Paradoks Likuiditas GOTO dan Dilema Investor Ikut Penilaian MSCI atau BEI

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Ada paradoks dalam posisi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Hari ini, Kamis (13/8) lembaga pengelola indeks global MSCI mendepak GOTO dari MSCI Global Standard Indexes karena persoalan likuiditas.

Namun sebulan yang lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mempertahankan saham perusahaan teknologi itu dalam indeks LQ45. Artinya, bursa masih mengakui likuiditas saham GOTO masih besar. 

Dengan keputusan yang saling berlawanan itu, investor kini berada di persimpangan dalam menyikapi pengakuan likuiditas saham GOTO. Pertanyaan pun muncul, jika saham GOTO dinilai tidak cukup likuid untuk memenuhi kriteria MSCI, mengapa saham dengan harga Rp 50 itu masih dapat bertahan di LQ45? Bagaimana investor menentukan keputusan investasi di GOTO?

Dilema itulah yang dirasakan Kirana (29). Sebagai investor, ia mengaku bingung akan likuiditas saham GOTO, namun sepakat dengan hasil yang disampaikan MSCI. 

Menurut dia, keputusan MSCI mengeluarkan GOTO dari indeks bukan hal yang mengejutkan. Ia melihat antrean jual saham GOTO cukup tebal, sementara investor yang ingin keluar menghadapi keterbatasan harga. Berdasarkan data bursa, ada 272,15 juta lot yang mengantre keluar dari saham GOTO.

“Ya wajar aja didepaklah likuiditasnya enggak sehat, antrean jualnya aja kalo dilihat sangat tebal. Tandanya investor banyak yang mau keluar tapi enggak bisa,” kata Kirana kepada Katadata.co.id, Kamis (13/8).

Kirana adalah investor GOTO sejak 2025. Dia membeli saham emiten aplikator ojek online, Gojek, itu di harga Rp 86 per unit.

Kala itu, ia mengaku tertarik setelah membaca sejumlah analisis yang memproyeksikan harga GOTO dapat mencapai Rp 100. Apalagi likuiditas saham GOTO memang diakui bursa dan sejumlah lembaga pengelola indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI. 

Namun ekspektasi tersebut tidak terwujud. Harga GOTO terus merosot hingga bertahan di level Rp 50, batas bawah harga saham di BEI. Kini, Kirana masih menyimpan beberapa lot saham GOTO. Seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat risiko investasi di saham tersebut. Perempuan itu pun memilih tidak lagi menambah kepemilikannya.

Namun dalam kondisi seperti ini, dia mengatakan akan tetap mempertahankan saham GOTO yang dipunyainya dengan harapan harga bisa kembali setidaknya ke Rp 87.

Pernyataan serupa disampaikan Putri (31). Dia memiliki beberapa saham GOTO, dan mulai masuk setelah melihat perbaikan kinerja keuangan perusahaan.

GOTO membukukan laba bersih pada kuartal pertama 2026 setelah bertahun-tahun mencatat kerugian. Ia pun merasa optimistis masuk dan berinvestasi di saham itu.

Namun ekspektasinya tak terbayar hingga kini. Harga saham GOTO bertahan di Rp 50. Setelah membaca riset dan mendalami kinerja sahamnya, Putri menilai persoalan GOTO bukan semata-mata mengenai kinerja keuangan. Ia justru mempertanyakan mengapa perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar tidak mampu menciptakan likuiditas saham yang memadai.

“Dari sisi market cap memang besar, tapi tidak likuid. Masa harganya tetap di Rp 50? Itu kan aneh. Kalau lihat order book, lebih banyak yang jual daripada beli,” ujarnya.

Putri juga menilai manajemen GOTO masih perlu menunjukkan langkah yang lebih jelas untuk meningkatkan likuiditas saham. Ia menyoroti rencana pembelian kembali saham (treasury stock) yang sebelumnya sempat muncul tetapi kemudian tidak berlanjut.

Metode di Balik 2 Perbedaan Nilai GOTO

Seiring dengan perbedaan nilai likuiditas saham GOTO, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengakui keputusan MSCI menghapus GOTO dari indeks Indonesia pada review Agustus 2026 memang terutama disebabkan persoalan likuiditas. 

Sejak pertengahan Mei 2026, saham GOTO bertahan di level Rp 50. Kondisi itu membuat proses price discovery dan kemampuan investor besar untuk keluar-masuk posisi menjadi persoalan.

Namun, menurut Nafan, GOTO masih dapat bertahan dalam LQ45 karena indeks tersebut menggunakan metode BEI. Sementara MSCI memiliki universe, metode, serta liquidity screen yang berbeda.

“LQ45 adalah indeks yang metodologinya ditentukan oleh BEI, sedangkan MSCI mempunyai metodologi, universe, dan liquidity screen sendiri,” kata Nafan.

Dengan begitu, status GOTO di LQ45 dan MSCI tidak serta-merta bertentangan. Sebuah saham dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan BEI untuk masuk LQ45, tetapi pada saat yang sama tidak memenuhi persyaratan likuiditas MSCI.

Persoalannya menjadi lebih menarik karena masalah tersebut muncul ketika fundamental GOTO justru mulai menunjukkan perbaikan.

Pada kuartal kedua 2026, GOTO mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar. Pendapatan GOTO pun melonjak 28,4% secara tahunan menjadi Rp 10,9 triliun.

Segmen on-demand service (Gojek) membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 464 miliar, naik 41% ditopang pendapatan bersih yang mencapai Rp 3,6 triliun.

Artinya, kata Nafan, ada kesenjangan antara perbaikan fundamental dan kondisi saham di pasar. Kinerja bisnis mulai membaik, tetapi struktur pasar dan likuiditas saham justru menjadi persoalan.

Karena itu, harga Rp 50 tidak serta-merta membuat saham GOTO menjadi murah atau menarik. Bagi investor, persoalannya bukan lagi sekadar valuasi, tetapi apakah saham tersebut cukup likuid untuk diperdagangkan secara efisien.

Namun pandangan berbeda disampaikan pengamat pasar modal sekaligus Pendiri Republik Investor, Hendra Wardana. Dia mengatakan, keluarnya GOTO dari MSCI Global Standard Indexes menjadi alarm bagi pasar modal Indonesia.

Menurut dia, persoalan pasar modal tidak lagi sekadar mengenai jumlah emiten atau besarnya kapitalisasi pasar. Kualitas likuiditas dan investability menjadi semakin penting.

MSCI, kata Hendra, tidak mengambil keputusan tersebut tanpa dasar. Ketika sebuah saham tidak lagi memenuhi parameter yang dibutuhkan investor institusi global, termasuk kapitalisasi yang dapat diinvestasikan dan likuiditas, konsekuensinya dapat berupa penurunan kelas indeks hingga dikeluarkan dari indeks.

Kasus GOTO menunjukkan kapitalisasi pasar yang besar tidak otomatis membuat sebuah saham investable.

Bagi investor global, ukuran perusahaan bukan satu-satunya pertimbangan. Mereka juga melihat seberapa besar saham yang benar-benar tersedia untuk publik dan seberapa mudah saham tersebut diperdagangkan dalam jumlah besar tanpa menggerakkan harga secara signifikan.

Dengan kata lain, terdapat perbedaan antara besar di atas kertas dan mudah diinvestasikan.

“GOTO merupakan salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar dan selama ini menjadi salah satu nama penting dalam ekosistem pasar modal Indonesia. Namun kapitalisasi besar tidak otomatis berarti investability yang kuat,” kata Hendra.

Persoalan ini menjadi semakin relevan ketika pasar modal Indonesia sedang berupaya memperkuat kepercayaan investor global melalui berbagai reformasi, mulai dari peningkatan free float, transparansi pemegang saham hingga penguatan tata kelola.

Di satu sisi, reformasi tersebut diarahkan untuk membuat pasar Indonesia lebih terbuka dan dapat diakses investor global. Namun di sisi lain, sejumlah saham Indonesia justru kehilangan tempat dalam indeks global.

Menurut Hendra, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan aturan di atas kertas belum otomatis menghasilkan pasar yang lebih dalam dan likuid.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mendagri Tito Ajak Kementerian dan Lembaga Lainnya Beri Apresiasi Pemda Berprestasi
• 5 jam lalu
0
thumb
Hari Kedua Pencarian, Bocah 7 Tahun yang Tenggelam di Sungai Rawas Ditemukan
• 19 jam lalu
0
thumb
Eks Dirut GoTo Beberkan Uang Rp809 Miliar di Perkara Nadiem Makarim
• 19 jam lalu
0
thumb
Kolombia Terima Tim SAR dari Empat Negara untuk Perkuat Pencarian Korban Gempa M7,4
• 19 menit lalu
0
thumb
FBI AS Diam-Diam Bangun Kerja Sama dengan China dan Rusia, Ada Apa?
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.