LONDON, KOMPAS.TV - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Inggris sebagai "Republik Islam Inggris" (Islamic Republic of Britain).
Komentar tersebut disampaikan Netanyahu saat mengkritik pemberitaan media Inggris mengenai Israel.
Pernyataan itu muncul di tengah semakin tegangnya hubungan Israel dengan pemerintahan Partai Labour Inggris, terutama terkait kebijakan London terhadap perang di Gaza dan isu Palestina.
Baca Juga: Netanyahu Tolak Rencana Trump, Kembali Tegaskan Israel Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza
Netanyahu menyampaikan komentar tersebut dalam podcast Israel Melech Blitzer Haim yang tayang Kamis (13/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Netanyahu menyinggung Randolph Churchill, putra mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, yang menurutnya memberikan pemberitaan positif mengenai Israel saat Perang Enam Hari pada 1967.
Netanyahu kemudian membandingkan pemberitaan tersebut dengan sikap media Inggris saat ini.
"Pergilah mencari itu di Inggris saat ini, yang bisa Anda sebut sebagai Republik Islam Inggris," ujar Netanyahu secara sarkastis, berdasarkan terjemahan pernyataannya yang dipublikasikan media Israel, dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan tersebut menjadi sindiran terhadap perubahan sikap Inggris yang dalam beberapa tahun terakhir semakin kritis terhadap kebijakan pemerintah Israel.
Netanyahu kemudian kembali menggunakan istilah tersebut ketika membahas Iran dan ancaman nuklir.
Ia merujuk pada pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang pernah menggambarkan Inggris sebagai negara yang berpotensi menjadi negara Islamis pertama yang memiliki senjata nuklir.
"Seseorang mengatakan republik Islam pertama dengan senjata nuklir akan menjadi Republik Islam Inggris," kata Netanyahu.
Baca Juga: Netanyahu: Tidak Akan Ada Penarikan Tentara Israel dari Gaza sampai Hamas Benar-Benar Dilucuti
"Kami memastikan tidak akan ada satu lagi di sini, di Iran," tambahnya, merujuk pada upaya Israel mencegah Iran mengembangkan kemampuan nuklir.
Dikecam Kelompok Yahudi InggrisPernyataan Netanyahu mendapat kritik dari Movement for Progressive Judaism, kelompok Yahudi Inggris dan Irlandia.
Pemimpin bersama kelompok tersebut, Rabbi Charley Baginsky dan Rabbi Josh Lev, menilai bahasa yang digunakan Netanyahu berbahaya dan tidak bertanggung jawab, terutama di tengah persoalan antisemitisme, kebencian terhadap Muslim, dan perpecahan sosial di Inggris.
Mereka juga menegaskan bahwa Netanyahu tidak mewakili komunitas Yahudi Inggris.
"Perdana Menteri Netanyahu tidak berbicara atas nama Yahudi Inggris. Kata-katanya tidak mewakili kami," demikian pernyataan mereka.
Mantan Kepala Staf Downing Street di era Perdana Menteri Theresa May, Gavin Barwell, juga menyebut pernyataan Netanyahu sebagai "Islamofobia terang-terangan".
Barwell mengatakan komentar tersebut seharusnya menghilangkan anggapan bahwa Netanyahu masih merupakan teman Inggris.
Secara historis, Inggris dan Israel memiliki hubungan yang dekat.
Baca Juga: Netanyahu Sebut Pertemuan dengan Trump 'Sangat Baik', Bahas Langkah Lanjut Perang Iran
Namun, hubungan kedua negara semakin tegang sejak Partai Labour berkuasa di Inggris pada 2024.
Pemerintah Inggris kemudian mengambil sejumlah langkah yang menunjukkan perubahan sikap terhadap Israel.
Beberapa di antaranya adalah menghentikan sementara pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel, menangguhkan sebagian lisensi ekspor senjata, serta menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
Inggris juga bergabung dengan sejumlah negara, termasuk Prancis dan Kanada, dalam mengakui negara Palestina.
Sikap Inggris soal Gaza Makin KerasPerubahan sikap London semakin terlihat dalam kebijakannya terkait perang di Gaza.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya meminta maaf atas respons awal Partai Labour terhadap tindakan Israel di Gaza.
Ia mengakui partainya terlalu lambat menyerukan gencatan senjata.
Burnham kemudian mengatakan Inggris perlu meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Israel.
Baca Juga: Ancaman Gelombang Panas Kelima, Inggris Diambang Musim Panas Terpanas Sepanjang Sejarah
“Itulah mengapa kita perlu berbuat lebih banyak, termasuk mempertimbangkan sanksi lebih lanjut terhadap mereka yang terlibat dalam kekerasan di Gaza, tetapi juga mempertimbangkan langkah-langkah untuk melarang perdagangan barang dengan permukiman ilegal,” kata Burnham.
“Kita harus berbuat lebih banyak untuk menekan pemerintah Israel.”
Pernyataan Netanyahu dinilai menunjukkan semakin dalamnya keretakan hubungan antara kedua negara.
Rodwan Abouharb, profesor madya hubungan internasional di University College London, menyebut komentar Netanyahu sebagai "titik terendah baru" dalam hubungan Inggris-Israel.
Namun, menurut Abouharb, ketegangan tersebut tidak berarti kedua negara sepenuhnya berseberangan.
Inggris dan Israel masih memiliki sejumlah kepentingan yang beririsan, terutama dalam menghadapi Iran.
“Komentar Netanyahu mungkin lebih ditujukan untuk kepentingan domestik, untuk memperkuat koalisi pemerintahannya yang sedang retak,” kata Abouharb.
Dengan demikian, pernyataan Netanyahu bukan hanya mencerminkan memburuknya hubungan diplomatik dengan Inggris, tetapi juga menunjukkan bagaimana isu Gaza, Palestina, Islamofobia, dan ancaman Iran semakin terkait dengan politik luar negeri sekaligus politik domestik Israel.
Baca Juga: Iran Pamer ‘Trofi Perang’ Drone-Bongkahan Pesawat di Gudang Rahasia, Diklaim Milik AS-Israel
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Al Jazeera
- Benjamin Netanyahu
- Inggris
- Israel
- Gaza
- Palestina
- Iran






Komentar (0)