JAKARTA, KOMPAS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mecabut peringatan potensi tsunami pasca gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur per Sabtu (15/8/2026) pukul 07.30 WIB. Masyarakat diminta untuk tetap tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG.
"Peringatan dini keempat atau pengakhiran telah diterbitkan pukul 07.30 WIB," kata Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Sebelumnya, BMKG pertama kali mengeluarkan peringatan dini tsunami pada pukul 05.00 WIB atau 16 detik setelah gempa bumi terjadi. Berdasarkan pemutakhiran informasi, pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. BMKG juga mencatat ada 37 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,7 - 6,2 hingga pukul 07.07 WIB.
Selama rentang waktu tersebut terpantau adanya kenaikan muka air laut di sejumlah titik, seperti di Pelabuhan Kewapante, Sikka (0,38 meter); Flores Timur (0,25 meter); Labuan Bajo (0,36 meter); Maurole-Ende (0,94 meter atau paling tinggi); Dompu (0,17 meter); Bakalang, Alor (0,14 meter); Baubau (0,30 meter); Bulukumba (0,54 meter); Kolaka (0,23 meter).
BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan dan ketinggian tsunami berdasarkan observasi tinggi muka laut, serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada masyarakat. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak resmi, menghindari bangunan rusak atau retak, dan mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton SP Panjaitan mengungkapkan, berdasarkan laporan pendahuluan Kodim Sikka, sudah ada dua orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka.
"Dua korban meninggal dunia terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Data korban masih dalam proses verifikasi dan pendataan lebih lanjut oleh tim di lapangan," kata Berton.
BNPB dan seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang merasakan dampak guncangan gempa terus melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan unsur terkait untuk memastikan kondisi masyarakat dan dampak yang ditimbulkan. Tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri juga masih melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian.
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah serta informasi peringatan dini dari BMKG. Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan keselamatan.






Komentar (0)