BOGOR, KOMPAS.com - Sejumlah pengamen jalanan berdatangan ke Taman Heulang, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).
Langkah mereka terhenti pada suatu barisan yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Tangannya tidak lagi memegang gitar maupun djimbe.
Di lapangan terbuka itu, mereka bukan sedang menunggu giliran untuk bernyanyi di hadapan banyak orang.
Mereka sedang menunggu giliran dipanggil petugas Pemkot Bogor untuk menerima alat penunjang program padat karya seperti sapu hingga kaleng cat.
Baca juga: Coba Pikirkan Nasib Selanjutnya ke Mana Sopir Angkot Bogor Minta Padat Karya Tak Hanya 10 Hari
Saat menjalani program itu, peserta diberikan insentif sebesar Rp 120.000 per hari. Kegiatannya berlangsung selama 10 hari kerja.
Di luar insentif, para peserta juga mendapatkan makan dan minum hingga BPJS Ketenagakerjaan.
Salah satu pengamen jalanan, Rika Kartini (52) mengatakan, meski program tersebut hanya berlangsung selama 10 hari, dapat membantu pemasukannya.
Namun, setelah program tersebut selesai, kemungkinan ia akan kembali mengamen di jalan.
Dirinya kembali mengamen kembali di wilayah Lodaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Bisa bekerja kembali, keinginannya sih. Cuma kalau memang tidak ada, ya mungkin ke jalan lagi, ngamen lagi karena kan kebutuhan sehari-hari kan tidak bisa gimana ya, ditunda," kata Rika saat ditemui Kompas.com di Taman Heulang, Kamis.
Saat mengamen di jalan, penghasilan per harinya menyentuh Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Ia mengamen mulai pukul 13.00-18.00 WIB.
Baca juga: Tak Lagi Narik, Mantan Sopir Angkot Uzur di Bogor Kini Dibayar Rp 120.000 Sehari Bersihkan Kota
Ia berharap Pemkot Bogor dapat memberikan pengarahan terkait pekerjaan bagi para pengamen jalanan.
Menurut dia, para pengamen jalanan memiliki keinginan keras untuk bekerja.
"Karena mereka pun tidak berkeinginan ibaratnya ngamen atau di jalan terus, tidak mau lah. Ingin ada pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari mereka-mereka orang, keluarga," ujar dia.
Komentar (0)