Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan: Cerita Sarjana Jualan Sempol hingga Jaga Toko

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Punya ijazah dari universitas ternama ternyata tak menjadi jaminan seseorang bisa mulus meniti karier di dunia kerja. Realitas pahit fenomena overeducated—kondisi ketika seseorang yang berpendidikan tinggi bekerja di posisi yang berada di bawah kualifikasi akademiknya—kini membayangi sejumlah lulusan sarjana di berbagai daerah.

Gelar sarjana dari perguruan tinggi negeri pun tak lantas membentengi mereka dari terbatasnya lapangan kerja. Demi menyambung hidup, tak sedikit sarjana yang harus mengesampingkan ijazah dan melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari pekerja kasar hingga pekerja lepas harian.

Kisah Dwi: Dari Wartawan, Ojol, hingga Jualan Sempol

Bagi Dwi (34), seorang sarjana filsafat dari salah satu PTN di Jawa, ketidakpastian karier bermula setelah ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai jurnalis di sebuah media online di Jakarta pada akhir 2019. Keputusan itu diambil setelah kondisi keuangan perusahaan memburuk.

Tak lama berselang, pandemi COVID-19 melanda. Dwi pun terpaksa pulang ke kampung halamannya di Bandung. Berbagai upayanya untuk mendapatkan pekerjaan formal yang sesuai dengan latar belakang pendidikan S1 tak kunjung membuahkan hasil. Demi bertahan hidup, ia akhirnya menurunkan standar pencarian kerja dan mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.

Ia sempat bekerja sebagai sales dengan kontrak jangka pendek di sejumlah startup yang bergerak di bidang logistik dan kemasan UMKM. Penghasilannya berkisar Rp1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Namun, pekerjaan tersebut tak pernah bertahan lama karena target yang berat dan durasi kontrak yang singkat.

"Saya melamar sedapatnya aja lah, pokoknya apa pun pekerjaannya saya kerjain," ujar Dwi saat berbincang dengan kumparan, Jumat (14/8).

Kesulitan ekonomi bahkan mendorong Dwi berjualan air mineral kemasan di pinggir jalan dan taman-taman kota dengan modal seadanya. Ia juga sempat berjualan sempol ayam buatan sendiri di depan rumah. Namun, usaha tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan karena sepinya pembeli.

Menjelang momentum politik pada Pilkada 2022 lalu, Dwi kembali mengambil pekerjaan yang jauh dari latar belakang pendidikannya. Ia menjadi tenaga lapangan untuk calon anggota legislatif, termasuk memasang baliho.

"Saya pernah jadi pekerja kasar di orang yang mau nyaleg, pasang-pasang baliho. Seminggu saya dikasih Rp 250 ribu, berarti sebulan sejutaan lah," ungkapnya.

Dwi juga sempat mencoba mengadu nasib sebagai pengemudi ojek online. Namun, pekerjaan itu terpaksa ia tinggalkan karena riwayat gangguan tulang belakang membuatnya tak sanggup berkendara dalam waktu lama.

Tak berhenti di situ, Dwi bahkan mencoba melamar pekerjaan yang hanya mensyaratkan ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, upaya tersebut juga tak membuahkan hasil. Ia menduga persaingan tenaga kerja yang ketat dan batasan usia menjadi penghalang.

"Saya pernah melamar OB (Office Boy), melamar barista gitu juga pakai ijazah SMA, tapi enggak ada yang nyangkut. Bursa kerja kan ada kualifikasi usia ya, rata-rata mentok di 30 tahun, sementara saya sekarang sudah mau jalan 34," tutur Dwi.

Kini, Dwi telah kembali menetap di Jakarta dan mengandalkan pendapatan sang istri yang bekerja di bidang keuangan sebuah perusahaan swasta. Ia juga menyambi pekerjaan lepas atau freelance di bidang pembuatan konten.

Di tengah ketidakpastian pekerjaan, Dwi terus mengasah kemampuan digital marketing secara mandiri melalui sejumlah bootcamp. Ia berharap keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun agensi sendiri.

Kisah Lia: Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam yang Menjadi Admin dan SPG Butik

Kisah serupa dialami Lia (26)—bukan nama sebenarnya, seorang sarjana komunikasi dan penyiaran islam. Setelah menempuh kuliah selama empat tahun dan mengantongi ijazah S1 pada 2022 lalu, Lia justru bekerja di bidang yang tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi.

Lia kini bekerja di sebuah toko hijab dan butik di Banda Aceh. Di sana, ia menjalankan berbagai peran sekaligus, mulai dari content creator, mengelola administrasi media sosial dan toko online, hingga menjadi SPG (Sales Promotion Girl) yang melayani pembeli secara langsung.

"Pekerjaan ini sebenarnya enggak membutuhkan ijazah S1, karena lulusan SMA pun bisa. Teman-teman di toko ada yang S1, ada juga yang SMA, semuanya sejajar," kata Lia.

Penghasilan Lia pun dihitung berdasarkan shift harian dan berada di bawah standar upah minimum.

"Gajinya per shift. Kalau masuk dihitung gaji, kalau enggak masuk ya enggak ada. Mentok-mentok sebulan dapat Rp 1,5 juta. Kalau dibilang cukup ya pas-pasan banget, enggak bisa untuk tabungan. Tapi daripada nganggur, yang penting ada kesempatan ya diambil aja," tuturnya.

Sebelum bekerja di butik, Lia sempat bekerja sebagai admin di sebuah media online lokal. Namun, keterbatasan pendapatan media dari sektor iklan membuat perusahaan kesulitan membayarkan gaji karyawan secara rutin. Kondisi itu akhirnya mendorong Lia mencari pekerjaan lain.

Meski kini bekerja di butik, Lia tak sepenuhnya meninggalkan cita-citanya. Ia menganggap pekerjaan tersebut sebagai batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menunggu pembukaan seleksi CPNS di Kementerian Agama.

Harapan untuk menjadi PNS juga mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Bagi mereka, pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara agar perjuangan dan biaya yang telah dikeluarkan selama Lia menempuh pendidikan tinggi tidak berakhir sia-sia.

Berdasarkan riset yang dirilis LPEM FEB UI pada Juli 2026 lalu, ada sekitar 8 juta sarjana hingga doktor yang overeducated paling banyak di bidang admin hingga pelayanan. LPEM FEB UI menyoroti bahwa fenomena ini bisa jadi penanda bahwa ada pertumbuhan pesat pada kesempatan kerja di bidang pelayanan dan penjualan, dibandingkan pekerjaan profesional yang membutuhkan pendidikan tinggi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Perkenalkan Danantara Development Management Fund, Bakal Biayai Mobnas
• 23 jam lalu
0
thumb
1.200 UMKM Ramaikan Pesta Rakyat HUT Ke-81 RI di Monas, Kuliner Nusantara Dibagikan Gratis
• 11 jam lalu
0
thumb
Gempa 7,0 SR Guncang Flores Terasa hingga Makassar, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami
• 10 jam lalu
0
thumb
Pemilu 2029: Jangan Biarkan Demokrasi Dikendalikan Algoritma
• 2 jam lalu
0
thumb
Debut Akting, Ziva Magnolya Bawa Pengalaman sebagai Musisi ke Depan Kamera
• 22 menit lalu
0
Berhasil disimpan.