New York: Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada Rabu, 12 Agustus 2026, setelah sempat melemah menyusul rilis data inflasi Juli yang sesuai dengan perkiraan. Ketidakpastian terkait perkembangan konflik di Timur Tengah turut menopang permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Dikutip dari Investing, Kamis, 13 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur nilai mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama naik 0,2 persen menjadi 99,98.
Indeks dolar sempat turun ke level terendah sesi di 99,61 setelah data inflasi dirilis. Namun, dolar kemudian berbalik menguat dan bergerak lebih tinggi menjelang tengah hari. Inflasi AS sesuai perkiraan Pergerakan dolar sebelumnya dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Data inflasi Juli menjadi perhatian utama setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan sebelumnya.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi utama meningkat 0,1 persen secara bulanan (mtm) pada Juli setelah turun 0,4 persen pada Juni. Secara tahunan (yoy), inflasi melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan setelah stagnan pada Juni. Secara tahunan, inflasi inti melambat menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen.
Baca Juga :
Wall Street Menguat Ditopang Rilis Inflasi AS(Ilustrasi dolar AS. Foto: MI/Ramdani)
Data CPI akan disusul rilis indeks harga produsen (PPI) AS untuk Juli pada Kamis. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar, meski The Fed lebih mengandalkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dalam mengukur inflasi. Komponen CPI dan PPI turut menjadi input perhitungan PCE.
Data inflasi yang sesuai perkiraan memberikan ruang bagi Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mempertahankan suku bunga, terutama setelah kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan.
Ekspektasi tersebut tercermin dalam CME FedWatch. Probabilitas FOMC mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi 60% setelah data CPI dirilis, dari sebelumnya 54%.
Wall Street merespons positif data tersebut. Indeks S&P 500 tercatat menguat 0,4 persen. Mata uang utama melemah Sementara itu, yen Jepang kembali melemah terhadap dolar. Pasangan USD/JPY naik 0,1 persen menjadi 159,46.
Pelemahan yen berlanjut setelah sebelumnya menguat menyusul intervensi bersama Washington dan Tokyo pada akhir bulan lalu.
Survei Reuters Tankan terbaru menunjukkan kepercayaan bisnis Jepang meningkat pada Agustus. Peningkatan tersebut didorong oleh kuatnya permintaan semikonduktor dan konsumsi domestik.
Di sisi lain, euro melemah 0,2 persen menjadi USD1,1524. Pound sterling juga turun 0,1 persen menjadi USD1,3491.





Komentar (0)