning yang kerap diidentikkan dengan simbol duka atau peringatan dipadukan dengan warna hitam untuk mengingatkan bahwa roda kehidupan tidak pernah selalu berjalan mulus atau sekadar "putih" saja.
Menurut mereka, ada fase-fase gelap, duka, tantangan, dan dinamika hitam-kuning yang harus dijalani manusia dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Meski jalanan gang mereka tidak diwarnai cat merah-putih, semangat nasionalisme warga Pengasinan tetap membara. Semangat menyambut HUT RI disalurkan melalui cara lain yang tak kalah meriah dan elegan.
Bendera Merah Putih tetap berkibar megah di tiang-tiang rumah warga, berpadu dengan deretan umbul-umbul dan pernak-pernik khas 17-an yang terpasang rapi di sepanjang pemukiman. Kesakralan Sang Saka Merah Putih ditempatkan di posisi yang tinggi dan terhormat, bukan di darat untuk diinjak.






Komentar (0)