Transaksi Belanja di Asia Pasifik Makin Bergeser ke Media Sosial

medcom.id
11 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Perubahan perilaku konsumen di Asia Pasifik mendorong media sosial menjadi bagian penting dalam proses belanja, mulai dari menemukan produk, melihat rekomendasi kreator, menonton livestream, hingga melakukan transaksi. 
 
Tren tersebut menjadi salah satu fokus yang disampaikan Meta dalam pemaparan pers regional bersama Vice President, Asia Pacific, Meta  Benjamin Joe.  Menurut Meta, karakter konsumen Asia Pasifik yang semakin terbiasa menemukan dan membeli produk melalui media sosial turut mendorong pengembangan berbagai fitur perdagangan di Facebook dan Instagram.
  Baca juga: Meta Hadapi Gugatan USD1,4 Triliun Terkait Keselamatan Pengguna Muda           
Data Holiday Shopping Study yang dilakukan Meta bersama Ipsos menunjukkan, 50% konsumen di Asia Pasifik berbelanja secara online melalui media sosial, lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumen global sebesar 37%.
 
Momentum belanja di kawasan ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Sebanyak 69% konsumen Asia Pasifik berbelanja pada momen 12.12, lebih tinggi dibandingkan Black Friday yang mencapai 49%. Sementara itu, 47% konsumen berbelanja pada momen Tahun Baru, jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Utara yang berada di 19%.
 
“Kami tidak sekadar membangun koleksi produk. Namun kami membangun ekosistem yang bisa membantu pengguna menemukan produk dan layanan dalam keseharian mereka,” kata Joe.

Ia menjelaskan, perjalanan konsumen kini semakin terintegrasi. Konsumen dapat menemukan produk melalui livestream, memperoleh rekomendasi dari kreator yang mereka ikuti, kemudian bertanya mengenai produk melalui chat sebelum mengambil keputusan pembelian. Kreator Jadi Penggerak Transaksi Peran kreator menjadi semakin penting dalam ekosistem perdagangan digital Asia Pasifik. Tingkat kepercayaan konsumen terhadap rekomendasi dan ulasan produk dari kreator di kawasan tersebut disebut lebih tinggi dibandingkan kawasan lain di dunia.
 
Konsumen yang menemukan produk melalui platform Meta juga tercatat berbelanja 1,3 kali lebih banyak, menjadi yang tertinggi dibandingkan kawasan lainnya.
 
Untuk memperkuat hubungan antara kreator, konsumen, dan pelaku usaha, Meta mengembangkan sejumlah fitur perdagangan, termasuk program affiliate, tag produk, iklan kemitraan, serta livestream.
 
Melalui program affiliate, kreator dapat bekerja sama dengan mitra ritel dan memperoleh komisi dari penjualan produk yang direkomendasikan melalui konten mereka.
 
Program tersebut telah diperluas di Asia Pasifik bersama sejumlah platform e-commerce, antara lain Shopee untuk Facebook dan Instagram, Lazada di Asia Tenggara, serta Flipkart dan Myntra di India.
 
Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik telah menghubungkan akun Facebook mereka dengan program affiliate. Dalam satu bulan terakhir, para kreator memperoleh lebih dari US$24 juta dalam bentuk komisi melalui affiliate posts, termasuk Reels, di Facebook.
 
Meta juga memungkinkan kreator menambahkan tag produk secara langsung ke dalam konten, sehingga konsumen tidak perlu mencari tautan pembelian melalui bio kreator. Livestream dan Chat Perkuat Perjalanan Belanja Livestream menjadi salah satu format yang semakin berperan dalam proses penemuan produk. Meta menyebut mayoritas audiens di Asia menonton livestream setiap pekan.
 
Format tersebut memungkinkan pelaku usaha memperkenalkan produk secara langsung sekaligus berinteraksi dengan calon pembeli. Meta juga mengembangkan iklan berbentuk video live yang memungkinkan penayangan dimulai dalam waktu sekitar dua menit tanpa biaya penjualan dari platform.
 
Setelah konsumen menemukan produk, interaksi dapat berlanjut melalui layanan percakapan. Meta Business Agent, misalnya, merupakan agen berbasis AI yang dirancang untuk menjawab pertanyaan, melakukan tindak lanjut, hingga membantu menangani pesanan pelanggan selama 24 jam.
 
Platform tersebut telah digunakan oleh 1 juta bisnis secara global melalui WhatsApp dan Messenger dan direncanakan diperluas ke Instagram. Meta Business Agent juga terintegrasi dengan sejumlah sistem, termasuk Shopify, Zendesk, dan Shopee. AI Dorong Efisiensi Bisnis Perubahan perilaku belanja tersebut berlangsung bersamaan dengan semakin luasnya penggunaan AI oleh pelaku usaha. Meta mencatat sekitar 9 juta usaha kecil telah menggunakan salah satu tools kreatif berbasis AI generatif untuk membuat iklan. Adopsi fitur pembuatan gambar juga meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal ini.
 
Joe mengatakan, AI kini tidak lagi sekadar menjadi teknologi yang dicoba oleh perusahaan. Pelaku usaha mulai melihat AI sebagai infrastruktur yang dapat diintegrasikan ke berbagai tahapan bisnis, mulai dari perencanaan kampanye, pembuatan konten, hingga layanan pelanggan.
 
Meta juga menggunakan teknologi large language model (LLM) untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam memprediksi dan menentukan peringkat iklan. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan relevansi iklan sekaligus mendorong konversi di Facebook dan Instagram.
 
Secara keseluruhan, Meta mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 28% secara tahunan, sementara sekitar 3,6 miliar orang menggunakan setidaknya satu aplikasi Meta setiap hari. Kepercayaan Jadi Kunci Ekosistem Transaksi Pertumbuhan perdagangan berbasis media sosial juga diikuti dengan upaya memperkuat keamanan dan kepercayaan pengguna. Meta menyebut telah menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan sepanjang tahun lalu serta menonaktifkan 10,9 juta akun yang terhubung dengan sindikat penipuan di Facebook dan Instagram.
 
Meta juga menyatakan lebih dari 99% konten yang tampil berdekatan dengan iklan di Facebook, Instagram, dan Threads telah diverifikasi secara independen sebagai brand-safe oleh mitra pihak ketiga.
 
Menurut Joe, perkembangan perdagangan digital di Asia Pasifik pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan konsumen menemukan produk, tetapi juga oleh seberapa mudah mereka dapat berinteraksi, mendapatkan rekomendasi yang dipercaya, melakukan transaksi, dan memperoleh layanan setelah pembelian.
 
Dengan karakter konsumen Asia Pasifik yang semakin terbiasa berbelanja melalui media sosial, Meta melihat integrasi antara konten, kreator, livestream, AI, percakapan, dan transaksi sebagai ekosistem yang semakin penting bagi pertumbuhan bisnis di kawasan tersebut.
 
Data Holiday Shopping Study merupakan studi yang ditugaskan oleh Meta dan dilakukan Ipsos berdasarkan survei daring terhadap 14.473 pembeli pada musim liburan di 18 negara, termasuk Indonesia, pada November 2025.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jet Tempur F-16 Jatuh dan Terbakar, Pilot Selamat Usai Lontarkan Diri
• 1 jam lalu
0
thumb
Cara Memilih Tanggal Pernikahan Menggunakan BaZi, Beda dengan Shio
• 16 jam lalu
0
thumb
Penyaluran KUR BRI (BBRI) Capai Rp103,81 Triliun hingga Akhir Juni 2026
• 11 jam lalu
0
thumb
Video: Mensesneg: Pemerintah Kerja Keras Atasi Karhutla
• 7 jam lalu
0
thumb
Haedar Nashir: Pers Harus Tetap Jadi Penjaga Kebenaran di Tengah Disrupsi Medsos
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.