Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 72,873 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan aksi net sell juga berlanjut dengan nilai cukup besar. Adapun pada perdagangan sepekan 10-14 Agustus 2026 aksi jual investor asing mencapai Rp 1,58 triliun.
"Investor asing pada Jumat (14/8) mencatatkan nilai jual bersih Rp 1,034 triliun dan sepanjang tahun 2026 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 72,873 triliun," kata Kautsar dalam keterangan BEI, yang dikutip Minggu (16/8).
Berdasarkan data perdagangan BEI, investor asing mencatatkan nilai pembelian sekitar Rp 21,59 triliun sepanjang pekan, sedangkan nilai penjualan mencapai Rp 23,17 triliun. Dengan demikian, net sell asing selama sepekan mencapai sekitar Rp 1,58 triliun.
Tekanan aksi jual investor asing tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah tipis. IHSG ditutup pada level 6.401,888 pada Jumat (14/8), turun 0,12% dari posisi 6.409,654 pada akhir pekan sebelumnya.
Sepanjang pekan, IHSG bergerak pada rentang 6.230,097 hingga 6.462,738. Meskipun ditutup melemah, kapitalisasi pasar BEI justru meningkat 0,28% menjadi Rp 11.243 triliun dari Rp 11.212 triliun pada pekan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan saham juga mengalami penurunan. Rata-rata nilai transaksi harian turun 1,07% menjadi Rp 15,21 triliun dari Rp 15,38 triliun pada pekan sebelumnya.
Rata-rata volume transaksi harian turun 14,86% menjadi 34,01 miliar saham dari 39,95 miliar saham. Sementara rata-rata frekuensi transaksi harian turun 9,67% menjadi 2,09 juta transaksi dari 2,32 juta transaksi pada pekan sebelumnya.
"Data perdagangan saham di BEI selama periode 10-14 Agustus 2026 ditutup dengan kinerja yang bervariasi," ujar Kautsar.
Di tengah tekanan aksi jual asing, sejumlah saham masih menjadi penopang pergerakan IHSG sepanjang pekan.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi kontributor positif terbesar terhadap IHSG dengan sumbangan 37,48 poin. Harga saham BYAN melonjak 19,01% sepanjang pekan.
Selanjutnya, SRAJ memberikan kontribusi positif 9,33 poin setelah menguat 15,16%. MPRO menyumbang 7,09 poin, ISAT sebesar 4,48 poin, dan CUAN sebesar 4,08 poin.
Sebaliknya, sejumlah saham menahan laju IHSG. PT Astra International Tbk (ASII) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 13,03 poin setelah harga sahamnya turun 6,27%. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pemberat terbesar kedua dengan kontribusi -8,30 poin setelah terkoreksi 3,32%.
Pemberat berikutnya adalah IMPC dengan kontribusi -5,72 poin, BMRI -5,71 poin, dan AMMN -5,48 poin. Saham TPIA, BRPT, BBCA, BUMI, dan NSSS juga memberikan tekanan terhadap IHSG.
Secara sektoral, sektor transportasi dan logistik mencatatkan penguatan terbesar sepanjang pekan, yakni 5,19%. Sektor infrastruktur naik 2,97%, sedangkan sektor kesehatan menguat 2%.
Sementara sektor industri menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 5,14%. Sektor konsumer non-primer turun 1,98%, konsumer primer 1,85%, dan teknologi 1,39%.
Adapun aktivitas investor asing sepanjang pekan menunjukkan nilai transaksi jual lebih besar dibandingkan transaksi beli. Data BEI mencatat investor asing melakukan pembelian saham senilai Rp21,586 triliun dan penjualan Rp23,167 triliun.
Dengan demikian, tekanan dari investor asing masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pergerakan pasar saham domestik, meskipun sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham lainnya masih mampu menjadi penopang IHSG.





Komentar (0)