PT Vale Indonesia (INCO) mengatakan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) mereka di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara telah selesai tahap konstruksi fisik dan mekanis.
Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Budiawansyah mengatakan fasilitas tersebut dikembangkan bersama PT Kolaka Nickel Indonesia, perusahaan patungan Perseroan dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Co. perusahaan patungan Perseroan dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Co.
“(Smelter di Pomalaa) secara proses konstruksi mekaniknya sudah selesai, tinggal proses uji coba komisioning,” kata Budi dalam media gathering di Jakarta, Kamis (13/8).
Smelter ini lokasinya terintegrasi dengan tambang Vale. Proyek penambangan dioperasikan oleh PT Vale Indonesia Tbk. Menurut laman resmi perusahaan keberadaan smelter HPAL bertujuan untuk memproduksi nikel mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik. Selain itu juga dibangun berbagai fasilitas pendukung.
Output tahunan yang diperkirakan dari proyek ini mencapai 120.000 ton nikel dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam produk MHP. Investasi yang dikeluarkan di Blok Pomalaa untuk tambang dan fasilitas HPAL mencapai US$ 4,5 miliar.
Berdasarkan paparan perusahaan, smelter ini membutuhkan pasokan bijih nikel limonit sebanyak 21 juta ton per tahun dan saprolit 720 ribu ton per tahun.
Budi menyebut proses uji coba komisioning ini tidak akan berlangsung lama. “(Peresmian) tinggal menunggu hari baik, yang penting secara fisik (smelter ini) sudah siap beroeprasi,” ujarnya.
PT Vale Indonesia Tbk sebelumnya telah melakukan peletakan batu pertama tahap konstruksi infrastruktur untuk Indonesia Growth Project atau IGP di Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Vale bekerja sama PT Leighton Contractors Indonesia alias LCI untuk membangun infrastruktur pendukung, yang meliputi Workshop, Office Area, Operational Camp, Main Entrance, serta fasilitas pendukung lainnya, termasuk Operation Building, Maintenance Building, Residence, dan Support Building. Proyek yang dikembangkan oleh LCI itu ditargetkan rampung dalam 26 bulan, hingga 31 Oktober 2026,.
Blok Pomalaa menyimpan potensi besar dari jenis bijih limonite yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Melalui teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), Vale membuka peluang baru untuk menjadikan limonite sebagai sumber daya strategis bagi bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Sejak awal 2022 kami menggandeng Huayou yang memiliki keunggulan teknologi HPAL. Proyek ini menjadi simbol bahwa limonite Kolaka bisa menjadi sumber kesejahteraan, bukan limbah. Kami tidak bisa melakukannya sendiri, kami berkolaborasi dengan mitra seperti LCI,” ujar Head of Pomalaa Project PT Vale Mohammad Rifai dalam siaran pers, dikutip Kamis (31/7). Dilansir dari laman resmi, PT Vale berperan memasok bijih nikel, sedangkan Huayou memastikan pengolahan nikel di pabrik berbasis HPAL.





Komentar (0)