Nasionalisme Merah Putih di Tengah Badai Bencana Alam

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Setiap Agustus, kita kembali berbicara tentang nasionalisme. Merah Putih dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan berbagai upacara digelar untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa.

Namun, nasionalisme memiliki wajah lain yang jauh lebih sunyi.

Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur, misalnya, masyarakat tidak membutuhkan slogan. Mereka membutuhkan pertolongan. Mereka membutuhkan makanan, layanan kesehatan, listrik, komunikasi, tempat tinggal, dan kepastian bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.

Di situlah nasionalisme menemukan maknanya yang paling nyata.

Nasionalisme bukan hanya tentang bagaimana kita mencintai Indonesia, tetapi bagaimana Indonesia hadir bagi rakyatnya ketika mereka berada dalam keadaan paling sulit.

Bencana Adalah Ujian bagi Sebuah Bangsa

Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Dampaknya dirasakan di sejumlah wilayah dan menimbulkan korban serta kerusakan.

Bencana semacam ini mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya negara kepulauan yang besar, tetapi juga negara dengan tantangan geografis yang kompleks.

Setiap wilayah memiliki karakteristik risiko yang berbeda.

Namun, satu hal seharusnya sama: warga negara harus mendapatkan perlindungan dan pertolongan ketika menghadapi keadaan darurat.

Di sinilah kemampuan sebuah negara diuji.

Bencana bukan hanya persoalan seberapa besar kerusakan yang terjadi. Ia juga menjadi ujian terhadap kecepatan birokrasi, koordinasi antarlembaga, kesiapan infrastruktur, distribusi bantuan, dan kemampuan pemerintah memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan dasar.

Karena itu, penanganan bencana sesungguhnya merupakan bagian dari pembangunan ketahanan nasional.

Ketika Negara Bergerak Cepat

Dalam situasi darurat, waktu memiliki arti yang berbeda.

Satu jam dapat menentukan keselamatan seseorang. Keterlambatan distribusi bantuan dapat memperburuk keadaan. Terputusnya komunikasi dapat membuat proses pencarian dan pertolongan menjadi jauh lebih sulit.

Karena itu, kecepatan respons negara menjadi sangat penting.

Dalam penanganan gempa NTT, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan tim gabungan untuk bergerak cepat. Sejumlah kementerian dan lembaga dikerahkan, termasuk BNPB, Basarnas, kementerian terkait, serta unsur BUMN seperti PLN, Telkom, Pertamina, dan Bulog. Pemerintah juga mengirimkan 50.000 paket sembako dari Bantuan Presiden menuju Maumere. [Sekretariat Negara]

Yang penting dari langkah tersebut bukan hanya jumlah bantuan yang dikirim.

Ada pesan yang lebih besar: negara harus mampu bergerak ketika masyarakat membutuhkan.

Presiden sebagai kepala pemerintahan memiliki peran penting dalam memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dapat berlangsung cepat. Dalam kondisi krisis, koordinasi semacam ini bukan sekadar persoalan administrasi pemerintahan.

Ia menyangkut keselamatan manusia.

Dan bagi masyarakat yang sedang berada di wilayah bencana, kehadiran negara bukan konsep abstrak. Ia dapat dirasakan melalui bantuan yang tiba, listrik yang kembali menyala, komunikasi yang terhubung, layanan kesehatan yang tersedia, dan aparat yang datang membantu.

Nasionalisme yang Bisa Dirasakan

Selama ini nasionalisme sering dipahami melalui simbol.

Bendera.

Lagu kebangsaan.

Upacara.

Seragam.

Pidato.

Semua itu penting sebagai identitas kebangsaan. Tetapi nasionalisme akan kehilangan maknanya jika berhenti sebagai simbol.

Nasionalisme harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat yang terdampak bencana, nasionalisme dapat berbentuk sangat sederhana: bantuan yang datang tepat waktu.

Bagi korban yang membutuhkan layanan kesehatan, nasionalisme dapat berbentuk tenaga medis yang hadir.

Bagi keluarga yang kehilangan rumah, nasionalisme dapat berbentuk dukungan untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Dan bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil, nasionalisme dapat berbentuk negara yang memastikan mereka tidak tertinggal dalam perlindungan dan pelayanan publik.

Dengan demikian, kehadiran negara merupakan salah satu bentuk paling konkret dari nasionalisme modern.

Gotong Royong dan Negara Harus Berjalan Bersama

Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat: gotong royong.

Setiap kali bencana terjadi, masyarakat biasanya bergerak dengan caranya masing-masing.

Relawan datang.

Dapur umum dibangun.

Donasi dikumpulkan.

Tenaga kesehatan turun.

Komunitas mengirimkan logistik.

Semua menunjukkan bahwa solidaritas masih menjadi kekuatan penting bangsa Indonesia.

Namun, gotong royong tidak seharusnya dipertentangkan dengan peran pemerintah.

Justru keduanya harus saling memperkuat.

Masyarakat memiliki kedekatan dengan kondisi di lapangan. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya untuk melakukan mobilisasi dalam skala nasional.

Ketika keduanya bekerja bersama, kemampuan bangsa menghadapi bencana menjadi jauh lebih besar.

Dalam konteks itulah koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam penanganan gempa NTT menjadi penting.

BNPB dan Basarnas memiliki tugas khusus dalam penanganan bencana dan pencarian korban. Kementerian kesehatan menangani aspek medis. Kementerian pekerjaan umum berkaitan dengan infrastruktur. Sementara BUMN seperti PLN, Telkom, Pertamina, dan Bulog memiliki peran dalam memastikan kebutuhan dasar dan layanan penting tetap berjalan.

Bencana akhirnya memperlihatkan bahwa Indonesia tidak bekerja melalui satu institusi.

Indonesia bekerja melalui sebuah ekosistem.

Dari Bantuan Darurat Menuju Ketahanan

Namun, respons cepat hanyalah satu bagian dari persoalan.

Setelah bantuan datang dan keadaan darurat berakhir, pekerjaan yang lebih panjang dimulai.

Rumah harus dibangun kembali.

Fasilitas umum harus dipulihkan.

Anak-anak harus kembali bersekolah.

Perekonomian masyarakat harus dihidupkan.

Dan yang tidak kalah penting, risiko bencana berikutnya harus dikurangi.

Karena itu, pembangunan Indonesia ke depan harus berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan bencana.

Infrastruktur tidak cukup hanya kokoh secara fisik. Ia harus dirancang dengan memperhitungkan risiko.

Pembangunan tidak cukup hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Ia juga harus meningkatkan keamanan dan kualitas hidup masyarakat.

Digitalisasi tidak cukup hanya mempercepat layanan. Teknologi juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat sistem peringatan dini dan komunikasi kebencanaan.

Dengan kata lain, membangun Indonesia berarti sekaligus membangun kemampuan Indonesia menghadapi krisis.

Bencana Mengajarkan Arti Persatuan

Ada pelajaran lain yang sering muncul ketika bencana terjadi.

Bencana tidak mengenal perbedaan politik.

Gempa tidak bertanya siapa pilihan politik seseorang.

Banjir tidak membedakan latar belakang sosial.

Tanah longsor tidak mengenal batas administratif.

Ketika bencana datang, kita kembali menjadi satu: warga Indonesia.

Karena itu, bencana sebenarnya mengingatkan kita tentang sesuatu yang sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan adalah kenyataan.

Tetapi persatuan adalah pilihan.

Kita boleh berbeda pandangan mengenai banyak hal. Namun ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, perbedaan tersebut seharusnya tidak menghalangi kerja bersama.

Negara hadir.

Masyarakat bergerak.

Dunia usaha membantu.

Relawan bekerja.

Media menyebarkan informasi.

Semua bertemu dalam satu tujuan: menyelamatkan manusia.

Kemerdekaan yang Terasa

Menjelang 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kita kembali akan mengibarkan Merah Putih di berbagai penjuru negeri.

Tetapi bagi masyarakat yang sedang menghadapi bencana, makna kemerdekaan mungkin terasa jauh lebih sederhana.

Kemerdekaan adalah ketika mereka merasa aman.

Kemerdekaan adalah ketika pertolongan datang.

Kemerdekaan adalah ketika anak-anak dapat kembali bersekolah.

Kemerdekaan adalah ketika kehidupan ekonomi perlahan pulih.

Dan kemerdekaan adalah ketika seorang warga negara mengetahui bahwa negara tidak meninggalkannya ketika keadaan menjadi sulit.

Di sinilah pembangunan negara dan nasionalisme bertemu.

Sebuah negara tidak hanya dinilai dari gedung-gedung tinggi, jalan raya, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi.

Negara juga dinilai dari kemampuannya melindungi manusia yang paling rentan.

Respons cepat terhadap gempa NTT menunjukkan pentingnya kapasitas tersebut. Bukan berarti seluruh persoalan bencana selesai hanya dengan mengirim bantuan. Tetapi langkah cepat, koordinasi lintas lembaga, dan mobilisasi sumber daya menunjukkan bahwa kehadiran negara dapat menjadi bagian penting dari ketahanan masyarakat ketika menghadapi krisis.

Nasionalisme yang Bekerja

Mungkin sudah waktunya kita memahami nasionalisme dengan cara yang lebih sederhana.

Nasionalisme tidak selalu harus berisik.

Ia tidak selalu membutuhkan pidato panjang.

Seorang relawan yang membantu korban adalah nasionalis.

Seorang petugas yang bekerja sepanjang malam adalah nasionalis.

Seorang tenaga kesehatan yang tetap melayani pasien adalah nasionalis.

Masyarakat yang menyumbangkan sebagian penghasilannya adalah nasionalis.

Dan pemerintah yang mampu memastikan negara bergerak cepat ketika rakyat membutuhkan juga sedang menjalankan bentuk nasionalisme yang paling konkret.

Sebab pada akhirnya, nasionalisme bukan hanya hubungan antara warga negara dan simbol-simbol negara.

Nasionalisme adalah hubungan antara manusia dengan manusia, dan antara negara dengan rakyatnya.

Ketika satu bagian Indonesia terluka, bagian Indonesia yang lain tidak boleh berpaling.

Itulah sebabnya bencana, meskipun membawa kesedihan, juga dapat mengingatkan kita pada kekuatan yang selama ini menjadi fondasi bangsa: persatuan, gotong royong, dan kehadiran negara.

Menjelang usia 81 tahun kemerdekaan, mungkin itulah nasionalisme yang paling relevan untuk kita rawat.

Bukan sekadar bangga menjadi Indonesia, tetapi memastikan Indonesia hadir dan saling menjaga ketika salah satu dari kita sedang menghadapi badai.

Karena bangsa yang kuat bukan bangsa yang tidak pernah diterpa bencana.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu bergerak bersama ketika bencana datang.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Petugas Damkar di Jakut Meninggal Usai Kecelakaan saat Pulang Piket
• 21 jam lalu
0
thumb
Tanda Kamu Orang yang Selektif Secara Sosial
• 5 jam lalu
0
thumb
Polisi Pastikan Situasi Surabaya Aman Pasca-pelemparan Bom Molotov
• 51 menit lalu
0
thumb
Gempa Besar NTT, 5 Ribu Warga Berada di Pengungsian
• 4 jam lalu
0
thumb
Piala Kemerdekaan Kecamatan Rilau Ale Bulukumba: Bontomanai vs Bonto Lohe Bertemu di Final
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.