Pemberdayaan Petani Cabai Parepare: Inovasi Cabai Bubuk Tingkatkan Kemandirian dan Kurangi Sampah

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Tantangan fluktuasi harga cabai dan tingginya potensi sisa hasil panen yang terbuang di Parepare berhasil dijawab melalui inovasi pengolahan cabai segar menjadi cabai bubuk premium. Program pemberdayaan ini dilaksanakan oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dengan dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktisaintek).

Dipimpin oleh Dr. Hafizhah Al Amanah, S.Si., M.Si., tim Unhas menggandeng akademisi dan pakar seperti Prof. Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng, SP., MP. dan Dr. Andi Muliarni Okasa, S.P., serta melibatkan mahasiswa untuk mengembangkan produk cabai bubuk dengan prinsip zero waste dan ekonomi sirkular. Seluruh bagian cabai dimanfaatkan secara maksimal untuk mengurangi limbah organik dan menciptakan siklus produksi yang ramah lingkungan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap proses pengolahan cabai tidak hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah yang baik,” jelas Dr. Hafizhah saat memimpin pelatihan di lokasi.

Pelatihan ini memberikan dampak nyata bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Masagenae. Ibu Rahmadanih, salah satu peserta aktif, membagikan pengalamannya selama pelatihan.

“Selama ini kalau panen raya dan harga di pasar sedang anjlok, banyak cabai yang akhirnya membusuk dan terbuang begitu saja. Kami rugi tenaga dan biaya. Dengan adanya pelatihan pembuatan cabai bubuk dari tim Unhas ini, kami jadi tahu cara mengawetkan cabai sekaligus menaikkan harga jualnya,” katanya di sela praktik pengolahan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsep zero waste yang diajarkan membuka wawasan warga agar tidak ada bahan yang terbuang sia-sia, sekaligus mengutamakan aspek higienitas sehingga produk cabai bubuk dipercaya bisa menjadi komoditas unggulan desa mereka.

Target Kualitas dan Keberlanjutan Produksi

Tim Unhas menargetkan agar produk cabai bubuk KWT Masagenae memenuhi empat indikator utama: kualitas tinggi, cita rasa pedas otentik tanpa pewarna buatan, keamanan konsumsi dengan standar kebersihan pangan ketat, serta nilai tambah ekonomi melalui harga jual yang lebih stabil dibandingkan cabai segar.

“Inovasi hilirisasi ini dirancang agar proses produksi berjalan berkelanjutan dan mendukung kelestarian lingkungan sekitar,” beber Dr. Hafizhah menambahkan.

Kegiatan pengabdian ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk mengawal proses produksi hingga pemasaran cabai bubuk, sebagai tonggak kebangkitan kemandirian ekonomi warga Kelurahan Lumpue, sejalan dengan visi menciptakan cabai bernilai, pangan mandiri, lingkungan lestari, dan ekonomi berkelanjutan. (rin/*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tagar "China Cool" viral, Chongqing jadi destinasi wisata dunia
• 10 jam lalu
0
thumb
BSI Sampaikan Terima Kasih atas Apresiasi Presiden Prabowo pada Kinerja Bullion
• 4 jam lalu
0
thumb
Rilis Belagu, Jaz Rowe Ungkap Kekecewaan pada Sosok yang Berubah Setelah Sukses
• 4 jam lalu
0
thumb
Meriahkan HUT ke-81 RI, Pemkab Jeneponto Gelar Gerak Jalan Indah, Peserta Sangat Antusias
• 6 jam lalu
0
thumb
Rumah dan Bangunan Rusak Parah Akibat Gempa NTT
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.