VIVA –Pernahkah kamu mengalami situasi dimana orang tua atau bahkan pasanganmu yang sudah memasuki usia 45 tahun ke atas sering menampilkan wajah cemberut, gemar menunjuk-nunjuk dan kepala yang terus menggeleng ketika diajak diskusi atau berbicara.
Kondisi ini sering disebut sebagai grumpy old man complex atau semacam sindrom pria tua pemarah. Istilah ini meruuk pada meningkatnya kecenderungan pria pada usia tertentu untuk lebih mudah tersinggung dan menunjukkan sikap pemarah.
Ketika semakin banyak generasi baby boomer memasuki usia 50-an tahun, usia ketika sifat mudah menggerutu pada pria dianggap mulai muncul. Bersiaplah mendengar semakin banyak keluhan dan ledakan emosi dari para pria yang lebih tua.
Kondisi ini ternyata dipengaruhi kadar testosteron pada pria umumnya menurun seiring bertambahnya usia, menurut Mayo Clinic. Penurunan hormon tersebut diketahui dapat memengaruhi suasana hati pria, kata Dr. Ridwan Shabsigh, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan International Society of Men’s Health sekaligus seorang ahli urologi di New York City.
"Testosteron adalah hormon yang membantu pertumbuhan otot, mengurangi lemak tubuh, memengaruhi energi, dan meningkatkan gairah seksual. Namun, hormon ini juga memiliki efek pada sistem saraf dan kondisi psikologis. Pada sebagian pria yang kami temui dalam praktik, dampaknya justru paling terlihat dalam bentuk suasana hati yang menurun dan mudah tersinggung,"kata Shabsigh dikutip dari laman NBC News, Minggu 16 Agustus 2026.
Bahkan, sifat mudah marah atau grumpy digunakan sebagai salah satu gambaran suasana hati dalam kuesioner untuk mendeteksi kadar testosteron yang rendah. Salah satu formulir yang banyak diberikan kepada pasien pria di Amerika Serikat adalah tes Androgen Deficiency in Aging Men (ADAM), yang digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan kekurangan androgen pada pria lanjut usia. Androgen merupakan kelompok hormon yang berperan dalam perkembangan karakteristik fisik dan seksual pria.
"Pasien dengan kadar testosteron rendah mengatakan kepada saya bahwa mereka merasa kemampuan berkonsentrasinya menurun. Mereka juga merasa semakin sulit menghadapi berbagai hal kecil dalam kehidupan sehari-hari—baik yang datang dari keluarga, teman, rekan kerja, maupun pelanggan. Bagaimanapun juga, kita selalu berhadapan dengan orang lain dan terkadang merasa kesal. Ketika kadar testosteron rendah, kemampuan untuk menoleransi atau menghadapi situasi tersebut dapat ikut menurun,"ujar Shabsigh.






Komentar (0)