JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap hari, ribuan kendaraan melintas di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.
Ruas jalan yang membentang dari kawasan Patung Kuda hingga Dukuh Atas itu kini menjadi salah satu pusat bisnis dan aktivitas warga Jakarta.
Namun, di balik nama "Thamrin" yang begitu akrab bagi warga Ibu Kota, tersimpan kisah perjuangan Mohammad Husni Thamrin.
Ia merupakan tokoh Betawi yang menggunakan jalur politik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat pribumi pada masa penjajahan Belanda.
Baca juga: Massa Emak-emak Kembali Diadang di Kebon Sirih, Lalin Jalan MH Thamrin Macet
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, kisah di balik nama jalan ini menjadi menarik untuk kembali dikenang.
Jalan M.H. Thamrin merupakan salah satu jalan protokol utama Jakarta.
Ruas ini menghubungkan kawasan pusat pemerintahan di sekitar Patung Kuda dengan kawasan bisnis hingga Dukuh Atas dan tersambung dengan Jalan Jenderal Sudirman.
Kompas.com dalam sejumlah pemberitaan juga mencatat posisi Jalan M.H. Thamrin sebagai salah satu ruas jalan utama Ibu Kota.
Jalan ini antara lain menjadi bagian dari kawasan penerapan ganjil-genap dan kerap digunakan untuk berbagai kegiatan besar di Jakarta.
Tetapi, jauh sebelum namanya melekat pada jalan protokol tersebut, Mohammad Husni Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan nasional asal Betawi.
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA Patung MH Thamrin di Museum MH Thamrin
Berawal dari dewan kota Batavia
Mohammad Husni Thamrin lahir di Batavia pada 16 Februari 1894.
Ia berasal dari keluarga yang relatif terpandang.
Ayahnya merupakan seorang pejabat pemerintahan, sedangkan dari garis ibunya mengalir darah Betawi.
Sejak muda, Thamrin telah menunjukkan perhatian terhadap kehidupan masyarakat pribumi.
Ia kemudian terjun ke dunia pemerintahan dan politik.
Baca juga: Blokade Jalan MH Thamrin Dibuka, Polisi Bubarkan Massa Demo dan Urai Lalu Lintas
MH Thamrin menjadi anggota Dewan Kota Batavia atau Gemeenteraad.
Dari lembaga tersebut, ia mulai menyuarakan persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk masalah lingkungan dan permukiman.
Komentar (0)