Prestasi Global PENS Menguatkan Daya Saing Vokasi

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Penguatan pendidikan tinggi vokasi mulai menunjukkan hasil tidak hanya dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil yang dibutuhkan dunia usaha dan industri, tetapi juga melahirkan talenta inovatif yang mampu bersaing dan menorehkan prestasi di tingkat global. Kemampuan mengembangkan teknologi dan memecahkan persoalan secara aplikatif menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonomi.

Prestasi mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menjadi salah satu buktinya. Tim Bamantara EEPISAT PENS berhasil meraih juara ketiga dalam Kompetisi CanSat di Virginia, Amerika Serikat, pada Juni 2026. Capaian itu menempatkan mahasiswa vokasi Indonesia di antara talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi dunia.

Dikutip dari laman PENS, Jumat (13/8/2026), Tim Bamantara EEPISAT PENS bersaing dengan 36 tim finalis dari berbagai universitas dunia. Kompetisi CanSat merupakan ajang kedirgantaraan yang menantang mahasiswa merancang, membangun, menguji, dan mengoperasikan satelit mini berukuran kaleng minuman untuk menjalankan misi tertentu secara mandiri. Kompetisi tingkat dunia tersebut diselenggarakan American Astronautical Society (AAS).

Baca JugaSekolah Vokasi di Kawasan Industri

Kompetisi CanSat merupakan salah satu ajang paling prestisius di bidang kedirgantaraan yang menantang mahasiswa untuk merancang, membangun, menguji, dan mengoperasikan satelit mini berukuran kaleng minuman yang mampu menjalankan misi tertentu secara mandiri. Kompetisi satelit mini tingkat dunia ini digelar American Astronautical Society (AAS).

Ketua Tim Bamantara EEPISAT PENS Rafida Aziz Al Habib, mengatakan prestasi tim PENS ini tidak diraih secara instan. Sebelum tampil pada babak final di Amerika Serikat, tim harus melewati serangkaian tahapan seleksi dan evaluasi yang ketat, mulai dari penyusunan proposal desain, Preliminary Design Review (PDR), Critical Design Review (CDR), hingga berbagai pengujian teknis seperti uji termal, uji tekanan, uji jatuh (drop test), dan pengujian sistem komunikasi radio.

Dalam proses persiapan menuju kompetisi internasional tersebut, Tim Bamantara EEPISAT juga melaksanakan serangkaian pengujian dan validasi sistem di fasilitas Pusat Riset Teknologi Satelit (PUSTEKSAT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan pengujian ini mendapat bimbingan dan dukungan langsung dari para ahli di bidang teknologi satelit dan kedirgantaraan dari BRIN.  

Kolaborasi pendidikan vokasi dengan lembaga riset tersebut memperkuat ekosistem pembelajaran yang menghubungkan kampus dengan pengembangan teknologi. Prestasi mahasiswa PENS menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak semata-mata menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga dapat menjadi ruang lahirnya inovator muda yang mampu membawa teknologi Indonesia bersaing di tingkat global.

Selain itu, selama persiapan sebelum kompetisi tim Bamantara EEPISAT juga mendapatkan pendampingan oleh Antarexxa Space Global, serta tim Surya Satelit-1. Melalui pendampingan tersebut, tim memperoleh masukan teknis yang berharga dalam proses pengembangan, integrasi, serta pengujian wahana sehingga kesiapan sistem dapat ditingkatkan sebelum berlaga di ajang AAS Student CanSat Competition 2026.

Keberhasilan Tim Bamantara EEPISAT PENS itu juga tidak lepas dari dukungan berbagai mitra industri yang memberikan bantuan finansial, serta dukungan operasional selama proses pengembangan hingga keberangkatan tim ke Amerika Serikat.

Mendorong inovasi

Direktur PENS Arif Irwansyah mengatakan pencapaian mahasiswa PENS dalam teknologi satelit memperkuat posisi PENS sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi yang terus mendorong inovasi dan pengembangan teknologi berbasis riset. “Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan membawa nama Indonesia semakin dikenal di panggung global,” kata Arif.

Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie Talkshow di acara talkshow mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada UGM tahun 2026 di Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, menegaskan bahwa pendidikan tinggi vokasi menjadi kunci dalam memperkuat daya saing ekonomi Indonesia. Mahasiswa pendidikan vokasi juga harus unggul dalam kemampuan bernalar, belajar, dan berpikir  sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan di dunia kerja.

Baca JugaLulusan Vokasi Makin Siap Bekerja dan Berwirausaha
Baca JugaRahasia Kesuksesan Pendidikan Vokasi di Swiss, Mengapa Sistemnya Diakui Dunia?

Stella menegaskan pentingnya pendidikan tinggi vokasi sebagai fondasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan pengalaman berbagai negara dengan ekonomi maju, kemajuan industri tidak terlepas dari kuatnya sistem pendidikan vokasi yang mampu menghasilkan tenaga kerja terampil dan sesuai dengan kebutuhan.

"Vokasi adalah masa depan Indonesia. Vokasi adalah kunci yang sangat penting untuk membangun ekonomi Indonesia," ujar Stella dalam siaran pers Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Penyerapan lulusan

Berdasarkan data Tracer Study Kemendiktisaintek, kata Stella, tingkat penyerapan lulusan vokasi ke dunia kerja sejak 2020 hingga 2024 berada pada kisaran 77 persen. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan lulusan akademik yang berada pada kisaran 72 persen.

Guna memperkuat relevansi pendidikan tinggi vokasi, Kemendiktisaintek terus mendorong penerapan konsep industry match atau keselarasan dengan industri melalui penyelarasan kurikulum, tenaga pengajar, dan infrastruktur pembelajaran dengan kebutuhan industri. "Di vokasi harus terpenuhi tiga hal, kurikulumnya, pengajarnya, hingga laboratoriumnya harus benar-benar selaras dengan kebutuhan industri," ujar Stella.

Berdasarkan data di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) pada Statistik Pendidikan Tinggi 2025, Indonesia memiliki 755 perguruan tinggi vokasi. Teridri dari 283 politeknik, 443 akademi, dan 29 akademi komunitas.

Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) Muhammad Restu, menyampaikan dosen dan mahasiswa vokasi didorong untuk menunjukkan kemampuan inovasi sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia unggul yang siap mendukung pembangunan nasional.

"Mahasiswa vokasi memiliki peran strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, terampil, inovatif, dan siap kerja untuk menopang akselerasi pembangunan nasional," kata Restu.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Bertekad Teruskan MBG: Dengan Perbaikan dan Efisiensi
• 6 jam lalu
0
thumb
Anggaran Perlindungan Sosial Naik 10% Jadi Rp549,9 Triliun, Ini Peruntukkannya!
• 19 menit lalu
0
thumb
Prabowo Pidato dalam Sidang Tahunan MPR, Mensesneg Sebut Bakal Ada Kejutan
• 11 jam lalu
0
thumb
DSI Bakal Awasi Seluruh Ekspor Komoditas Strategis, Tak Hanya Batu Bara, CPO, dan Paduan Besi
• 7 jam lalu
0
thumb
Belanja Perlindungan Sosial Rp 549,9 T, Pemerintah Perbarui Data Penerima Bansos
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.