Kala Merah-Putih Berkibar di Lapas: Penyesalan dan Harapan Kesempatan Kedua

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Tubuh terkurung di balik tembok dan jeruji besi tak menyurutkan semangat warga binaan Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, merayakan HUT kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

Beragam perlombaan digelar untuk menghidupkan suasana, mulai dari memancing kerupuk, memindahkan jepit sedotan, memindahkan air dengan mata tertutup, spinning, hingga balap karung.

Salah satu warga binaan, RM (31), mengaku senang dapat berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama warga binaan lainnya.

“Alhamdulillah kami sangat senang memeriahkan kemerdekaan, ikut lomba,” ujar RM.

Baca juga: Kerupuk, Sedotan, dan Tawa dari Balik Jeruji Lapas Cipinang

Bukan sekadar lomba

Menurut RM, perayaan tahun ini terasa lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya karena warga binaan dapat mengikuti berbagai kegiatan secara bersama-sama.

Bagi dia, perlombaan bukan semata-mata tentang hadiah, melainkan menjadi ruang untuk membangun kekompakan di tengah kehidupan di dalam lapas.

“Kami memaknai lomba ini dengan senang dan merasa bisa kompak bersama-sama dengan teman di sini,” kata RM.

RM berharap kegiatan serupa tetap digelar pada tahun-tahun berikutnya dengan suasana yang semakin meriah.

Ia juga berharap momentum kemerdekaan membawa kabar baik bagi warga binaan, termasuk kesempatan mendapatkan remisi.

Baca juga: Demo Depan Istana, GMNI Gelar Pesta Rakyat dengan Lomba Lari Dikejar Aparat hingga Tarik Tambang

Bendera merah putih dan rasa bersalah

Bagi warga binaan lainnya, RH (32), perayaan tahun ini justru membuat makna kemerdekaan terasa berbeda dari sebelumnya.

RH yang baru sekitar lima bulan berada di lapas menyebut Agustusan di balik jeruji merupakan pengalaman yang belum pernah dibayangkannya.

Sebelum berada di lapas, RH pernah mengikuti kegiatan 17 Agustus di lingkungan tempat tinggalnya bersama teman dan warga sekitar.

KOMPAS.com/Muhammad Wildan Alghofari Meriahnya warga binaan lapas cipinang mengikuti lomba 17 Agustus

Kini, suasana perayaan di dalam lapas membuatnya menyadari kembali arti kebebasan yang selama ini dianggap biasa.

“Dulu di luar, 17-an cuma sekadar libur atau hura-hura lomba. Di dalam sini, baru kerasa apa ya, enaknya yang namanya kebebasan,” kata RH.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Bagi RH, kemerdekaan yang ia rasakan tahun ini bukan berarti bebas secara fisik, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Transformasi Emas di Era AI, Menjangkau Masyarakat SulSelBarRa dan Maluku Lewat Gold Experience Pegadaian
• 2 menit lalu
0
thumb
BMKG Rilis Potensi Awan Cumulonimbus 14-20 Agustus 2026, Tak Ada Wilayah Masuk Zona FRQ
• 22 jam lalu
0
thumb
Musim Panjat Pinang, Musim Rezeki Kafi dan 8 Pekerjanya
• 7 jam lalu
0
thumb
Prabowo: Indonesia swasembada delapan komoditas pangan dalam setahun
• 7 jam lalu
0
thumb
Mentan Amran Perintahkan Menu MBG Telur 3 Kali Seminggu
• 12 menit lalu
0
Berhasil disimpan.