REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Digitalisasi UMKM tidak hanya berlangsung melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik, tetapi mulai diterapkan pada kemasan produk. Kemasan dengan kode QR dapat menghubungkan produk fisik dengan informasi usaha dan kanal penjualan digital.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan Universitas YARSI dan Universitas Krisnadwipayana melalui dukungan pendanaan BIMA Kemendiktisaintek 2026. Program ini menyasar POKLAHSAR NaminaSang Farm di Desa Mandalamekar, Kabupaten Bandung.
Baca Juga
Sinergi PNM dan OJK Perkuat Bekal UMKM Perempuan Aceh Naik Kelas
Produk Bagus Saja tak Cukup, Ini Tantangan UMKM di Era Digital
Koffiku: Dukungan Pameran Pertamina Bikin UMKM Lebih Bersemangat
Program yang berlangsung selama delapan bulan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa lintas program studi. Kegiatan memadukan pengembangan teknologi informasi, pengemasan produk, serta pemasaran digital untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan kanal penjualannya.
Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas YARSI Rini Hidayati mengatakan, penerapan kode QR pada kemasan dapat memperluas fungsi kemasan dari sekadar pelindung produk menjadi media informasi sekaligus penghubung ke kanal digital.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Melalui smart packaging yang terintegrasi dengan QR Code, kemasan tidak hanya menjadi identitas produk, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk menuju informasi digital dan kanal pemasaran yang dimiliki mitra,” ujar Rini, Sabtu (15/8/2026).
Tahap awal program difokuskan pada pembuatan kemasan yang terintegrasi dengan kode QR. Mitra mendapatkan pelatihan mengenai konsep kemasan digital dan cara menghubungkan kode tersebut dengan informasi produk.
Tahap berikutnya mencakup pelatihan pembuatan kode QR dan pengelolaan informasi digital. Informasi yang ditampilkan dapat mencakup profil produk, profil usaha, serta informasi lain yang dibutuhkan konsumen.
Pada tahap ketiga, kode QR pada kemasan dihubungkan dengan situs perdagangan elektronik milik mitra. Dengan sistem tersebut, konsumen yang memindai kode dapat berpindah dari informasi produk pada kemasan menuju kanal digital tempat produk ditawarkan.
Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam pengembangan teknologi, pengelolaan informasi digital, pengemasan, hingga pemasaran berbasis perdagangan elektronik. Keterlibatan lintas disiplin tersebut menjadi bagian dari proses penerapan pengetahuan perguruan tinggi untuk kebutuhan usaha di masyarakat.
Bagi UMKM, penggunaan kode QR pada kemasan dapat membuka kanal komunikasi langsung dengan konsumen tanpa harus mengubah produk fisik menjadi media promosi semata. Informasi yang terhubung melalui kode tersebut juga dapat diperbarui melalui kanal digital.
Program tersebut selanjutnya akan memasuki tahap monitoring dan evaluasi hingga akhir Desember 2026 untuk melihat penerapan teknologi dan keberlanjutan penggunaannya oleh mitra.
Penerapan teknologi pada kemasan menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM dapat dimulai dari titik interaksi yang langsung ditemui konsumen. Tantangannya kemudian adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan secara konsisten dan menghasilkan manfaat bagi kegiatan usaha.
Komentar (0)