JAKARTA, DISWAY.ID - Stok beras Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) yang kini menembus 5,26 juta ton membawa konsekuensi baru.
Bukan hanya soal bagaimana menyerap dan menyalurkan beras, Bulog juga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memastikan jutaan ton cadangan pangan tersebut tetap berkualitas.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan pihaknya akan meningkatkan pembiayaan operasional gudang untuk memperkuat pemeliharaan dan pengawasan beras.
BACA JUGA:Jaga Ketersediaan Pangan Nasional, BULOG: Stok Beras 5,25 Juta Ton Tersebar di Seluruh Gudang Indonesia
Kebijakan tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada akhir Agustus hingga awal September 2026.
"Kita wujudkan di bulan akhir Agustus nanti, awal September, kami peningkatan pembiayaan operasional gudang," jelas Ahmad di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, kenaikan pembiayaan operasional tersebut menjadi kebutuhan seiring dengan semakin besarnya volume stok yang dikuasai Bulog.
BACA JUGA:BULOG Perkuat Stok Beras Papua, Dirut: Kami Targetkan Ketersediaan Beras Naik Tiga Kali Lipat
Semakin banyak beras yang disimpan, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kondisi beras agar tidak mengalami penurunan kualitas selama berada di gudang.
"Tujuannya apa? Untuk meningkatkan pemeliharaan, pengawasan, bahkan perawatan beras di masing-masing gudang," terang dia.
Bulog saat ini mencatat stok beras sekitar 5,25 juta hingga 5,26 juta ton.
Di balik angka stok yang besar, terdapat pekerjaan rumah yang tidak kalah penting, yaitu menjaga kualitas beras selama penyimpanan.
BACA JUGA:Di Momen Idul Adha 1447 H, Dirut Bulog Pastikan Stok Beras Aman
Ahmad mengatakan peningkatan biaya operasional gudang akan diarahkan untuk memperkuat berbagai aspek perawatan.
Bulog harus memastikan beras tetap dalam kondisi layak konsumsi meski disimpan dalam jumlah besar dan dalam periode tertentu.
- 1
- 2
- »






Komentar (0)