Tangis Perantau Makassar Saat Gempa NTT: Kami Tidak Bisa Lari

celebesmedia.id
8 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gempa bumi kuat yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, membuat warga di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, panik dan bergegas menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Salah seorang warga asal Makassar yang berdomisili di Borong, Anita, mengaku gempa terjadi saat dirinya bersama suami dan empat anaknya masih berada di dalam rumah.

"Jam 06.00 tadi itu sudah bangun tapi masih baring-baring. Tidak lama begitu gempa sudah," ujar Anita dengan suara bergetar.

Kondisi tersebut membuat Anita dan keluarganya langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka kemudian menuju lokasi yang lebih tinggi tanpa sempat membawa barang-barang dari rumah.

"Besar sekali gempa kodong, besar gempa. Tidak bisa kita lari. Kita pergi mengungsi ini semua di tempat tinggi," ujarnya.

Anita mengatakan warga di wilayah Borong memilih mencari tempat aman secara terpencar. Mereka meninggalkan kawasan permukiman karena khawatir terjadi tsunami setelah adanya peringatan untuk menjauhi wilayah pantai.

"Yang pusatnya itu tuh di Negekeo, Kota Mbay. Kalau kami di Borong. Yang mengungsi ini terpencar ki orang. Terpencar ki ini, tempat tinggi kita cari. Besar na gempa. Saya bicara masih gemetar ka kodong," tuturnya sambil menangis.

Kekhawatiran warga semakin meningkat setelah mendapat informasi mengenai kondisi air laut di kawasan Aimere yang disebut mengalami surut. Mereka takut perubahan air laut tersebut menjadi pertanda datangnya gelombang tsunami.

"Ini ada berita lagi toh bilang Pantai Aimere surut ki airnya. Itu mi yang ditakutkan orang, siapa tahu nanti sebentar naik serentak ki (airnya)," kata Anita.

Ia mengaku hingga saat itu belum mengetahui kapan keluarganya dapat kembali ke rumah. Menurut dia, warga diminta menghindari kawasan pantai karena adanya potensi tsunami sehingga mereka memilih tetap bertahan di tempat tinggi.

"Ini tadi disuruh hindari dekat pantai karena berpotensi tsunami. Berarti tidak bisa pulang, harus mengungsi dulu. Tidak tahu lagi ini, tidak ada juga imbauan dari pemerintah bilang apa ini, mengungsi apa-apa atau bagaimana," ujarnya.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.

BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.

Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Manggarai Barat bagian utara, Ende bagian utara, dan Sikka bagian utara termasuk wilayah yang masuk dalam status Siaga pada peringatan awal tersebut.

Dalam pemutakhiran informasi, BMKG juga melaporkan adanya tsunami yang terdeteksi di sejumlah lokasi, antara lain Labuan Bajo 0,36 meter, Maurole-Ende 0,94 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, serta Flores Timur 0,25 meter.

Situasi tersebut membuat warga di kawasan pesisir memilih menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.

Bagi Anita dan keluarganya, gempa pagi itu bukan sekadar guncangan yang berlangsung singkat. Kepanikan, ancaman tsunami, dan ketidakpastian membuat mereka memilih bertahan di tempat tinggi hingga situasi dinyatakan aman.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jalan Puri Lingkar Luar Jakbar Berlubang, Sudin SDA Pastikan Tak Ada Pengendara Terjatuh
• 1 jam lalu
0
thumb
Capaian Pangan Nasional: Indonesia Swasembada Beras hingga Cabai di Tahun 2026
• 23 jam lalu
0
thumb
Video: RAPBN 2027: Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6%
• 18 jam lalu
0
thumb
Insanul Fahmi Tegas Bantah Nafkah Mandek, Wardatina Mawa Doakan Mantan Suami: Semoga Rejekinya Lancar
• 21 jam lalu
0
thumb
PLN Siaga Pemulihan Kelistrikan Pascagempa M 7 di NTT
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.