Keren! Dosen UMI dan Unhas Bantu Warga Desa Jangan-Jangan Barru Produksi Herbal Jasekeh

harianfajar
12 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, BARRU – Warga Desa Jangan-Jangan, Kabupaten Barru, kini punya alasan baru untuk optimis menyambut masa depan yang lebih sehat dan sejahtera.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang digagas tim dosen lintas fakultas dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Universitas Hasanuddin (Unhas), warga dibekali pengetahuan soal Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol, tiga penyakit yang kian akrab.

Masyarakat desa juga dilatih memproduksi sendiri kapsul obat herbal berbahan jahe, serai, dan cengkeh yang diberi nama Kapsul JaSeKeh.

Program ini melibatkan 40 kader dari dua kelompok mitra, yakni Kader Kesehatan dan Kader Tani, yang selama enam bulan terakhir digembleng lewat serangkaian pelatihan intensif dan berkolaborasi dengan pemerintah setempat

Empat orang pakar dari berbagai bidang keilmuan turun langsung membina warga, masing-masing membawa keahliannya sendiri-sendiri.

Racikan Herbal dari Kebun Sendiri

Prof. Masriadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI memimpin materi inti soal pencegahan dan pengobatan Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol, sekaligus mengajarkan kandungan serta cara penggunaan Kapsul Herbal JaSeKeh yang aman bagi tubuh.

“Kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat dibutuhkan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap mampu menciptakan dan mengubah pola pikir serta perilaku masyarakat agar memanfaatkan tanaman herbal sebagai penecegahan dan pengobatan penyakit, khususnya Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol,” ujar Prof. Masriadi, Jumat, (14/8/2026).

Ia menambahkan, warga tidak hanya diajarkan cara memeriksa kadar gula darah dan tekanan darah secara mandiri, tetapi juga cara membuat kapsul herbal JaSeKeh dari nol dan diajarkan memasarkan secara online.

Formulasinya dimulai dengan sediaan yang telah disiapkan mengikuti standar, lengkap dengan kemasan baru yang tengah diproses untuk mendapatkan izin edar BPOM dan sertifikasi halal MUI, agar produk ini nantinya bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

“Kami juga mendorong mitra menggunakan pembukuan keuangan berbasis IT, dengan harapan omset usaha mereka bisa meningkat hingga 100 persen,” katanya.

Dari Neraca Keuangan Digital hingga Desain Kemasan

Selain materi kesehatan, program ini juga menyentuh sisi kewirausahaan warga. Prof. Ramlah dari Fakultas Ekonomi Bisnis UMI yang membekali mitra dengan pelatihan pembukuan keuangan berbasis teknologi informasi.

Mulai dari cara mencatat stok, menginput hasil penjualan, hingga memantau keuntungan secara digital sebuah lompatan besar bagi kelompok usaha yang selama ini masih mengandalkan pencatatan manual.

Sementara itu, Dr. dr. Syahrijuita, M.Si dari Fakultas Kedokteran UNHAS turun tangan mendampingi mitra dalam merancang dan memodifikasi kemasan produk Kapsul JaSeKeh agar lebih menarik di mata konsumen, sekaligus melatih warga melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan tekanan darah secara mandiri.

Tak ketinggalan, Prof. Netty membimbing Kader Tani dalam memilih bibit tanaman yang unggul serta teknik menanam JaSeKeh yang baik dan benar.

Hal itu, kata Profesor dari Fakultas Pertanian UMI ini agar hasil kebun warga bisa naik kelas dari sekadar bahan bumbu dapur menjadi bahan baku obat herbal berkualitas. Seluruh rangkaian kegiatan ini turut dibantu oleh mahasiswa UMI yang terjun langsung mendampingi warga di lapangan.

Antusiasme Warga: dari Bertanya hingga Praktik Langsung

Semangat warga menjadi salah satu catatan tersendiri bagi tim pengabdi. Kader Kesehatan dan Kader Tani terlihat begitu antusias mengikuti setiap sesi, tidak sekadar duduk mendengarkan, tetapi aktif bertanya dan langsung terjun mempraktikkan apa yang diajarkan.

“Kader Kesehatan dan Kader Tani terlihat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat. Hal ini terlihat dengan banyaknya dari mereka yang bertanya dan langsung melakukan praktik pemeriksaan kadar gula darah, praktik pembuatan kapsul JaSeKeh, hingga praktik menanam tanaman obat herbal JaSeKeh,” ungkap Prof. Masriadi.

Ia menambahkan, para peserta juga mengaku mendapat banyak ilmu dan pengalaman baru, khususnya dalam hal pemeriksaan kadar gula darah, pembukuan berbasis IT, dan pembuatan kapsul herbal JaSeKeh — tiga keterampilan yang selama ini jarang mereka sentuh dalam keseharian sebagai petani dan kader desa.

Hasil Nyata: Tiga ribu Botol Kapsul Herbal Sudah Terjual

Program ini bukan sekadar seremoni pelatihan di atas kertas. Hasilnya sudah bisa dilihat: hingga saat ini, Kapsul JaSeKeh produksi warga Desa Jangan-Jangan telah berhasil dipasarkan sebanyak 1.000 botol, masing-masing berisi 60 kapsul. Angka ini menjadi bukti bahwa transfer ilmu dan keterampilan yang diberikan tim pengabdi benar-benar terserap dan dijalankan warga secara mandiri.

Lebih dari itu, warga kini juga sudah terampil melakukan deteksi dini terhadap gejala Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Kolesterol di lingkungan mereka sendiri — sebuah kemajuan penting mengingat ketiga penyakit ini kerap datang tanpa gejala yang disadari, namun berisiko menimbulkan komplikasi serius jika dibiarkan tanpa penanganan.

Dengan bekal pengetahuan kesehatan, keterampilan produksi herbal, serta kemampuan mengelola keuangan secara digital, Desa Jangan-Jangan kini melangkah lebih percaya diri menuju cita-cita besar mereka: menjadi desa yang mandiri dalam penyediaan obat herbal, sekaligus lebih sejahtera secara ekonomi dari hasil kebun sendiri.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang memasuki tahun ke-3 ini mendapatkan dana hibah dari Kementerian Tinggi, Sains dan Teknologi DIKTI dengan dukungan penuh dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM ) UMI. (adv)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Pimpin Renungan Suci di TMP Kalibata
• 5 jam lalu
0
thumb
BNPB Siagakan Helikopter Guna Percepat Distribusi Logistik di Lokasi Terdampak Gempa NTT
• 7 jam lalu
0
thumb
[FULL] Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera
• 14 jam lalu
0
thumb
Taufan Pawe: IKD Harus Mempermudah, Bukan Menghambat Penerima Bansos
• 5 jam lalu
0
thumb
Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Diabadikan dalam Mata Uang Rupiah
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.