JAKARTA, KOMPAS- Gempa tektonik dengan kekuatan Magnitudo 7,7 terjadi di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pagi. Pusat gempa sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Warga yang bermukim di Manggarai Timur, sekitar pusat gempa mengungkapkan lindu ini yang terlama selama hidup mereka.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) menjelang pukul 06.00 Wita itu diikuti beberapa gempa susulan. BMKG terus melaporkan gempa susulan. Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab gempa.
Beredar foto dan video yang menggambarkan tentang kepanikan warga yang mengamankan diri di luar bangunan. Ada juga video kerusakan bangunan yang timbul akibat gempa. Di antaranya rumah dan fasilitas publik.
Robert Alang (39), warga Borong, Kabupaten Manggarai Timur, mengaku, gempa terasa satu hingga dua menit. Robert yang bermukim di wilayah pesisir pun telah mengungsi ke daerah ketinggian di Kisol yang berada di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.
Ia mengatakan, bersama keluarga segera mengungsi setelah terdengar alat dari deteksi dini tsunami yang terpasang di pantai dekat pemukimannya. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, tiga warga dilaporkan meninggal karena tertimpa reruntuhan.
"Baru kali ini saya merasakan gempa yang sangat lama. Setelah gempa utama, terjadi lagi 6-7 kali gempa susulan di wilayah kami," ungkap Robert.
Sementara itu Yuvensius Sando (40), warga Kampung Weleng, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lambaleda Utara, mengaku, rumahnya rusak parah. Warga juga minim informasi karena telekomunikasi dan listrik terdampak.
"Saat ini banyak rumah yang rusak parah di kampung kami dan kampung lainnya. Kami belum berani masuk ke rumah karena masih terjadi gempa susulan, "
Dia telah mengevakuasi orangtua dan anak-anak ke lapangan yang menjadi pusat pertemuan warga kampung.
"Seumur hidup saya, ini gempa yang terlama. Saat ini kami sedang mengungsi ke tempat yang lebih aman," kata Yuvensius.






Komentar (0)