Data Keanekaragaman Hayati Didorong Jadi Dasar Penataan Kota Tangerang

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Tangerang: Upaya menjaga kualitas lingkungan perkotaan tidak hanya berkaitan dengan luas ruang terbuka hijau (RTH). Keberadaan flora, fauna, serta kualitas ekologis di dalamnya juga dinilai penting untuk menjadi pertimbangan dalam merancang pembangunan kota.

Karena itu, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) mendorong Pemerintah Kota Tangerang memperkuat basis data keanekaragaman hayati sebagai salah satu rujukan dalam perencanaan ruang dan pengambilan kebijakan pembangunan.

"Kita tidak bisa mengelola sesuatu yang tidak kita ketahui. Pemkot Tangerang perlu memiliki basis data keanekaragaman hayati agar setiap keputusan pembangunan dapat mempertimbangkan apa yang ada, apa yang penting untuk dipertahankan, mana spesies yang lokal dan asing/invasif, hingga apa yang mulai terancam hilang," kata Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Baca Juga :

Kabel Semrawut di Karawang Bakal Dipindah ke Bawah Tanah
 
Christian menjelaskan keberadaan taman dengan area yang luas belum tentu menggambarkan tingginya keanekaragaman hayati. Kualitas ekologis sebuah ruang terbuka juga dipengaruhi oleh keberadaan spesies lokal, habitat yang sesuai, serta kemampuannya mendukung rantai makanan.

Menurut dia, data biodiversitas perlu ditempatkan sebagai bagian dari aset daerah dan dipertimbangkan dalam berbagai dokumen perencanaan, seperti RPJMD, RTRW, hingga penyusunan alokasi anggaran.

"Langkah ini juga sejalan dengan target Indonesia Biodiversity Strategi and Action Plan IBSAP 2025–2045, yang menargetkan persentase ruang terbuka hijau dan biru publik di perkotaan mencapai 30 persen pada 2045," jelas Christian.


Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) tengah melakukan inventarisasi data keanekaragaman hayati di Kota Tangerang. Metrotvnews.com/ Hendrik Simorangkir.

Upaya pemetaan keanekaragaman hayati di Kota Tangerang dilakukan di sejumlah ruang terbuka hijau dan biru, antara lain Taman Gajah, Taman Cikokol, Taman Potret, dan Taman Bambu.

Dalam proses tersebut, Yayasan KEHATI menggunakan pendekatan partisipatif atau citizen science. Masyarakat, komunitas, dan akademisi dilibatkan untuk mencatat serta mengidentifikasi berbagai jenis flora dan fauna yang ditemukan di lingkungan sekitar.

"Citizen science memberi kita dua hal sekaligus, yakni data dan kepedulian. Ketika warga ikut mengidentifikasi burung, pohon, atau kupu-kupu di sekitar mereka, jadinya bukan hanya membantu mengisi basis data, tetapi juga mulai melihat ruang terbuka sebagai habitat bernilai," ungkap Christian.

Baca Juga :

Pramono Berharap Jakarta jadi Pusat Destinasi Sport Tourism
 
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melihat ruang terbuka tidak hanya sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem perkotaan yang memiliki fungsi ekologis.

Christian berharap model pengelolaan urban biodiversity di Kota Tangerang dapat menjadi pembelajaran yang bisa diterapkan di daerah lain. Dengan begitu, pengembangan kawasan perkotaan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberagaman hayati dan kualitas lingkungan.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
YouTube Naikkan Syarat Monetisasi, Kreator Shorts Harus Raih 20 Juta Views
• 1 jam lalu
0
thumb
TNI Gerebek Honai di Intan Jaya, Temukan Senjata Rakitan hingga Bendera OPM
• 11 jam lalu
0
thumb
Rhoma Irama Kembali Guncang Panggung Malaysia setelah Absen Sekitar 20 Tahun
• 1 jam lalu
0
thumb
Bank Sumsel Babel Bekali Mahasiswa Baru Universitas Sriwijaya untuk Siap Hadapi Dunia Kerja
• 19 jam lalu
0
thumb
BPBD Jatim Kirim Personel Tim Reaksi Cepat Bantu Korban Gempa NTT
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.