Hadapi Serangan Rusia, Ukraina Minta Tambahan 10% Stok Rudal Patriot AS

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta Amerika Serikat (AS) mengirim lebih banyak rudal pencegat Patriot dan mengatakan sekitar 10 persen dari persediaan Washington akan cukup untuk menghentikan seluruh serangan rudal Rusia terhadap Ukraina.

Dalam wawancara dengan CNN, Rabu, 12 Agustus 2026, Zelensky mengatakan, Ukraina saat ini hanya memiliki sekitar 1 persen dari jumlah rudal Patriot yang dibutuhkan. 

Menurutnya, memperoleh 5 persen dari stok Amerika Serikat saja sudah cukup untuk membantu Ukraina menghadapi serangan selama musim dingin.

"Sehari-hari saya berjuang untuk meningkatkan persediaan 1 persen itu menjadi 5 persen," kata Zelensky, dikutip dari Asia Today.

Ia mengatakan pemerintah Ukraina tengah melakukan berbagai upaya diplomatik untuk mendapatkan rudal Patriot tambahan, termasuk melalui kesepakatan langsung dengan sejumlah pihak.

"Saya melakukan jutaan panggilan telepon dan mengupayakan hal-hal yang tidak bisa saya ungkapkan kepada publik untuk menukar atau mendapatkan rudal," ujar Zelensky.

Permintaan tersebut disampaikan ketika serangan udara Rusia terhadap Ukraina meningkat, termasuk di ibu kota Kyiv. Menurut pejabat Ukraina, persediaan rudal pencegat mereka telah turun sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan tahun lalu, sementara penggunaan rudal balistik oleh Rusia meningkat dua kali lipat setiap bulan.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan Juli menjadi bulan paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak April 2022.

Zelensky juga mengatakan, pembicaraan dengan produsen Patriot terkait rencana produksi sistem tersebut di Ukraina masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan final.

Terkait upaya mengakhiri perang, Zelensky mendesak Amerika Serikat mengambil peran lebih aktif dalam negosiasi yang saat ini mengalami kebuntuan. Ia juga menolak tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayah di Donbas tanpa jaminan keamanan yang kuat, karena dinilai dapat menjadi titik awal bagi Rusia untuk melancarkan agresi baru.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Koalisi Buruh Mau Ungkap Parpol yang Tak Serius Bahas RUU Ketenagakerjaan
• 9 jam lalu
0
thumb
RI Tetap di Emerging Markets, MSCI Pastikan Tak Ada Perubahan Status Negara
• 16 jam lalu
0
thumb
Marc Klok antusias jalani latihan bersama Persib Bandung
• 20 jam lalu
0
thumb
Warga Parungpanjang Bogor Blokir Jalan, Protes Debu Proyek Betonisasi
• 5 jam lalu
0
thumb
Soroti Status Lembaga Pendidikan HighScope Indonesia, Orang Tua Murid Ajukan Gugatan Bernilai Rp 100
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.