EtIndonesia.com — Di tengah kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah, muncul laporan baru yang menunjukkan bahwa opsi militer terhadap Teheran masih berada di atas meja. Bahkan, pembahasan tersebut disebut telah menyentuh kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran dalam skala yang jauh lebih luas.
Menurut laporan Channel 13 Israel yang diberitakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, dalam kunjungan terbarunya ke Israel disebut mendorong dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran.
Laporan tersebut menyebut Cooper menghadiri forum operasi tingkat tinggi bersama Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel atau IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, serta sejumlah pejabat dan komandan senior Israel.
Pertemuan itu menjadi perhatian karena pembahasannya dilaporkan tidak hanya berfokus pada kesiapan menghadapi kemungkinan serangan Iran, tetapi juga menyentuh skenario ofensif apabila konfrontasi kembali pecah.
Dalam forum tersebut, Cooper disebut mengusulkan agar tekanan terhadap Iran tidak hanya diarahkan kepada sasaran militer konvensional. Ia dilaporkan mendorong serangan secara bertahap terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk fasilitas minyak, instalasi gas alam, dan jaringan pembangkit listrik.
Menurut laporan Channel 13 yang dikutip Iran International, Cooper menilai serangan terhadap infrastruktur Iran dapat mengubah dinamika konflik secara mendasar dan memberikan tekanan besar terhadap Teheran.
Pandangan tersebut menunjukkan kemungkinan perubahan pendekatan apabila operasi militer benar-benar dilanjutkan. Serangan terhadap infrastruktur energi memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas dibandingkan penghancuran instalasi rudal atau fasilitas militer, karena sektor minyak dan gas merupakan bagian penting dari perekonomian Iran sekaligus sumber pemasukan negara.
Jika fasilitas minyak, gas, dan listrik menjadi sasaran dalam skala besar, dampaknya berpotensi menjalar ke aktivitas industri, transportasi, pasokan energi domestik, hingga kemampuan pemerintah Iran mempertahankan roda perekonomian selama konflik.
Namun, laporan mengenai pandangan Cooper tersebut perlu dipahami sebagai laporan media mengenai pembahasan internal militer, bukan sebagai pengumuman resmi bahwa Presiden Donald Trump telah memberikan perintah untuk melancarkan serangan baru.
Channel 13 juga melaporkan bahwa pandangan Cooper telah disampaikan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, sebelum kemudian dilaporkan diteruskan kepada Presiden Trump. Cooper disebut berpendapat bahwa dalam kondisi sekarang, Iran kemungkinan tidak akan mengubah posisinya hanya melalui tekanan yang telah berjalan.
Lebih jauh, Cooper dilaporkan mengatakan kepada pejabat senior intelijen Israel bahwa Amerika Serikat mungkin pada akhirnya tidak memiliki pilihan selain kembali memasuki operasi tempur. Jika skenario tersebut terjadi, Washington kemungkinan akan membutuhkan Israel untuk menjalankan operasi serangan gabungan.
Laporan terbaru ini semakin penting karena Cooper bukan figur baru dalam penyusunan opsi militer Amerika terhadap Iran.
Pada 26 Februari 2026, menjelang pecahnya perang pada akhir Februari, Cooper bersama Jenderal Caine telah memberikan pengarahan kepada Trump mengenai berbagai pilihan militer terhadap Iran. ABC News ketika itu melaporkan Cooper memberikan penjelasan mengenai opsi serangan, sementara Caine juga terlibat dalam pembahasan tersebut.
Koordinasi Cooper dengan Zamir juga telah berlangsung intensif selama konflik. Dalam berbagai tahap perang sebelumnya, kedua pejabat militer tersebut menjadi figur penting dalam koordinasi operasi Amerika Serikat dan Israel menghadapi Iran.
Pada 16 April 2026, setelah gencatan senjata berlaku, Cooper bahkan secara terbuka mengatakan bahwa pasukan Amerika menggunakan periode penghentian pertempuran untuk mempersenjatai kembali, menata ulang kekuatan, serta menyesuaikan taktik dan prosedur operasionalnya. Pada kesempatan yang sama, Jenderal Caine mengatakan pasukan Amerika siap kembali menjalankan operasi tempur besar dalam waktu sangat singkat apabila diperintahkan.
Karena itu, pembicaraan terbaru Cooper di Israel tidak muncul dalam ruang kosong. Amerika Serikat selama berbulan-bulan memang mempertahankan kemampuan untuk kembali melakukan operasi apabila jalur diplomasi dengan Teheran gagal menghasilkan penyelesaian.
Menariknya, posisi Cooper juga memperlihatkan betapa cepatnya perhitungan militer dapat berubah mengikuti kondisi lapangan. Pada akhir Juli 2026, Axios melaporkan Cooper sebelumnya termasuk pejabat yang merekomendasikan penghentian sementara pengeboman Amerika di sekitar Selat Hormuz karena efektivitas operasi tersebut dinilai mulai menurun. Rekomendasi itu ikut memengaruhi keputusan Trump untuk menghentikan serangan pada saat tersebut.
Dengan kata lain, dukungan terhadap operasi baru tidak selalu berarti Washington menginginkan perang tanpa batas. Sebaliknya, strategi yang sedang dipertimbangkan tampaknya berusaha mencari bentuk tekanan yang dianggap mampu menghasilkan dampak lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya.
Inilah yang membuat gagasan menyerang infrastruktur energi Iran menjadi sangat sensitif.
Pengalaman beberapa bulan sebelumnya menunjukkan bahwa sektor energi telah menjadi bagian dari perhitungan militer Washington. Pada 16 April 2026, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk kembali menyerang jaringan energi Iran apabila mendapat perintah.
Serangan berskala besar terhadap fasilitas minyak dan gas Iran, bagaimanapun, bukan hanya persoalan militer. Iran merupakan salah satu produsen energi penting dunia, sementara kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak global. Gangguan besar terhadap fasilitas energi Iran dapat memicu efek berantai terhadap harga minyak, pelayaran internasional, serta perekonomian negara-negara yang bergantung pada pasokan energi kawasan.
Karena itu, keputusan untuk memperluas target dari fasilitas militer menuju infrastruktur ekonomi strategis akan membawa risiko eskalasi yang jauh lebih besar.
Sampai 14 Agustus 2026, belum ada konfirmasi bahwa Trump telah menyetujui usulan serangan baru tersebut. Namun laporan mengenai pembahasan di tingkat tinggi militer Amerika Serikat dan Israel menunjukkan satu hal penting: meskipun jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, persiapan menghadapi kemungkinan kembalinya perang tetap berlangsung.
Kini perhatian tertuju pada Washington. Jika perundingan dengan Teheran benar-benar gagal dan pemerintahan Trump memilih kembali menggunakan kekuatan militer, fase berikutnya berpotensi berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya instalasi rudal dan fasilitas militer Iran yang mungkin berada dalam ancaman, tetapi juga infrastruktur energi yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian negara tersebut.
Dan apabila skenario itu benar-benar dijalankan melalui operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel, konflik dengan Iran dapat memasuki babak baru dengan konsekuensi yang jauh melampaui medan perang. (***)






Komentar (0)