Jakarta, tvOnenews.com - Film pendek tidak selalu harus menjadi sekadar ruang untuk bereksperimen dengan cerita dan visual. Bagi rumah produksi film Playvul NYRA, medium tersebut juga menjadi cara untuk membicarakan isu sosial yang sensitif dan kerap sulit dibahas secara terbuka.
Hal itu terlihat dari perjalanan tiga film pendek mereka, yakni More Pain, More Gain, Ambang Batas, dan Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa, yang telah diputar dan berkompetisi di sejumlah festival film internasional.
Ketiganya membawa isu yang berbeda, mulai dari toxic masculinity, dinamika kultus modern, hingga kekerasan seksual terhadap perempuan.
Film-film tersebut juga memperlihatkan keberanian Playvul NYRA mengeksplorasi berbagai genre, mulai dari body horror satir hingga psychological thriller.
Perjalanan tersebut membawa karya-karya Playvul NYRA ke sejumlah festival seperti Fantasia International Film Festival, Tampere Film Festival, Balinale, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), hingga Short Shorts Film Festival & Asia di Tokyo.
Salah satu karya mereka, More Pain, More Gain, bahkan meraih penghargaan Winner Short Film Competition di Stockholm International Fantastic Film Festival dan Monsters of Film 2024.
Film tersebut kemudian menjadi Official Selection di Fantasia International Film Festival 2025, Fantaspoa 2025, serta Lift-Off Global Network Berlin 2025.
Sementara itu, Ambang Batas terpilih di dua festival Oscar-qualifying, yakni Tampere Film Festival melalui kompetisi Generation XYZ dan Balinale. Film tersebut juga diputar di Final Girls Berlin Film Festival, London International Fantastic Film Festival, Anatolia International Film Festival, dan Cyprus International Film Festival.
Adapun Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa meraih penghargaan Winner 2026 Tapestry of Indonesia di Balinale dalam kategori Live-Action Asia International Competition. Film tersebut juga menjadi bagian dari Short Shorts Film Festival & Asia 2026 di Tokyo dan turut diputar di JAFF.
Bagi Playvul NYRA, perjalanan tersebut bukan hanya soal membawa film Indonesia ke festival internasional. Ketiga film tersebut berangkat dari kegelisahan para kreatornya terhadap persoalan yang masih relevan dalam kehidupan sehari-hari.





Komentar (0)