JAKARTA, KOMPAS.TV- Besarnya timbunan sampah di Indonesia dinilai menyimpan potensi energi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, sebagian besar sampah yang dihasilkan justru masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan pengolahan dan pemanfaatan yang terbatas.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbunan sampah Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen masih berakhir di TPA yang minim pengolahan dan pemanfaatan.
Kondisi tersebut membuat kandungan energi dan material dalam limbah belum dimanfaatkan secara optimal. Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Rochim Bakti Cahyono mengatakan biomassa dan limbah sebenarnya berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi sekaligus mengurangi timbunan sampah.
Baca Juga: Meresahkan! Gunungan Sampah di TPS Ilegal, Pramono Anung: Pengelola akan Disanksi | KOMPAS SIANG
“Potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” kata Rochim, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (13/8/2026).
Ia juga menyoroti pandangan masyarakat yang masih menganggap sampah sebagai konsekuensi dari proses produksi dan konsumsi. Cara pandang tersebut membuat pengelolaan sampah cenderung berorientasi pada pembuangan akhir atau end-of-pipe treatment.
Padahal, kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk, sementara energi fosil masih mendominasi bauran energi nasional. Menurutnya, biomassa dan limbah memiliki karakter yang berbeda dari sumber energi terbarukan lainnya.
Pemanfaatannya tidak hanya dapat menghasilkan energi, tetapi juga berpotensi mengurangi timbunan sampah dan emisi. Namun, pemanfaatan biomassa dan limbah sebagai sumber energi memerlukan teknologi yang sesuai dengan karakteristik bahan bakunya.
Dalam risetnya, Rochim mengembangkan konsep Resource Transformation Engineering yang memandang limbah dan biomassa sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi energi, material, hingga produk bernilai tambah. Konsep tersebut bertumpu pada lima pilar utama, yakni sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah, sistem industri berkelanjutan, serta dampak nyata bagi masyarakat.
Teknik kimia memiliki peran penting dalam penerapan konsep tersebut karena mampu menghubungkan karakteristik bahan baku, desain proses, dan kebutuhan industri dalam satu sistem yang efisien. Meski demikian, pengembangan teknologi waste-to-energy tidak dapat dilakukan dengan sekadar mengadopsi teknologi dari negara lain.
Baca Juga: Masalah Gunung Sampah di Indonesia! Ini Target Presiden Prabowo
Karakteristik sampah di setiap wilayah berbeda sehingga teknologi yang telah terbukti berhasil di luar negeri belum tentu memberikan hasil serupa ketika diterapkan di Indonesia tanpa penyesuaian terhadap kondisi sampah lokal. Tantangan tersebut, salah satunya, juga muncul dalam pengembangan biogas sebagai upaya meningkatkan ketahanan energi sekaligus nilai tambah untuk limbah organik.
Penulis : Switzy Sabandar Editor : Gading-Persada
Sumber : ugm.ac.id
- Sampah
- UGM
- Energi
- Sampah jadi Sumber energi
- energi dari sampah
- biomassa






Komentar (0)