Akal Imitasi, Tongkat Sihir Pengganti Rumah Produksi Iklan

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Tangan Dadan Sofyan, warga asal Bandung (Jawa Barat), cekatan menggerakkan mouse di atas meja kerjanya. Pandangannya tertuju pada sejumlah platform akal imitasi generatif (GenAI). Di sana berjajar sejumlah asisten AI yang sudah disiapkannya untuk bekerja. 

Dadan membuat asisten AI khusus untuk setiap proyek iklan dan marketing. Ia melatih asisten tersebut melalui prompt dan konteks sesuai kebutuhan klien. Setelah itu, perannya lebih banyak menyusun konsep, mengarahkan, dan mengevaluasi hasil. 

Menggunakan salah satu asisten AI, Dadan membuka sebuah berkas berisi foto manusia. Foto itu belum menjadi hasil akhir, melainkan bahan mentah untuk pesanan konten berikutnya.

Baca JugaAkal Imitasi Menginvasi Jagat Hiburan

Dengan bantuan GenAI, sosok dalam foto tersebut akan ia olah dan kemudian “dikenakan” produk busana milik klien. Dari layar komputer itulah foto manusia, gambar produk, dan serangkaian instruksi kepada AI dirangkai menjadi materi visual pesanan klien. 

“Saya masih sendiri mengerjakan pekerjaan produksi konten iklan yang dilakukan dengan GenAI (AI generated). Dengan bantuan para asisten AI, tentunya. Bahkan, untuk urusan administratif seperti penjadwalan produksi atau ketemu klien, saya juga mengandalkan asisten AI,” ujar Dadan usai bekerja kepada Kompas, Kamis (6/8/2026) malam.

Semula, Dadan adalah karyawan bagian pemasaran pada sebuah perusahaan pakaian. Hampir sembilan tahun dia menjadi karyawan. Sampai akhirnya pada 2023, dia terpapar dengan berita kemunculan GenAI.

Dadan lalu mulai serius mengulik perangkat — perangkat AI, melatih diri dari menonton video di Youtube (belajar otodidak), dan mendekatkan diri ke komunitas terkait. Dia tidak hanya memanfaatkan insentif pelatihan dari kantor.

Baca JugaMenunggangi Gelombang Kecerdasan Buatan

Dari gaji bulanan, dia sisihkan sekitar Rp 700.000 untuk berlangganan tools. Dia beli token atau kredit untuk mencoba berbagai platform. Beberapa kali pengeluaran bahkan lebih dari Rp 700.000 karena dia mencoba berbagai platform sampai dia paham kekurangan dan kelebihan.

Selama kurun waktu 2023–2024, sembari belajar tools GenAI seusai jam kerja kantoran, dia membuat video-video yang diproduksi dengan GenAI bernuasa sarkasme dan lucu. Konten produksinya lalu diunggah ke media sosial.

Dari situ, mulai muncul permintaan dari orang-orang. Pesanan awal masih dari perorangan. Misalnya, ada seorang ibu yang ingin dibuatkan video sedang menyelam bersama kucing. Waktu itu Dadan mematok harga sekitar Rp 200.000 per video.

Memasuki awal 2026, pesanan mulai semakin banyak. Pendapatan dari pekerjaan sampingan buat konten visual dengan GenAI akhirnya bisa menutup gaji sebagai karyawan, bahkan bisa setara dengan beberapa bulan gaji. 

“Saya kan sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang pemasaran, sehingga yang tinggal saya kencangkan adalah kemampuan menggunakan AI. Pada Maret 2026, saya percaya diri resign untuk mulai serius menjalankan agensi sendiri,” ucap dia. 

Baca JugaMasalah Etis Kreator Konten

Klien dia banyak berasal dari UMKM mode, seperti merek kaos kaki, jaket, ransel, topi, dan pakaian. Rekor produksi konten dengan GenAI yang pernah dicapai adalah 120 video per bulan. Durasi satu video sekitar 10–15 detik dan dapat terdiri atas empat scene.

Salah satu proyek yang lebih besar adalah membuat iklan video komersial berdurasi 15–60 detik yang ditayangkan di televisi dan media digital. Pesanan proyek ini datang dari sebuah start up bidang keuangan. 

Biaya penggunaan AI pun tetap menjadi bagian penting dari bisnisnya. Dadan mengeluarkan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per bulan untuk berlangganan sejumlah tools GenAI dan membeli token.

Sebagai ilustrasi, satu proyek konten visual dari UMKM rata-rata bernilai sekitar Rp 3 juta. Dengan sedikitnya lima klien UMKM dalam sebulan, pendapatannya lebih kurang Rp 15 juta. Jumlah ini sudah bisa menutup ongkos berlangganan aneka tools GenAI. 

Dadan bukan satu-satunya pekerja kreatif yang menemukan sumber penghasilan baru dari perkembangan GenAI. Ada Brillian Fairiandi, yang kini dikenal publik sebagai AI visual director.

Dengan sedikitnya lima klien UMKM dalam sebulan, pendapatannya lebih kurang Rp 15 juta. Jumlah ini sudah bisa menutup ongkos berlangganan aneka tools GenAI. 

Sebelumnya, hampir satu dekade ia bekerja di sebuah agensi kreatif di Surabaya. Di sana, dia mengerjakan proyek pembuatan film, menjadi videografer untuk pembuatan profil perusahaan, desain suatu acara, hingga berbagai kebutuhan konten kreatif untuk dicetak. 

Ketika memutuskan mengundurkan diri dari kantornya pada 2022, AI generatif belum secanggih sekarang. Atas saran beberapa rekan, dia untuk mencoba belajar menggunakan perangkat GenAI untuk membuat storyboard konten. Sama seperti Dadan, langkah ini Brillian semula dipakai untuk bertahan hidup. 

“Semula, aku mencoba mengulik sendiri MidJourney (platform GenAI untuk mengubah deskripsi teks menjadi karya seni visual yang kompleks dan detail). Karena aku sudah resign dari kantor lama, aku jadi memiliki cukup banyak waktu belajar dan mengolah,” kata dia.

Sepanjang 2023 juga dia mulai sering menerima permintaan pembuatan konten GenAI. Bentuknya masih sederhana dan bersifat personal, seperti mengubah foto seseorang menjadi karakter tiga dimensi atau tokoh seperti Superman. Dalam salah satu bulan, pendapatan dari pesanan mencapai dua kali lipat gaji bulanannya sebagai karyawan di Surabaya.

Pada Desember 2024, melalui akun Instagram-nya, Brillian membagikan gambar-gambar rekayasa virtual dengan bantuan AI yang menampilkan sejumlah kawasan di Jakarta, seperti Stadion Gelora Bung Karno dan Sarinah, yang diselimuti salju.

Baca Juga”Influencer Gurem” Goyang Industri Periklanan

Konten ini langsung viral sehingga mendorong kenaikan permintaan jasa pembuatan konten GenAI. Sejumlah pusat perbelanjaan hingga jenama besar mulai menghubunginya untuk membuat materi promosi menggunakan GenAI.

Ia mulai membangun semacam studio kecil yang mengombinasikan AI dengan kemampuan produksi kreatif yang sudah dimilikinya. Semula hanya Brillian sendiri yang bekerja. Kalaupun ada permintaan produksi cukup besar, dia dibantu pekerja lepas yang memang piawai dengan perangkat GenAI. Baru pada awal 2026, dia merekrut tim in-house.

Masih banyak warga lain yang terjun mendapatkan peluang baru dari menjual konten marketing dan iklan yang dibuat dengan GenAI, seperti Dadan dan Brillian. Mereka bisa datang dari latar belakang apapun, tetapi mampu dan piawai menggunakan perangkat ataupun platform GenAI. 

Pengajar pembuatan film dan penghobi AI, Arief Ash Shiddiq, saat dihubungi Selasa (11/8/2026), mencontohkan ajang AI Cinefest 2026 yang digelar oleh Telkomsel, Huawei, dan MiniMax, di mana dia menjadi salah satu juri. Ajang ini berhasil mengumpulkan 1.100 karya konten film pendek GenAI yang disetor dari beragam profesi. 

“Ada guru, pedagang, mahasiswa, perawat, ahli kesehatan, hingga orang yang sehari-hari berkecimpung di marketing periklanan. Mereka berani mencoba dan praktik sampai paham menggunakan GenAI. Ini baru di dunia film pendek, belum di marketing dan periklanan, serta sektor lain ujar dia.

Artinya, kemampuan GenAI terkini sudah mampu membuka akses produksi audiovisual bagi kelompok yang sebelumnya memiliki keterbatasan biaya.

Artinya, kemampuan GenAI terkini sudah mampu membuka akses produksi audiovisual bagi kelompok yang sebelumnya memiliki keterbatasan biaya. Meski tampak ‘mendemokratisasi’, Arief percaya tetap butuh keterampilan lain agar konten yang diproduksi ‘sempurna’.

Beberapa waktu lalu, di X ramai diskusi mengenai sejumlah kios makanan di Indonesia memakai AI slop (konten GenAI berkualitas rendah dan minim pengawasan manusia) di gambar-gambar makanan. 

“Dengan kata lain, kehadiran perangkat GenAI elevate seseorang menjadi profesional. Cuma, kalau mau menjadi ‘ahli’, saya kira tetap butuh pengetahuan dan keterampilan lain,” kata Arief. 

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Adi S Noegroho, mengatakan, setiap agensi memiliki kebijakan masing-masing terkait penggunaan GenAI. Sejauh ini, rata-rata agensi kreatif memanfaatkan AI generatif untuk mendukung proses internal. Misalnya untuk kebutuhan membuat layout, still-o-matic, dan kebutuhan pra-produksi lainnya.

Penggunaannya belum selalu sampai pada produk akhir yang diserahkan kepada klien. Namun, praktik tersebut tetap bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan karena ada pula agensi yang sudah menggunakan GenAI untuk menghasilkan materi akhir.

“Penyusunan konsep, pesan pemasaran, dan storytelling masih membutuhkan sentuhan manusia. Oleh karena itu, setidaknya sampai sekarang, kami melihat GenAI lebih berperan sebagai alat yang membantu pekerjaan manusia ketimbang menggantikannya,” ucap Adi.

P3I memiliki pedoman Etika Pariwara Indonesia (EPI) sebagai rambu dalam menghasilkan materi kreatif. Pedoman tersebut terakhir diperbarui pada 2020 dan direncanakan kembali diperbarui dalam waktu dekat. Meski demikian, EPI dinilai masih cukup relevan sebagai pagar agar materi kreatif yang dihasilkan agensi tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Profesi baru yang muncul dari GenAI memang sudah mulai terlihat, seperti yang dilakukan Dadan dan Brillian. Namun, masa depan profesi tersebut masih belum jelas. Masih ada perdebatan mengenai apakah penggunaan AI benar-benar membuat biaya produksi lebih murah dan sejauh mana konsumen atau pengguna dapat menerima konten yang seluruhnya dihasilkan AI.

Salah satu kekhawatiran terbesar Arief justru menyangkut jenjang karier dan proses kaderisasi pekerja kreatif. Selama ini, pekerja kreatif memulai karier dari pekerjaan-pekerjaan dasar sebelum secara bertahap naik. Pekerjaan dasar yang terlihat sederhana itu sebenarnya menjadi ruang untuk belajar dan mengasah kemampuan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Teddy Adhitya dan RAN Bawa Dua Warna Berbeda di Gaia Music Festival 2026 Day 1
• 2 jam lalu
0
thumb
Prabowo Beri Pujian Khusus ke PDIP, Singgung Marhaenisme
• 14 jam lalu
0
thumb
Jembatan TKP ASN Jatuh di Sungai Cisadane Cuma Bisa Dilintasi Satu Motor
• 21 jam lalu
0
thumb
Barawal dari Huntara ke Usaha Produktif, BNPB–PNM Dorong Warga Agam Bangkit Lewat Potensi Lokal
• 14 jam lalu
0
thumb
Program IEP 3+1 Universitas Nusa Mandiri Buka Jalan ke Dunia Profesional Bagi Mahasiswa
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.