PADANG, KOMPAS — Polda Aceh memastikan situasi di provinsi itu terkendali dan kondusif setelah kericuhan saat acara peringatan Hari Damai Aceh (HDA) ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Masyarakat pun diajak merawat perdamaian dan persatuan.
“Pelaksanaan zikir pada peringatan HDA ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman telah selesai. Walaupun sempat terjadi kericuhan saat acara zikir, situasi dapat segera dikendalikan dan tetap kondusif,” kata Kepala Bidang Humas Polda Aceh Komisaris Besar Joko Krisdiyanto, dikutip dari siaran pers, Minggu (16/8/2026).
Menurut Joko, TNI-Polri dan seluruh pihak bekerja sama dalam menenangkan situasi. Ia pun mengapresiasi kesadaran masyarakat yang turut serta membantu meredam kericuhan sehingga keadaan kembali kondusif dan terkendali.
Joko menyatakan, TNI-Polri melakukan patroli rutin yang ditingkatkan dan terus hadir bersama masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Aceh. Ia pun berharap seluruh elemen masyarakat ikut mengambil peran menjaga kondisi Bumi Serambi Mekah agar tetap aman, damai, dan kondusif.
Seluruh masyarakat Aceh juga diajak untuk terus menjaga suasana damai yang telah terbangun. Peringatan HDA, kata Joko, hendaknya jadi pengingat akan pentingnya merawat perdamaian melalui kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga ketertiban di tengah masyarakat.
“Perdamaian adalah milik kita bersama. Mari kita rawat dengan menjaga persatuan, menghormati sesama, dan bersama-sama menciptakan Aceh yang damai serta kondusif,” kata Joko.
Sebelumnya, acara zikir dan doa bersama dalam rangka peringatan HDA Ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman, Aceh, Sabtu (15/8/2026) siang, diwarnai kericuhan. Peristiwa itu diduga dipicu aksi massa yang mengibarkan bendera bulan bintang di halaman masjid tersebut.
Berdasarkan laporan Kompas.com dan keterangan warga, kericuhan itu berawal saat massa yang merupakan ratusan warga dari sejumlah daerah hendak menaikkan atau mengibarkan bendera bulan bintang di perkarangan tersebut.
Di tengah kerumunan massa tersebut, seorang warga memanjat tiang bendera masjid. Dia lalu membuka tali ikatan bendera Merah Putih dan melemparkannya ke bawah. Hal itu sontak memancing reaksi dari aparat TNI-Polri, tetapi upaya aparat membubarkan massa mendapatkan perlawanan. Bentrokan pun terjadi.
Warga Banda Aceh, Ibrahim (37), yang berada di sekitar lokasi, Sabtu, mengatakan, massa datang dengan membawa atribut bendera bulan bintang. Mereka sempat menyampaikan orasi yang berisi sejumlah kekecewaan terhadap pemerintah, salah satunya gagal memulihkan Aceh seusai dilanda bencana hidrometeorologi pada akhir tahun lalu.
Setelah orasi tersebut, massa melakukan aksi untuk mengibarkan bendera bulan bintang di sejumlah tempat di perkarangan masjid, termasuk di tiang bendera. Aksi itu yang akhirnya memicu terjadi bentrokan antara massa dan aparat.
”Sangat disayangkan, kondisi ini terjadi saat kita sedang memperingati Hari Damai Aceh. Semoga massa bisa segera ditenangkan dan aparat bisa melakukan pendekatan dengan baik. Jangan sampai konflik Aceh terulang lagi,” kata Ibrahim.
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah saat tanya-jawab dengan awak media menyebutkan, perdamaian Aceh harus dipertahankan.
Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka itu menilai, konflik yang pernah terjadi tidak memberikan keuntungan bagi siapa pun. Dia menyebut, dampak konflik berkepanjangan telah menyebabkan perekonomian Aceh terpuruk.
Semoga massa bisa segera ditenangkan dan aparat bisa melakukan pendekatan dengan baik. Jangan sampai konflik Aceh terulang lagi
Fadhullah yang karib disapa Dek Fadh pun mengajak semua pihak menjaga perdamaian agar Aceh bisa menjadi lebih baik.
”Konflik tidak memberikan keuntungan bagi kita semua. Karena konflik, ekonomi Aceh menjadi tertinggal dari provinsi lain. Karena itu, kita harus menjaga perdamaian agar kita bisa membangkitkan perekonomian Aceh,” ujarnya.






Komentar (0)