Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mendukung target Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas penciptaan lapangan kerja melalui pertumbuhan ekonomi dan investasi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
"Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan usaha rakyat, dan perbaikan kualitas hidup. Angka pertumbuhan harus terasa sampai ke rumah tangga," kata Lamhot di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat.
Lamhot menilai pertumbuhan ekonomi dan investasi tidak cukup diukur melalui angka statistik, tetapi harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026, Presiden Prabowo menyampaikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Baca juga: Prabowo: Pemerintah siap bangun dan revitalisasi 441 RSUD
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tersebut tercatat 5,61 persen secara tahunan dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun.
Dari sisi investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi investasi tersebut juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia.
"Ini menunjukkan bahwa investasi mulai bergerak menjadi aktivitas ekonomi yang nyata," katanya.
Baca juga: Prabowo: Data sensus ekonomi jadi dasar penyusunan kebijakan
Menurut Lamhot, tantangan berikutnya ialah memastikan kualitas investasi semakin baik, terutama investasi yang menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, menyerap tenaga kerja, dan membuka ruang bagi UMKM masuk ke dalam rantai pasok.
Sebagai legislator yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian, Lamhot mengatakan sektor industri pengolahan menjadi salah satu kunci untuk menerjemahkan investasi menjadi nilai tambah di dalam negeri.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDB nasional pada 2025 dengan kontribusi 19,07 persen.
Sektor tersebut juga tumbuh 5,30 persen sepanjang 2025 dan memberikan sumbangan 1,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, Lamhot menilai agenda industrialisasi dan hilirisasi perlu terus diperkuat untuk membangun ekosistem pemasok domestik, memperluas penggunaan produk dalam negeri, meningkatkan kapasitas teknologi, serta menghubungkan industri besar dengan pelaku usaha kecil dan menengah.
"Industri besar harus menjadi lokomotif. Tetapi gerbongnya harus diisi oleh industri nasional, UMKM, tenaga kerja lokal, serta berbagai usaha pendukung. Dengan begitu, multiplier effect investasi akan semakin besar," katanya.
Baca juga: Presiden Prabowo akan perkuat LKPP jadi Badan Pengadaan Pemerintah
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.
Menurut Prabowo, capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global, konflik geopolitik, dan perang dagang.
"Alhamdulillah, karena kerja keras kita, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah, di tengah ketidakpastian global, investasi tetap tumbuh. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun dan telah menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja," ujar Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat.
Baca juga: Puan: APBN 2027 harus jaga daya beli masyarakat
"Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan usaha rakyat, dan perbaikan kualitas hidup. Angka pertumbuhan harus terasa sampai ke rumah tangga," kata Lamhot di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat.
Lamhot menilai pertumbuhan ekonomi dan investasi tidak cukup diukur melalui angka statistik, tetapi harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026, Presiden Prabowo menyampaikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Baca juga: Prabowo: Pemerintah siap bangun dan revitalisasi 441 RSUD
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tersebut tercatat 5,61 persen secara tahunan dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun.
Dari sisi investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi investasi tersebut juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia.
"Ini menunjukkan bahwa investasi mulai bergerak menjadi aktivitas ekonomi yang nyata," katanya.
Baca juga: Prabowo: Data sensus ekonomi jadi dasar penyusunan kebijakan
Menurut Lamhot, tantangan berikutnya ialah memastikan kualitas investasi semakin baik, terutama investasi yang menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, menyerap tenaga kerja, dan membuka ruang bagi UMKM masuk ke dalam rantai pasok.
Sebagai legislator yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian, Lamhot mengatakan sektor industri pengolahan menjadi salah satu kunci untuk menerjemahkan investasi menjadi nilai tambah di dalam negeri.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDB nasional pada 2025 dengan kontribusi 19,07 persen.
Sektor tersebut juga tumbuh 5,30 persen sepanjang 2025 dan memberikan sumbangan 1,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, Lamhot menilai agenda industrialisasi dan hilirisasi perlu terus diperkuat untuk membangun ekosistem pemasok domestik, memperluas penggunaan produk dalam negeri, meningkatkan kapasitas teknologi, serta menghubungkan industri besar dengan pelaku usaha kecil dan menengah.
"Industri besar harus menjadi lokomotif. Tetapi gerbongnya harus diisi oleh industri nasional, UMKM, tenaga kerja lokal, serta berbagai usaha pendukung. Dengan begitu, multiplier effect investasi akan semakin besar," katanya.
Baca juga: Presiden Prabowo akan perkuat LKPP jadi Badan Pengadaan Pemerintah
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.
Menurut Prabowo, capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global, konflik geopolitik, dan perang dagang.
"Alhamdulillah, karena kerja keras kita, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah, di tengah ketidakpastian global, investasi tetap tumbuh. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun dan telah menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja," ujar Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat.
Baca juga: Puan: APBN 2027 harus jaga daya beli masyarakat






Komentar (0)