REPUBLIKA.CO.ID, LEBANON— Militer Israel mengumumkan telah membunuh seorang komandan Hizbullah di Lebanon selatan pada Sabtu (15/8/2026) dalam serangan udara yang menyasar wilayah Deir al-Zahrani.
Sementara itu, media Israel melaporkan bahwa Amerika Serikat meminta penjelasan kepada Tel Aviv menyusul eskalasi terbaru di Lebanon.
Baca Juga
Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus
Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
Dari Irak ke Iran, Mengapa Amerika Mengulangi Kesalahan Perang Panjang?
Dalam sebuah pernyataan, dikutip Aljazeera, Ahad (16/8/2026), militer Israel mengatakan telah membunuh seorang komandan senior Unit Badr yang merupakan bagian dari Hizbullah.
Komandan tersebut disebut bernama Abu Hasan Alaa. Menurut Israel, operasi itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan pesawat nirawak Hizbullah yang menargetkan pasukannya di Lebanon selatan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Militer Israel mengklaim bahwa tokoh yang menjadi sasaran tersebut selama beberapa tahun terakhir telah mengarahkan dan mendorong berbagai rencana serangan terhadap pasukan Israel.
Israel menyatakan pembunuhannya merupakan pukulan terhadap kemampuan operasional Unit Badr.
Israel meningkatkan serangan udaranya ke wilayah Lebanon selatan pada Sabtu. Serangan tersebut menewaskan 11 orang dan melukai 19 lainnya di kota Ansar dan Deir al-Zahrani, termasuk satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, serangan di Ansar yang menewaskan satu keluarga beranggotakan tujuh orang, termasuk tiga anak dan dua perempuan, merupakan serangan pertama yang mencapai wilayah sedalam itu sejak gencatan senjata diberlakukan dua bulan sebelumnya.
Komentar (0)