HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia (PPKI) dan Putera Kebudayaan Sulawesi Selatan Al Hafsi, turut hadir dalam ASEAN Lumina 2026 yang berlangsung di Benteng Rotterdam, Makassar, 11–14 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran budaya dan diplomasi pemuda yang mempertemukan delegasi dari sejumlah negara Asia Tenggara.
ASEAN Lumina 2026 mengangkat keberagaman budaya dan kearifan lokal kawasan melalui berbagai rangkaian kegiatan, termasuk pameran, seminar, pertukaran gagasan, serta kompetisi storytelling. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus membangun pemahaman mengenai persamaan budaya di antara negara-negara ASEAN.
Rangkaian kegiatan ASEAN Lumina 2026 tidak hanya berlangsung di Benteng Rotterdam, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya secara langsung melalui kunjungan ke sejumlah destinasi bersejarah dan kebudayaan di Sulawesi Selatan, di antaranya Leang-Leang, Museum Kota Makassar, dan Benteng Rotterdam. Para delegasi juga menikmati jamuan makan malam di atas kapal phinisi, yang menjadi salah satu simbol warisan maritim Sulawesi Selatan.
Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Mardi Sontori, dalam sambutannya menekankan pentingnya menemukan dan memperkuat berbagai persamaan budaya yang dimiliki negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Ia berharap para delegasi dapat menjadikan ASEAN Lumina sebagai ruang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, serta membawa pulang kenangan dan pengalaman positif selama mengikuti rangkaian kegiatan.
“Keberagaman budaya seharusnya menjadi jembatan untuk menemukan berbagai persamaan di antara kita. Semoga seluruh delegasi dapat menikmati setiap proses, bertukar pengalaman, dan membawa pulang momen yang indah dari kegiatan ini,” ujar Mardi Sontori.
Sementara itu, Putera Kebudayaan Sulawesi Selatan, Al Hafsi, menilai ASEAN Lumina memiliki arti penting dalam memperkuat diplomasi budaya, khususnya bagi generasi muda.
“Bagi saya, ASEAN Lumina bukan sekadar pertemuan budaya, tetapi ruang untuk menunjukkan bahwa identitas lokal dapat menjadi bagian dari percakapan global. Kita boleh berbeda dalam bahasa, tradisi, dan ekspresi budaya, tetapi selalu ada nilai-nilai yang mempertemukan kita. Dari Sulawesi Selatan, saya ingin membawa semangat bahwa budaya bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk dikenalkan, dipelajari, dan dijadikan jembatan persahabatan antarbangsa,” ungkap Al Hafsi.
Menurutnya, keterlibatan Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia dalam kegiatan internasional seperti ASEAN Lumina juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih aktif dalam diplomasi kebudayaan.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton kebudayaan. Kita harus menjadi pelaku, komunikator, sekaligus penjaga identitas budaya. Ketika kita mampu menceritakan budaya kita kepada dunia dengan cara yang relevan, di situlah diplomasi budaya benar-benar hidup,” tambahnya.
ASEAN Lumina 2026 turut dihadiri sejumlah unsur pemerintah dan pemangku kepentingan kebudayaan Sulawesi Selatan, di antaranya Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik H. Akhmad Namsum, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, jajaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pendidikan Kota Makassar, Dinas Pariwisata Kota Makassar, serta Dinas Kebudayaan Kota Makassar.
Kegiatan ini juga mempertemukan delegasi ASEAN, antara lain Savong Houn dari Kamboja, Abilio da Conceicao Silva dari Timor-Leste, Norazlin Binti Nordin dari Malaysia, Dk Noratul Ain PG Musa dan Afsah Haji Johari dari Brunei Darussalam, serta Ilya Katrinnada dari Singapura, bersama Putra-Putri Kebudayaan Indonesia.
Melalui pertemuan tersebut, ASEAN Lumina 2026 diharapkan tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memperkuat jejaring pemuda, memperluas diplomasi kebudayaan, dan membangun persahabatan lintas negara di kawasan Asia Tenggara. (*)






Komentar (0)