JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela memastikan, pemerintah Indonesia terus berupaya menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan.
Hal ini disampaikan merespons asap karhutla yang masuk ke wilayah Sarawak, Malaysia, sehingga mengganggu kegiatan masyarakat di negara tetangga tersebut.
"Pemerintah secara umumnya itu melakukan berbagai koordinasi untuk langkah-langkah pencegahan dan juga penanganan yang terpadu dengan meminimalisir dampak ini bagi masyarakat dan juga bagi lingkungan," ujar Nabyl saat konferensi pers di Kantor Kemenlu, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: 108 Sekolah di Malaysia Tutup Imbas Kabut Asap dari Kalimantan
Nabyl mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memadamkan api, seperti skema water bombing hingga modifikasi cuaca.
"Penguatan kesiapsiagaan patroli, kemudian pemadaman darat, water bombing, modifikasi cuaca itu semua terus dilakukan secara terpadu termasuk juga langkah-langkah hukum," ucapnya.
Dia menyebut, pemerintah akan terus melakukan upaya pemadaman karhutla dengan atau tidak adanya protes dari negara tetangga.
"Jadi langkah-langkah ini dilakukan secara ongoing terlepas dari ada atau tidaknya keberatan resmi yang kita terima dari negara mana pun," ucapnya.
Baca juga: Asap Karhutla Picu Polusi, Kualitas Udara Palembang Kian Memburuk
Nabyl menjelaskan, pemerintah melakukan koordinasi sebagai langkah pencegahan dan penanganan karhutla dengan melibatkan berbagai kementerian.
"Kita di Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan berbagai kementerian yang lain dan juga dengan negara-negara lain, termasuk juga dengan memanfaatkan mekanisme pemantauan dan pertukaran informasi di bawah kerangka ASEAN yang memang sudah ada dengan kerangka ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution," kata dia.
Kabut asap ganggu kegiatan belajar di MalaysiaSebelumnya diberitakan, kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Sarawak, Malaysia, berdampak pada kegiatan belajar mengajar.
Enam sekolah di kawasan Tebedu, yang berada dekat perbatasan Malaysia-Indonesia, ditutup sementara setelah Indeks Pencemaran Udara (IPU) di wilayah tersebut menembus angka 200.
Enam sekolah yang ditutup adalah Sekolah Kebangsaan (SK) Sejijag, SK Sungai Sameran, SK Tepoi, SK Entubuh, SK Temong, dan SK Tema.
Berdasarkan laporan Harian Metro Malaysia, penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan siswa serta seluruh warga sekolah.
Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS) pada Rabu (12/8/2026) menyatakan, penutupan sekolah dilakukan sesuai ketentuan Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) terkait kondisi kabut asap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)