Grid.ID – Kasus nisan makam mertua Djaduk Ferianto dirusak tengah menggegerkan publik. Usai istri mendiang budayawan tersebut melapor ke polisi, sang juru kunci pemakaman pun muncul untuk buka suara.
Seperti diketahui, nisan makam mertua Djaduk Ferianto di Pemakaman Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Istri Djaduk, Petra Ferianto mengatakan, kerusakan nisan milik mendiang ayahnya itu diketahui saat dirinya hendak mendoakan dengan datang ke pemakaman atau nyekar. Namun, ia merasa kebingungan saat mencari makam karena tidak menemui nisan milik mendiang ayahnya.
“Saya kaget karena itu sudah di ditugel maejan (nisan) gitu kan. Enggak ada orang, terus saya cari-cari ada orang di situ, Pak juru kuncinya teng pundi (ke mana)? Saya begitu,” kata Petra, dikutip dari Kompas.com pada Rabu (12/8/2026).
Ia pun mencoba mencari juru kunci Pemakaman Pakuncen. Namun, saat itu juru kunci sedang tidak berada di tempat.
Petra kemudian mencoba mencari tahu rumah sang juru kunci, tetapi tidak membuahkan hasil. Petra lalu melaporkan peristiwa perusakan makam ini ke pihak kepolisian.
“Terus saya langsung kepikiran wis tak ning kantor polisi pisan saja. Ke Kantor Polisi Wirobrajan, saya laporan kejadian yang saya alami selama sementara saya laporan ada petugas yang ke lokasi,” kata dia.
Pengelola dan juru kunci Pemakaman Umum Pakuncen, S, akhirnya buka suara terkait insiden nisan makam mertua Djaduk Ferianto dirusak.
Melansir unggahan Instagram @tribunjogja pada Kamis (13/8/2026), S mengakui secara terbuka bahwa dirinya memang sengaja melepas atau merusak nisan tersebut, demi bertemu langsung dengan ahli waris.
Ia berdalih, tindakan memotong dan mengamankan nisan tersebut semata-mata dilakukan sebagai langkah pancingan agar pihak keluarga mau datang dan menemui dirinya secara langsung. Hal tersebut disampaikan S selepas mediasi kedua belah pihak yang disaksikan langsung oleh kepolisian Wirobrajan dan jajaran kelurahan setempat, Rabu (12/8/26).
Menurut S, keluarga almarhum memang rutin datang nyekar, tetapi selalu hadir saat pagi hari sebelum jam operasional juru kunci dimulai, yakni pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Akibatnya, selama bertahun-tahun, pihak keluarga hanya meninggalkan bunga tanpa pernah bertegur sapa dengan dirinya selaku pengelola makam. S juga menolak keras anggapan bahwa ia melakukan pemerasan atau menetapkan tarif sewa lahan pemakaman secara paksa kepada keluarga.
Di sisi lain, istri Djaduk Ferianto, Petra Ferianto, mengungkap pernyataan berbeda. Petra mengaku selalu rutin nyekar dan menyisipkan uang kebersihan pada warga yang membantu membersihkan makam, serta meninggalkan bunga segar sebagai tanda bahwa makam tersebut masih aktif dikunjungi keluarga.
“Saya ngasih upah kalau ada yang tunggu. Kalau tidak ada orang, saya tidak tahu mau memberi ke siapa,” kata Petra dalam video mediasi.
“Kemarin saya sampaikan ke ibu, lebih baik saya langganan. Jadi ketemu atau tidak ketemu orang, uang itu sampai ke ibu,” tuturnya kemudian.
Kendati demikian, Petra akhirnya mengalah dan mentransfer uang sebesar Rp500 ribu yang diistilahkan sebagai ‘pembayaran utang’ perawatan, meski nominal itu dinilainya terlalu berlebihan.
Ia lantas membeberkan juru kunci juga sempat meminta uang tambahan sebesar Rp50 ribu, untuk biaya perbaikan nisan yang sebelumnya dirusaknya sendiri. Tak berhenti di situ, muncul pula penawaran uang bulanan sewa makam sebesar Rp100 ribu per bulan, tanpa adanya tanda terima atau legalitas resmi.
Cuplikan mediasi terkait nisan makam mertua Djaduk Ferianto dirusak menuai reaksi keras dari para netizen. Tidak sedikit yang menuding tindakan sang juru kunci ini menyerupai pungutan liar atau pungli.
“Kui juru kunci opo preman?” kata akun @lulut***.
“Jelas ini pungli,” kata akun @artha***.
“Pungli malah didamaikan, bukan dipenjarakan. Enak banget,” kata akun @aimar***.(*)
Artikel Asli





Komentar (0)