Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai lonjakan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berpotensi menimbulkan gejolak di tubuh Partai Gerindra.
Menurut Jamiluddin, jika tren positif tersebut berlanjut, Gerindra bisa merasa tidak nyaman memiliki kader dengan elektabilitas lebih tinggi dari ketua umumnya, Prabowo Subianto.
"Kader seperti itu bisa saja akan diasingkan di internal Gerindra. Dedi bisa saja tidak diberi peran strategis di Gerindra," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Minggu (16/8).
Jika benar terjadi pengasingan, Jamiluddin menilai Dedi tidak akan tinggal diam. Rekam jejaknya yang pernah berpindah dari Golkar ke Gerindra menunjukkan bahwa pindah partai bukan hal tabu baginya.
"Kalau hal itu terjadi, bisa saja Dedi akan melakukan perlawanan. Dedi bisa saja berlabuh ke partai lain untuk mewujudkan ambisi politik," ujar Jamiluddin.
Jamiluddin menambahkan, wacana Presidential Threshold nol persen akan semakin membuka peluang manuver politik. Dalam skenario itu, Dedi bisa saja mencari dukungan baru dan berkoalisi dengan Anies Baswedan.
"Salah satunya bisa saja Dedi bergabung dengan Anies Baswedan untuk maju pada Pilpres 2029. Dua sosok ini akan sangat kuat bila bersatu. Setidaknya dua sosok ini dapat membius kalangan religius dan nasionalis untuk mendukung mereka," jelasnya.
Kesimpulannya, masa depan politik Dedi Mulyadi sangat bergantung pada sikap Gerindra. Jika diperlakukan tidak adil, peluangnya untuk bergabung dengan Anies dan menantang Prabowo di Pilpres 2029 semakin besar.
Sebagai informasi, dalam survei elektabilitas calon presiden terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo.
Baca Juga: Banyak Rutilahu di Jabar, Dedi Mulyadi: Warga Bisa Ajukan Perbaikan Gratis
Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 35%, sedangkan Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5%. Dalam simulasi head to head, keunggulan Dedi melebar hingga 59% berbanding 28,3% untuk Prabowo.
Indikator Politik Indonesia juga mencatat Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas. Meski tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi (98,8% vs 88,2%), tingkat kesukaan responden terhadap Dedi jauh lebih unggul, yakni 88,3% dibanding Prabowo yang hanya 68,1%.





Komentar (0)