CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nama Jalan Ince Nurdin mungkin sudah akrab bagi warga yang beraktivitas di pusat Kota Makassar. Jalan tersebut berada di kawasan Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, dan menjadi bagian dari kawasan kota yang menyimpan banyak jejak sejarah.
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar sendiri mencatat Jalan Ince Nurdin sebagai salah satu ruas jalan di wilayah tersebut.
Namun, nama itu bukan sekadar penanda lokasi. Di baliknya terdapat sosok Ince Nurdin, yang juga dikenal sebagai Ince Nuruddin Daeng Magassing, seorang intelektual dan guru yang memiliki peran penting dalam pendokumentasian kebudayaan Sulawesi Selatan.
Sejumlah catatan sejarah menyebut Noeroeddin Daeng Magassing lahir di Makassar pada 1870 dan wafat pada Desember 1943 dalam usia 73 tahun.
Ia dikenal sebagai pengajar bahasa Bugis-Makassar pada Osvia, sekolah yang mendidik calon aparatur pemerintahan pada masa kolonial.
Setelah pensiun, kiprahnya tidak berhenti. Ia justru mencurahkan pengetahuan dan tenaganya untuk penelitian serta pelestarian kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Perannya semakin penting ketika ia bekerja bersama Prof. Dr. A.A. Cense, seorang ahli bahasa dan kebudayaan yang menaruh perhatian besar terhadap Sulawesi Selatan.
Ince Nurdin menjadi salah satu pembantu utama Cense dalam menggali berbagai pengetahuan mengenai bahasa, adat istiadat, sastra, dan tradisi masyarakat setempat.
Jejak tersebut berkaitan dengan Matthes-Stichting, lembaga yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Dalam proses pengumpulan dan penelitian bahan-bahan kebudayaan, pengetahuan lokal Ince Nurdin menjadi modal penting karena ia memahami bahasa, adat, serta tradisi masyarakat Sulawesi Selatan dari dalam.
Ince Nurdin juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap tradisi tulis dan naskah lokal. Kajian mengenai integrasi masyarakat Melayu di Sulawesi Selatan yang dipublikasikan melalui Universitas Hasanuddin mencatat nama Ince Nurdin sebagai salah satu tokoh penting dalam tradisi penulisan Lontara Bugis-Makassar.
Warisan tersebut menunjukkan bahwa perannya tidak hanya sebagai seorang guru, tetapi juga sebagai penghubung antara pengetahuan lokal dan dunia penelitian pada zamannya.
Ia membantu menjaga agar berbagai pengetahuan mengenai masyarakat Sulawesi Selatan tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Salah satu jejak intelektual Ince Nurdin dapat dilihat melalui karyanya berjudul “Riwaya’na Tuanta Salamaka Syekh Yusuf”, yang mengisahkan perjalanan hidup Syekh Yusuf al-Makassari.
Karya tersebut ditulis dalam aksara Lontara Makassar dan dicetak pada 1933, menjadi salah satu catatan penting yang merekam sejarah tokoh ulama dan pejuang asal Gowa tersebut.
Karya ini sekaligus memperlihatkan perhatian Ince Nurdin terhadap tradisi penulisan dan pelestarian sejarah lokal Sulawesi Selatan.
Jejak Ince Nurdin juga masih terasa di kawasan yang kini menyandang namanya. Data resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sejumlah satuan pendidikan beralamat di Jalan Ince Nurdin, antara lain SMKN 7 Makassar dan SMAS Gamaliel.
Bahkan, kawasan ini menyimpan bangunan bersejarah. Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar pada Maret 2025 mencatat pendataan sebuah rumah tinggal bergaya kolonial di Jalan Ince Nurdin.
Bangunan tersebut diperkirakan dibangun sekitar dekade 1930–1940-an dan dinilai memiliki nilai historis serta budaya bagi perkembangan Kota Makassar.
Kehadiran bangunan-bangunan lama di sepanjang kawasan itu membuat Jalan Ince Nurdin bukan hanya menjadi ruang mobilitas warga, tetapi juga bagian dari lanskap sejarah kota.
Nama jalan, bangunan kolonial, institusi pendidikan, dan jejak kebudayaan bertemu dalam satu kawasan yang merekam perjalanan panjang Makassar.
Menariknya, kata “Ince” sendiri memiliki konteks sejarah sosial di Sulawesi Selatan. Sebuah kajian antropologi Universitas Negeri Makassar menjelaskan bahwa sebutan tersebut berkaitan dengan kata Encik dalam bahasa Melayu dan digunakan sebagai gelar dalam komunitas keturunan Melayu di Sulawesi.
Karena itu, ketika warga Makassar menyebut Jalan Ince Nurdin, sebenarnya mereka sedang menyebut lebih dari sekadar sebuah alamat.
Nama tersebut membawa ingatan tentang seorang guru, intelektual, dan pemerhati kebudayaan yang hidup pada masa ketika pengetahuan lokal harus diperjuangkan agar tetap terdokumentasi.
Lebih dari delapan dekade setelah wafatnya, nama Ince Nurdin masih hadir dalam kehidupan sehari-hari warga Makassar.
Ia hidup dalam nama jalan, alamat sekolah, dan ingatan sejarah kota—sebuah cara sederhana, tetapi penting, untuk menjaga warisan seorang putra Makassar yang mengabdikan hidupnya pada ilmu pengetahuan dan kebudayaan.





Komentar (0)