JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tsunami setinggi 1,61 meter menerjang Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi tektonik dangkal magnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Sabtu (15/8/2026).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan tsunami juga terpantau di sejumlah wilayah pesisir lainnya. Berdasarkan jaringan observasi muka air laut (tide gauge), gelombang tsunami di Maurole, Ende, tercatat setinggi 0,94 meter. Sementara itu, gelombang di Bulukumba dan Sape Bima tercatat melampaui 0,5 meter.
“Kemudian ketika kita mensimulasikan dengan gelombang tsunami tadi, juga diverifikasi dengan observasi muka laut yang terpasang di beberapa ratus titik di seluruh Indonesia. Ini beberapa tempat yang warna orange ini adalah yang ketinggian tsunaminya lebih dari setengah meter. Terutama adalah yang pertama yang mencapai 1,6 meter di Kota Manggarai Timur dan 1,61 meter di Reo, Manggarai, NTT. Selebihnya yang tertinggi juga 0,94 meter di Maurole, Ende,” ungkap Faisal.
Baca Juga:Pemerintah Bakal Batasi Konten LGBT, Aturan Teknis Masih DisiapkanFaisal menjelaskan, BMKG sebelumnya mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Peringatan dini kemudian dimutakhirkan sekitar 10 menit setelahnya, setelah parameter gempa stabil dan diperoleh secara lebih presisi.
BMKG, kata Faisal, menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman tsunami ke dalam kategori 'Siaga', yakni potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter, serta 'Waspada' untuk ketinggian di bawah 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah kembali aman.
Pascagempa utama, aktivitas kegempaan di wilayah utara Pulau Flores masih terus berlangsung. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks).
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga:TKBM Pelabuhan Ungkap Platform Digital Dermaga Atasi Masalah Bongkar MuatGempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan BMKG mengindikasikan tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.
Faisal mengatakan, BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Faisal.
Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi pemutakhiran data gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pascagempa utama. Petugas pemantau kemudian memutakhirkan peringatan dini tsunami setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya.
Gempa Dangkal Akibat Flores Back Arc Thrust
Baca Juga:Putra Sayuti Melik Dibawa ke STPL Bekasi, Mensos Pastikan Pendampingan Medis dan SosialFaisal menjelaskan gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust). Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada 1992.
Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal, yakni 15 km, sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan dan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
“Ini adalah sejarah gempa di daerah Flores, kita dapat melihat akibat dari sesar belakang tadi. Ini ada di tahun 1992 dengan 7,8 magnitudo tapi kedalamannya ini sekitar 28 km. Jadi yang terjadi sekarang 15 km ini lebih dangkal dari gempa di tahun 92 dan juga pada saat itu terjadi tsunami ya,” kata Faisal.
Baca Juga:HUT ke-58 BPJS Kesehatan: Menjaga Harapan Melalui Gotong Royong untuk Sehat BersamaBerdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa mempercayai data rujukan resmi yang bersumber dari jaringan nasional yang ditopang oleh lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf khusus di seluruh Indonesia.
#nasional





Komentar (0)