REPUBLIKA.CO.ID, Jika mendengar nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ingatan saya secara reflektif terbang melayang ke jajaran para maestro, di antaranya Mahbub Junaidi, Rosihan Anwar, dan Atang Ruswita. Kendati jajaran Ketua Umum PWI dari masa ke masa diisi oleh nama-nama besar, ketiga sosok ini memiliki guratan tinta tersendiri dalam memori kolektif kita.
Mahbub Junaidi bukan sekadar Ketua Umum PB PMII pertama. Tulisannya tajam, satir, namun penuh humor bernas. Seperti yang pernah dicatat oleh pendiri Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, dalam ‘Kolom Demi Kolom: Humor-Humor Bernas Sang Maestro’, kelincahan Mahbub dalam memadukan kecerdasan intelektual dengan perumpamaan yang tak terduga sering kali membuat sesama penulis ‘iri hati’.
Sementara Rosihan Anwar meninggalkan jejak keteladanan tentang dahaga keilmuan. Sebuah cerita membekas yang selalu saya ingat. Saat remaja, Rosihan lebih memilih meminjamkan uangnya untuk membeli buku ketimbang membeli sepiring nasi. Tulisan Rosihan Anwar yang selalu bersematkan predikat ‘wartawan senior’, adalah salah satu yang paling dicari.
Puluhan bukunya, termasuk karya monumental berjilid-jilid ‘Sang Pelopor: Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah’ serta sederet buku jurnalistik lainnya, menjadi rujukan berharga yang saya nikmati saat menggeluti dunia pers.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Adapun Atang Ruswita memperlihatkan daya juang dari akar rumput. Berdasarkan catatan Her Suganda (Wartawan Senior) dalam buku ‘Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas’, Atang pernah tidur di pelataran Masjid Cipaganti (Kota Bandung) setelah seharian berdagang koran. Lakon panjangnya mendirikan dan membesarkan Pikiran Rakyat (PR) bersama Sakti Alamsyah menjadi tonggak penting perkembangan pers di Jawa Barat dan tingkat nasional.
Tantangan Era Digital dan Keterpilihan TSB
Hari ini, lanskap jurnalistik telah bergeser secara drastis ke ruang digital. Kecepatan sering kali mengorbankan ketepatan, dan algoritma media sosial kerap mendikte kedalaman tulisan. Di tengah derasnya arus disrupsi informasi ini, Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Tahun 2026 yang baru saja usai menghadirkan angin segar.
Keterpilihan Tantan Sulthon Bukhawan (TSB) sebagai Ketua PWI Jabar Periode 2026–2031 menyematkan harapan baru bagi masa depan profesionalisme wartawan dan media massa di Pasundan.
Selamat atas amanah baru ini untuk Bro Tantan. Kendati kini kita sama-sama tak lagi berambut gondrong, spirit perlawanan terhadap ketidakadilan tentu tak boleh padam, kecuali mungkin perlawanan di depan istri tercinta di rumah.
Harapan besar digantungkan pada pundak kepengurusan baru ini. PWI Jabar di bawah kepemimpinan TSB harus mampu menjadi benteng profesionalisme wartawan. Di era digital, pers tidak boleh terjebak sekadar menjadi pembuat clickbait, melainkan harus tetap hadir mencerahkan, mengedukasi, dan berdiri teguh membela kaum mustad’afin-kaum papa, kaum periferal, serta kelompok terpinggirkan yang kerap tergilas oleh struktur kekuasaan.
Kemitraan Kritis dengan Pemerintah Daerah
Satu hal yang perlu ditekankan dalam navigasi organisasi pers ke depan adalah relasi dengan pemerintah daerah. Kolaborasi strategis antara PWI Jabar dan Pemprov Jabar serta Pemkot/Pemkab adalah hal yang lumrah dan dibutuhkan untuk pembangunan daerah. Namun, kemitraan dan kolaborasi tersebut tidak boleh melunturkan objektivitas dan daya kritis pers.
Pemerintah membutuhkan pers yang sehat, pers yang mampu memberikan masukan objektif, kritik konstruktif, serta pengawasan berimbang (check and balances). Kemitraan yang ideal bukanlah kemitraan yang membungkam, melainkan kerja sama yang saling menghormati fungsi masing-masing demi kemaslahatan publik Jabar.
Pers yang kuat adalah pers yang independen. Daya tawar pers tidak terletak pada seberapa dekat dengan kekuasaan, melainkan pada seberapa konsisten menyuarakan kebenaran dan fakta yang sahih di tengah masyarakat.
Sejarah telah membuktikan betapa perkasanya gagasan yang dituangkan melalui karya jurnalistik yang jujur dan bernas. Sebagaimana ucapan legendaris dari Napoleon Bonaparte, ‘Satu pena lebih berbahaya daripada seribu bayonet’.
Di tangan wartawan yang profesional dan berintegritas, satu goresan pena atau satu ketukan tuts keyboard di era digital hari ini, memiliki daya ubah yang luar biasa untuk mengawal demokrasi, membela rakyat kecil, dan membangun Jabar yang lebih bermartabat.
Selamat bertugas untuk Bro Tantan Sulthon Bukhawan dan seluruh jajaran pengurus PWI Jabar 2026. Tetaplah menjadi pena yang tajam, mencerahkan, dan berpihak pada kebenaran.
Komentar (0)