Belajar dari Gempa NTT: Bahasa, Bencana, dan Pengetahuan yang Menyelamatkan Nyawa

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

INDONESIA kembali diingatkan bahwa hidup di negeri cincin api berarti harus hidup berdampingan dengan ketidakpastian.

Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur.

Episenternya berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Karena kekuatan dan kedalamannya, gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Nusa Tenggara dan Sulawesi.

Beberapa pengamatan kemudian mencatat kenaikan muka air laut, antara lain 0,14 meter di Alor hingga 0,94 meter di Maurole, Ende.

BMKG akhirnya mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB, tetapi tetap mengingatkan masyarakat mewaspadai gempa susulan dan memeriksa bangunan yang mengalami kerusakan.

Dalam situasi seperti itu, ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan selain angka magnitudo, kedalaman gempa, lokasi episenter, atau tinggi gelombang tsunami.

Beberapa menit setelah gempa terjadi, ruang publik segera dipenuhi oleh pesan, peringatan, video, potongan informasi, imbauan, dan berbagai bentuk komunikasi lain.

Baca juga: Siapa Mau Jadi ASN?

Orang-orang bertanya apakah tsunami benar-benar terjadi, daerah mana yang harus mengungsi, apakah sirene sudah berbunyi, dan apakah informasi yang beredar di media sosial dapat dipercaya.

Dalam keadaan darurat, bahasa tiba-tiba menjadi sesuatu sangat konkret.

Ia bukan lagi sekadar alat untuk menjelaskan apa yang terjadi, melainkan bagian dari keputusan tentang apakah seseorang akan tetap berada di tempatnya, berlari menuju tempat tinggi, atau menunggu beberapa menit yang mungkin sangat berharga.

Setiap kali bencana terjadi, perhatian publik hampir selalu tertuju pada teknologi.

Kita membicarakan sensor, sistem peringatan dini, satelit, pemodelan tsunami, aplikasi kebencanaan, dan kemampuan lembaga negara mendeteksi gempa dalam hitungan menit.

Semua itu memang penting. Indonesia membutuhkan teknologi kebencanaan yang semakin cepat dan semakin akurat karena beberapa detik bahkan dapat menentukan keselamatan seseorang.

Namun, di balik seluruh kecanggihan tersebut, ada satu pertanyaan sering luput diajukan: apa gunanya informasi sangat cepat apabila masyarakat tidak memahami apa yang harus dilakukan?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan lebih dalam.

Mitigasi bencana selama ini sering dibayangkan sebagai persoalan teknologi: bagaimana mendeteksi ancaman lebih cepat, bagaimana mengirimkan peringatan lebih luas, dan bagaimana menyediakan infrastruktur evakuasi lebih baik.

Padahal, di antara ancaman yang terdeteksi oleh mesin dan tindakan manusia terdapat satu jembatan tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun: bahasa.

Informasi harus diberi makna sebelum dapat menghasilkan tindakan, dan makna selalu bekerja melalui bahasa.

Bayangkan sebuah peringatan yang berbunyi, “Gempa bumi berpotensi tsunami.” Secara administratif dan ilmiah, kalimat tersebut cukup untuk menyampaikan adanya ancaman.

Namun, pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apakah masyarakat yang membaca pesan itu langsung mengetahui apa yang harus dilakukan?

Apakah mereka memahami bahwa jika berada di wilayah pesisir, mereka perlu bergerak menuju tempat yang lebih tinggi?

Apakah mereka tahu bahwa mereka tidak perlu menunggu air laut surut untuk mulai menyelamatkan diri?

Di sinilah kita melihat, menyampaikan informasi tidak selalu sama dengan menyampaikan pemahaman.

Perbedaan antara informasi dan pemahaman tersebut sangat penting dalam komunikasi kebencanaan.

Sebuah pesan dapat benar secara ilmiah, tetapi belum tentu efektif secara sosial.

Bahasa yang digunakan oleh lembaga teknis memiliki kebutuhan presisi tertentu, sementara masyarakat yang menerima pesan memiliki kebutuhan yang berbeda: mereka membutuhkan informasi yang dapat dipahami dengan cepat, dipercaya, dan diterjemahkan menjadi tindakan.

Dalam keadaan normal, kegagalan memahami sebuah istilah mungkin hanya menghasilkan kebingungan.

Dalam keadaan bencana, kebingungan dapat berubah menjadi keterlambatan, dan keterlambatan dapat berujung pada korban.

Persoalan ini dapat dijelaskan melalui apa yang dalam kajian komunikasi risiko disebut sebagai risk communication, yakni proses menyampaikan informasi mengenai ancaman dengan cara yang memungkinkan masyarakat memahami risiko dan mengambil keputusan.

Komunikasi risiko efektif bukan sekadar memindahkan informasi dari lembaga kepada masyarakat.

Ia harus mempertimbangkan siapa penerimanya, bagaimana mereka memahami ancaman, bahasa apa yang mereka gunakan, seberapa besar kepercayaan mereka terhadap sumber informasi, dan tindakan apa yang diharapkan setelah pesan diterima.

Dengan demikian, komunikasi bukan tahap tambahan setelah teknologi bekerja. Komunikasi merupakan bagian dari sistem mitigasi itu sendiri.

Masalahnya, komunikasi kebencanaan sering kali masih terjebak pada bahasa yang berorientasi pada informasi, bukan tindakan. Istilah seperti magnitudo, hiposenter, sesar naik, deformasi, megathrust, atau potensi tsunami memiliki fungsi penting dalam komunikasi ilmiah.

Namun, masyarakat yang sedang berada di tengah guncangan tidak sedang mengikuti kuliah geofisika.

Baca juga: Menteri Agama dan Anomali Survei Kabinet

Mereka membutuhkan jawaban atas pertanyaan jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih mendesak: Apakah saya harus pergi? Ke mana saya harus pergi? Kapan saya harus pergi?

Di sinilah prinsip plain language menjadi penting. Bahasa yang sederhana bukan berarti bahasa yang tidak ilmiah.

Penyederhanaan bahasa justru dapat menjadi bentuk tanggung jawab ketika informasi ditujukan kepada masyarakat dalam kondisi yang membutuhkan keputusan cepat.

Kalimat “Segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi” mungkin tidak menjelaskan mekanisme sesar atau dinamika gelombang tsunami.

Jika kalimat itu membuat seseorang bergerak pada saat yang tepat, maka bahasa tersebut telah menjalankan fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar menjelaskan fenomena alam.

Karena itu, persoalan komunikasi bencana bukan memilih antara bahasa ilmiah dan bahasa awam.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Yang dibutuhkan adalah jembatan di antara keduanya. Ilmu pengetahuan harus tetap memiliki ketepatan, tetapi ketepatan itu harus dapat diterjemahkan ke dalam pesan yang operasional.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PKKMB Fakultas Teknik UNM 2026 Hadirkan Wali Kota Makassar dan Kaur Bin Ops Sat Binmas, Bekali Mahasiswa dengan Semangat Kreatif, Inovatif, dan Kolaboratif
• 17 jam lalu
0
thumb
Berita Runner Up Mis Grand Indonesia hingga sistem Perlinsos digital
• 21 menit lalu
0
thumb
Geger Harta Karun Emas 30.000 Ton di Banten Dirampok Asing
• 15 jam lalu
0
thumb
Gempa NTT M 7,7 Berpotensi Tsunami, Ini Daftar Wilayah yang Siaga dan Waspada
• 19 jam lalu
0
thumb
Menkes Ungkap Efisiensi Pengadaan Alkes Capai 52%: Penghematan Rp 10,25 T
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.