Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait masa depan Selat Hormuz. Trump mengklaim Amerika Serikat akan segera menjadikan jalur pelayaran strategis tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.
Trump menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri peresmian Akademi Kepolisian Nassau County di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026). Ia mengaitkan rencana tersebut dengan kondisi Iran yang disebutnya semakin terdesak akibat perang.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan sangat parah, tak lama lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS," kata Trump, sebagaimana dilansir Anadolu Agency.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan dan pasokan energi dunia. Perselisihan mengenai kawasan tersebut berlangsung ketika hubungan Washington dan Teheran kembali memburuk.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April lalu. Kedua pihak kemudian menandatangani kesepakatan lanjutan pada 17 Juni untuk membuka jalan menuju perjanjian akhir.
Namun, proses negosiasi kemudian terhenti. Salah satu persoalan yang menjadi sumber perbedaan adalah jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Kebuntuan diplomasi tersebut kemudian diikuti kembali oleh peningkatan eskalasi militer. Pada periode 8 hingga 24 Juli, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan.
Washington menyerang sejumlah target di wilayah Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas serta peralatan militer AS di sejumlah negara Arab.
Trump juga mengklaim blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz masih diberlakukan secara ketat. Menurutnya, kapal tidak dapat melintasi jalur tersebut tanpa izin dari Washington.
"Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali jika kita mengizinkannya," ujar Trump.
Dampak ketegangan tersebut terlihat dari penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Data firma analitik komoditas dan pelayaran Kpler yang dikutip CNN menunjukkan hanya 3.371 kapal yang melintasi kawasan tersebut hingga 12 Agustus.
Angka tersebut tercatat selama 166 hari sejak perang pecah. Jumlahnya hanya sekitar 20 persen dibandingkan volume lalu lintas kapal sebelum konflik.
Baca Juga: Trump: AS Kuasai 100 Persen Selat Hormuz, Iran Disebut Tak Lagi Berdaya
Di tengah klaim Trump mengenai penguasaan Selat Hormuz, Iran memberikan bantahan keras. Komando pusat militer Iran menyatakan klaim Washington mengenai kendali penuh atas jalur strategis tersebut tidak benar.
Pernyataan itu disampaikan militer Iran pada Kamis (13/8/2026). Teheran menilai klaim Amerika Serikat mengenai penguasaan Selat Hormuz sebagai kebohongan dan rekayasa yang tidak memiliki dasar.






Komentar (0)