Pantau - PT Pelindo Marine Service atau Pelindo Marine, anak usaha PT Pelindo Jasa Maritim, merelokasi Floating Regasification Unit (FRU) dan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dari kawasan Bali Cruise Ship Terminal (BCST) Benoa menuju Area Pengembangan 2 (AP2) untuk mendukung pengembangan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH).
Pemindahan dua fasilitas energi terapung tersebut dilakukan dengan tetap menjaga keandalan pasokan energi bagi masyarakat Bali.
Direktur Komersial, Operasi dan Teknik PT Pelindo Marine Service Elvin Syah Putra mengatakan proses relokasi didukung sinergi berbagai pihak dan melibatkan sedikitnya tiga kapal tunda.
"Relokasi FRU dan FSRU didukung oleh sinergi seluruh pihak serta armada kapal tunda KT Jayanegara 303, KT Bima 324 dan KT Bima 315," ungkapnya.
Tiga Kapal Tunda Dikerahkan dalam RelokasiPelindo Marine mengerahkan KT Jayanegara 303, KT Bima 324, dan KT Bima 315 untuk mendukung pemindahan FRU dan FSRU menuju AP2.
Relokasi tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam penataan kawasan BMTH sekaligus memastikan kebutuhan infrastruktur energi Bali tetap terpenuhi.
Direktur Utama PT Pelindo Energi Logistik (PEL) Jeffry Y. Priastono menjelaskan FRU merupakan infrastruktur strategis dalam sistem pasokan energi Bali.
FRU Lumbung Dewata memiliki kapasitas regasifikasi sebesar 41 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).
Gas yang diproses melalui FRU digunakan untuk memasok pembangkit listrik PLN di Bali sehingga fasilitas tersebut berperan penting dalam menjaga ketersediaan tenaga listrik di Pulau Dewata.
"FRU Lumbung Dewata merupakan bagian penting dari rantai pasok energi Bali. Relokasi ini memastikan fasilitas tetap beroperasi optimal sekaligus mendukung pengembangan kawasan Benoa sebagai pusat pariwisata maritim modern," kata Jeffry.
Relokasi dirancang agar FRU Lumbung Dewata tetap dapat beroperasi secara optimal meskipun lokasinya dipindahkan sebagai bagian dari penataan kawasan Benoa.
Pada saat yang sama, pemindahan fasilitas tersebut membuka ruang bagi pengembangan kawasan Benoa sebagai pusat pariwisata maritim modern melalui proyek BMTH.
Menurut Jeffry, relokasi FRU dan FSRU menunjukkan pengembangan kawasan pariwisata modern dapat berjalan selaras dengan kebutuhan infrastruktur energi.
Infrastruktur energi tersebut menjadi salah satu tulang punggung aktivitas masyarakat sekaligus mendukung kegiatan industri pariwisata di Bali.
BMTH Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Maritim Kelas DuniaSub Regional Head Sub Regional Bali Nusra Regional 3 Pelindo Fariz Hariyoso menyatakan pemindahan FRU dan FSRU merupakan bagian dari penataan kawasan Bali Maritime Tourism Hub.
Penataan BMTH diarahkan untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata maritim kelas dunia yang terintegrasi dengan kebutuhan infrastruktur energi.
Pengembangan tersebut dirancang agar pembangunan sektor pariwisata tidak mengesampingkan kebutuhan dasar masyarakat maupun industri di Bali.
Pelindo memastikan relokasi FRU dan FSRU dilakukan tanpa mengganggu keandalan pasokan tenaga listrik di Bali.
Dengan relokasi tersebut, Pelindo menjalankan dua kepentingan secara bersamaan, yakni pengembangan Bali Maritime Tourism Hub dan pemeliharaan keandalan pasokan energi Bali.
Pelindo memandang sektor pariwisata dan energi perlu berkembang secara berdampingan karena keduanya memiliki peranan penting bagi aktivitas ekonomi Bali.
Sinergi pengembangan sektor pariwisata dan energi diharapkan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat sekaligus mendukung perekonomian daerah Bali.





Komentar (0)