Empat Dekade Konservasi Gajah Sumatera di TN Way Kambas

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Upaya konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, telah berjalan lebih dari empat dekade. Taman nasional itu bukan sekadar rumah bagi gajah. Di sana juga tersimpan kisah perjalanan hidup gajah hingga persahabatan antara gajah dengan manusia.

Setiap pagi, Kartijah, gajah sumatera betina berusia 45 tahun, berjalan menyusuri padang ilalang di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Ia kerap menyusur bersama Yongki, bayi gajah jantan berusia tiga tahun, serta seorang pawang gajah bernama Suharno (55).  

Kartijah dan Yongki bukanlah induk dan anak kandung. Yongki sebatang kara sejak induknya mati karena sakit pada 2025. Selepas kematian sang induk, Yongki diasuh Kartijah.

Selama ini, Kartijah memang menjadi ”induk angkat” bagi anak gajah yang kehilangan induk kandungnya. Yongki bukan satu-satunya anak gajah yang pernah diasuh Kartijah. Lebih kurang ada 10 gajah lain yang tumbuh bersamanya.

”Kartijah ini memang peduli dengan anak gajah. Kalau ada anak gajah yang teriak, dia langsung mendekat seolah mau menenangkan. Kalau ada anak gajah yang ingin ikut dengannya, juga tidak pernah menolak,” kata Suharno kepada Kompas, beberapa waktu lalu.

Suharno yang telah menjadi mahout selama lebih dari 10 tahun terakhir juga sudah menjadi sahabat bagi Kartijah. Betapa tidak, setiap pagi ia memandikan Kartijah.

Setelah itu, Suharno akan menggembalakan gajah jinak itu ke hutan. Menjelang sore, Suharno akan berjalan kaki mencari jejak Kartijah bersama anak asuhnya untuk kembali dimandikan.

Menurut Suharno, Kartijah merupakan salah satu penghuni awal TNWK. Kartijah diselamatkan saat berusia sekitar dua tahun. Dia terperosok ke dalam sumur di wilayah kawasan Susukan Baru, TNWK. Setelah dievakuasi, Kartijah dirawat di Way Kambas.

Pemilihan nama Kartijah bukan tanpa alasan. Kartijah adalah akronim dari Kartini-nya gajah. Nama itu diberikan padanya karena diselamatkan pada 21 April 1985, bertepatan dengan Hari Kartini. Penyelamatan Kartijah juga ikut mendorong berdirinya Pusat Latihan Gajah pada tahun 1985, yang saat ini berubah nemanya menjadi Pusat Konservasi Gajah.

Baca JugaKartijah, Induk Angkat Gajah Sumatera di Way Kambas, Lampung
Perjalanan konservasi

Kepala Balai TN Way Kambas MDH Zaidi mengatakan, upaya konservasi gajah di TN Way Kambas telah melalui perjalanan panjang. Saat ini, populasi gajah liar yang hidup di hutan TNWK diperkirakan berjumlah 160-185 ekor. Adapun gajah jinak yang dirawat di Pusat Konservasi Gajah dan Elephant Response Unit (ERU) berjumlah 61 ekor. 

Selama ini gajah jinak dipelihara di alam, dengan campur tangan manusia. Gajah-gajah jinak itu dirawat para pawang atau mahout gajah yang menjaga gajah sepanjang hari. Kelahiran bayi-bayi gajah di TNWK menjadi salah satu bukti keberhasilan pengembangbiakan gajah di TNWK. Selama kurun waktu 2023-2025, tercatat ada tujuh ekor gajah jinak yang lahir di TNWK.

Pada awal pendiriannya, kata Zaidi, pendekatan pengelolaan konservasi di TNWK lebih banyak berorientasi pada upaya penyelamatan, penjinakan, pelatihan, dan penanganan gajah yang berada dalam kondisi konflik. Dalam perjalanannya, terjadi perubahan paling signifikan terkait dengan paradigma konservasi gajah.

Kini, upaya konservasi gajah tidak hanya dilihat melalui paradigma gajah sebagai individu satwa liar, tetapi kesatuan dari ekosistem dan lanskap. Konservasi tidak sekadar menghitung populasi gajah, tetapi juga melakukan upaya untuk menjaga habitat gajah tetap aman.

”Dalam perkembangannya, pendekatan tersebut semakin bergeser menuju konservasi yang lebih komprehensif, yaitu tidak hanya menyelamatkan individu gajah, tetapi juga memastikan keberlangsungan populasi gajah liar, menjaga habitat, memperkuat penanganan konflik manusia dan gajah, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat,” kata Zaidi kepada Kompas, pada Kamis (13/8/2026).

Menurut Zaidi, upaya konservasi gajah di TNWK dilakukan dengan memastikan kawasan TN Way Kambas tetap berfungsi sebagai habitat yang mampu mendukung kehidupan satwa liar. Gajah membutuhkan ruang yang luas untuk bergerak, mencari pakan, mencari air, dan berinteraksi dalam kelompok sosialnya. Pengelolaan habitat dilakukan melalui perlindungan kawasan, pengelolaan vegetasi, pemeliharaan sumber air, pengendalian gangguan, serta pemantauan pergerakan satwa.

Kartijah ini memang peduli dengan anak gajah. Kalau ada anak gajah yang teriak, dia langsung mendekat seolah mau menenangkan.

Tak hanya itu, pihaknya juga memperkuat pengelolaan kawasan yang menjadi habitat gajah dengan pendekatan lanskap. Artinya, ruang hidup gajah tidak hanya dilihat sebagai titik lokasi keberadaan satwa, tetapi sebagai satu kesatuan ruang ekologis yang aman.

”Taman nasional juga harus dikelola melalui pendekatan kolaboratif dengan pemerintah daerah dan masyarakat karena sebagian pergerakan gajah dapat bersinggungan dengan ruang kehidupan masyarakat,” katanya.

Baca JugaKisah Penjaga Gajah Liar Way Kambas, Tembus Rawa hingga Kerahkan Gajah Jinak
Tantangan

Upaya konservasi gajah di Way Kambas memang masih menghadapi berbagai tantangan. Konflik dengan manusia dan laju kematian gajah akibat penyakit menjadi persoalan krusial yang dihadapi saat ini.

Pada 22 Juni 2026, misalnya, seekor gajah jantan bernama Indra mati saat dirawat di Pusat Latihan Gajah. Gajah jinak berusia 42 tahun itu mendapat perawatan setelah jatuh sakit dan ambruk ketika sedang mandi di rawa. Rentetan kematian gajah yang sebagian besar disebabkan penyakit juga terjadi beberapa tahun terakhir.

Tantangan lainnya adalah tekanan terhadap ruang jelajah gajah dan kondisi habitat. Musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan menyebabkan ketersediaan pakan dan air di hutan menipis. Karena itu, pengelola TNWK meningkatkan patroli untuk menjaga habitat satwa.

”Pengelolaan habitat menjadi sangat penting karena gajah membutuhkan jumlah pakan dan air yang besar. Kami sudah melakukan pemantauan habitat, sumber air, dan pergerakan satwa secara intensif. Lokasi strategis yang paling sering dikunjungi satwa disediakan bak penampung air minum,” katanya.

Selama ini, pengelola TNWK bersama masyarakat juga berjibaku menangani konflik gajah liar dengan manusia yang terjadi di sekitar desa penyangga. Dalam beberapa kasus, konflik tersebut juga menimbulkan korban jiwa.

Zaidi menuturkan, TNWK sebenarnya sudah melakukan berbagai strategi mitigasi dan penanganan konflik. Salah satunya dengan membentuk Elephant Response Unit (ERU), menerjunkan petugas, hingga melibatkan masyarakat sebagai mitra untuk membantu mitigasi dan penanganan konflik.

Mitigasi konflik dilakukan dengan memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini melalui GPS, pemantauan jalur pergerakan gajah, hingga pembangunan pembatas kawasan oleh pemerintah pusat.

”Pembangunan pembatas kawasan merupakan bukti nyata perhatian Bapak Presiden dan Menteri Kehutanan dalam upaya konservasi gajah dan mengurangi interaksi langsung antara gajah liar dan masyarakat. Walaupun terdapat pembatas, kehadiran petugas bersama semua pihak tetap akan dilakukan sebagai upaya kolaborasi bersama,” katanya.

Zaidi menilai, tantangan konservasi gajah akan semakin kompleks dalam 5-10 tahun ke depan. Konservasi gajah menghadapi tantangan multidimenasi, mulai dari tekanan terdapat habitat, risiko kebakaran hutan, konflik dengan manusia, hingga dampak perubahan iklim.

    

Dia mengatakan, perubahan iklim juga berpengaruh pada kondisi kesehatan gajah. Karena itu, sistem pemantauan perlu diperkuat, termasuk sistem surveilans penyakit, pemeriksaan kesehatan, laboratorium, dan penerapan pendekatan one health.

Zaini menambahkan, konservasi gajah juga sangat membutuhkan dukungan masyarakat luas. ”Keberhasilan konservasi tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas taman nasional. Pemerintah daerah, masyarakat desa penyangga, akademisi, dunia usaha, lembaga konservasi, dan masyarakat luas perlu menjadi bagian dari ekosistem konservasi,” ujarnya.

Saat ini, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah membangun sistem agar gajah dapat hidup di habitatnya dan masyarakat di desa penyangga hutan bisa menjalankan hidup dengan aman.

”Inilah arah konservasi yang sedang diperkuat di Way Kambas, dari pendekatan penanganan konflik menuju pengelolaan ekosistem, perlindungan habitat, penguatan populasi, dan pembangunan harmonisasi antara manusia dan satwa liar,” kata Zaidi.

Baca JugaUpaya Konservasi Gajah di Lampung Berpacu dengan Waktu

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bebizie Diperiksa KPK soal Kasus Kukar, Singgung soal Honor Nyanyi
• 10 jam lalu
0
thumb
Vale Targetkan Blok Tanamalia Beroperasi 2029, Bakal Dibangun Ekosistem Baterai
• 18 jam lalu
0
thumb
Sopir Taksi Online Ditemukan Tewas di Deli Serdang: Kaki Terikat Tali Plastik
• 6 jam lalu
0
thumb
HUT ke-81 RI, Tarif TransJakarta, MRT, dan LRT Jakarta Jadi Rp8 pada 17 Agustus
• 20 jam lalu
0
thumb
Pegadaian & Komunitas Ojek Dorong Pengelolaan Keuangan Cerdas Untuk Usaha Makin Kuat
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.