REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia memiliki benang merah sejarah serta spiritualitas yang sangat erat.
Kedua momen besar ini sama-sama berakar pada nilai-nilai perjuangan pantang menyerah, kebangkitan moral, rasa syukur yang mendalam atas nikmat dan karunia Allah SWT, serta tekad kuat untuk membebaskan diri dari segala bentuk belenggu penindasan.
Baca Juga
Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus
Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Dr Serian Wijatno, dalam pandangan refleksinya menyambut momentum bersejarah tersebut, di Jakarta, Ahad (16/8/2026).
Menurut Bendahara Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini, kemerdekaan bangsa dari cengkeraman penjajahan fisik dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW memiliki misi luhur yang sejalan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Perjuangan itu, menurut dia, bertumpu pada cita-cita memerdekakan harkat dan martabat manusia dari ketidakadilan sosial, kebodohan moral, krisis akhlak, serta kesenjangan kemanusiaan.
Dia menyebut, spirit Perjanjian Hudaibiyyah maupun Piagam Madinah yang digagas Rasulullah SAW telah lama menjadi bukti nyata bagaimana prinsip kesetaraan, keadilan, dan persatuan dibangun di atas keberagaman.
Dia menegaskanm, nNilai pengorbanan serta keteguhan para pahlawan kemerdekaan dalam merebut kedaulatan bangsa mencerminkan betapa gigihnya perjuangan Rasulullah SAW saat menegakkan kebenaran di muka bumi.
"Selain itu, kata dia, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil 'alamin beriringan dengan hakikat kemerdekaan Republik Indonesia.
"Pembukaan UUD 1945 secara tegas dinyatakan sebagai rahmat dan nikmat besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri, dirawat, serta dijaga oleh seluruh elemen bangsa," kata dia.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) ini menekankan keberhasilan membebaskan Tanah Air dari penjajahan fisik tidak boleh berhenti pada batas kedaulatan wilayah semata.
Komentar (0)