Mengubah singgah menjadi tinggal

antaranews.com
9 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (ANTARA) - Ruang pertemuan yang penuh peserta belum tentu membuat sebuah kota memperoleh manfaat besar dari kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Konferensi dapat selesai dalam hitungan jam, peserta menginap satu malam, lalu meninggalkan kota tanpa sempat mengenal tempat yang didatanginya. Hotel terisi, tetapi peluang ekonomi yang lebih panjang belum tentu ikut tumbuh.

Di Kota Surabaya, Jawa Timur kondisi itu justru membuka ruang pengembangan baru. Kota yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa memiliki modal penting untuk mengembangkan MICE, bukan sekadar sebagai kegiatan pertemuan, melainkan pintu masuk bagi pariwisata, ekonomi kreatif, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya menunjukkan tingkat penghunian kamar hotel di Surabaya pada Mei 2026 mencapai 49,95 persen, lebih tinggi 14,73 poin dibandingkan TPK hotel Jawa Timur yang mencapai 35,22 persen. Namun, rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) tercatat sebesar 1,40 malam. Artinya, secara rata-rata seorang tamu hotel menginap sekitar satu hingga dua malam.

Angka tersebut menyimpan pesan penting. Surabaya telah memiliki kemampuan menarik orang untuk datang dan menginap. Tantangan berikutnya adalah membuat mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.


Mengubah pola

Jika Surabaya hanya menjual ruang pertemuan, kota ini berpotensi menjadi tempat singgah. Peserta datang karena agenda pekerjaan, mengikuti kegiatan, tidur di hotel, lalu pulang.

Nilai ekonomi dari kedatangan mereka akhirnya lebih banyak terkonsentrasi pada penyelenggara acara, hotel, restoran, dan transportasi. Padahal, seorang peserta MICE dapat menjadi wisatawan dengan pola konsumsi yang lebih panjang.

Mereka dapat diajak menyusuri Kota Lama, menikmati kuliner khas Surabaya, menyusuri Kalimas, mengunjungi Kebun Raya Mangrove, mengikuti city tour, atau mengenal kampung wisata. Jika dikemas secara tepat, aktivitas tersebut bukan sekadar hiburan tambahan, tetapi bagian dari produk MICE.

Baca juga: Ketua Asperapi Jatim: Kepemimpinan penentu berkembangnya sebuah usaha

Pemerintah Kota Surabaya mulai mengarah ke pola tersebut melalui paket wisata, side event, city tour, dan kolaborasi hotel dengan destinasi. Bus pariwisata milik pemerintah kota juga dapat digunakan untuk mendukung paket tersebut.

Gagasan itu perlu dikembangkan, tetapi jangan berhenti pada paket wisata yang sekadar ditempelkan setelah pertemuan. Tantangan sebenarnya adalah menjadikan pengalaman kota sebagai bagian dari alasan penyelenggara memilih Surabaya.



Wisatawan berolahraga di kawasan Kebun Raya Mangrove, Surabaya, Jawa Timur. Destinasi wisata berbasis ekowisata tersebut menjadi salah satu pilihan wisata alam di Kota Surabaya yang dapat mendukung pengembangan paket wisata bagi peserta MICE. ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya.

Konsep MICE perlu bergeser dari sekadar “meeting in Surabaya” menjadi “experience Surabaya”. Penyelenggara konferensi dapat memperoleh pilihan paket yang dirancang sejak awal.

Pertemuan berlangsung di hotel, makan malam ditempatkan di kawasan heritage, kegiatan kelompok dilakukan di destinasi, lalu peserta diberi pilihan wisata sebelum atau setelah acara.

Dengan demikian, peserta tidak merasa mengikuti dua agenda yang terpisah. Mereka mengikuti satu rangkaian pengalaman yang menghubungkan kepentingan bisnis dengan karakter kota.

Surabaya sebenarnya memiliki modal untuk itu. Data Satu Data Surabaya mencatat sejumlah daya tarik yang dikembangkan, antara lain kampung wisata, Wisata Air Kalimas, THP Kenjeran, kawasan Tunjungan, dan Kota Lama.

Persoalannya bukan semata-mata jumlah destinasi, tetapi bagaimana destinasi tersebut dipaketkan, dipasarkan, dan dihubungkan dengan pasar MICE.


Menjual pengalaman

Pengembangan MICE juga membutuhkan perubahan cara pandang dalam promosi. Pemerintah tidak cukup hanya mengundang penyelenggara kegiatan untuk datang. Pasar perlu diyakinkan bahwa Surabaya mampu menyediakan pengalaman yang lengkap dan mudah diakses.

Langkah Surabaya melakukan business matching di Balikpapan menjadi contoh. Sebanyak 33 pelaku usaha pariwisata Surabaya dipertemukan dengan 125 buyer dari biro perjalanan, perusahaan, instansi pemerintah, komunitas, dan asosiasi pariwisata. Forum bertajuk “Where Business Meets Leisure” itu mempertemukan kepentingan bisnis dengan pengalaman wisata.

Karena itu, Surabaya membutuhkan katalog MICE terpadu yang mempertemukan hotel, gedung pertemuan, destinasi, restoran, transportasi, kampung wisata, pelaku ekonomi kreatif, dan penyelenggara acara dalam satu ekosistem.

Paket tidak harus mahal. Model tersebut memperbesar peluang uang wisatawan bergerak keluar dari hotel.

Pengalaman Surabaya Vaganza 2026 menunjukkan bahwa kegiatan kota dapat menjadi pengungkit pariwisata. Kegiatan tersebut mendorong kenaikan kunjungan wisata sebesar 12,5 persen dan peningkatan okupansi hotel sekitar 4 persen.

Baca juga: Ketika kota menjadi ruang sembuh

Baca juga: Anggota DPR sebut kampung wisata berpotensi dongkrak ekonomi lokal

Kalimas dapat menjadi bagian dari strategi itu. Revitalisasi kawasan sungai dapat diposisikan bukan hanya sebagai proyek penataan ruang, tetapi sebagai panggung pengalaman kota. Kegiatan komunitas, jamuan, pertunjukan budaya, aktivitas olahraga, hingga pertemuan berskala tertentu dapat dikaitkan dengan kawasan tersebut.

Kawasan Kalimas juga memiliki cerita lingkungan dan partisipasi warga. Pada Maret 2026, sebanyak 7.269 orang terlibat dalam kegiatan bersih-bersih Kalimas yang digelar Pemerintah Kota Surabaya bersama Kementerian Lingkungan Hidup.

Mengukur dampak

Integrasi MICE dan pariwisata tidak boleh berhenti sebagai slogan. Pemerintah perlu memiliki ukuran keberhasilan yang lebih tajam.

Jumlah kegiatan memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator. Lama tinggal peserta, belanja wisatawan, jumlah UMKM yang terlibat, penggunaan transportasi lokal, kunjungan ke destinasi, hingga pembelian paket wisata perlu mulai dihitung.

Rata-rata lama menginap 1,38 malam menunjukkan ruang perbaikan yang jelas. Jika peserta MICE terdorong menambah satu malam, dampaknya tidak hanya dirasakan hotel. Ada tambahan konsumsi restoran, transportasi, tiket destinasi, oleh-oleh, jasa pemandu, produk UMKM, dan aktivitas ekonomi lainnya.

Namun, upaya memperpanjang lama tinggal harus mempertimbangkan kualitas pengalaman. Jangan sampai peserta enggan mengikuti paket wisata karena perjalanan terlalu panjang, jadwal tidak fleksibel, atau akses destinasi tidak nyaman.

Karena itu, integrasi MICE membutuhkan koordinasi lintas perangkat daerah dan pelaku usaha. Pemerintah dapat menjadi orkestrator, sedangkan hotel, biro perjalanan, pengelola destinasi, restoran, transportasi, komunitas, dan UMKM menjadi bagian dari rantai nilai.

Surabaya juga perlu membangun kalender MICE dan pariwisata yang saling mengunci. Event besar, agenda pemerintahan, konferensi asosiasi, pameran perdagangan, kegiatan komunitas, dan agenda destinasi perlu dipetakan bersama. Dengan cara itu, hotel tidak hanya menjadi tempat tidur peserta, tetapi pintu masuk menuju kota.

Kebijakan tersebut dapat memperluas manfaat ekonomi. Ketika peserta MICE keluar dari hotel dan masuk ke kampung wisata, pusat kuliner, kawasan heritage, atau destinasi alam, peluang ekonomi akan lebih banyak menyebar kepada masyarakat.

Surabaya tidak kekurangan tempat untuk bercerita. Kota Lama memiliki sejarah, Kalimas memiliki lanskap, kampung wisata memiliki kehidupan warga, kuliner memiliki identitas, sedangkan kawasan mangrove menawarkan pengalaman ekologis. Semua itu dapat menjadi bagian dari produk MICE jika dikemas secara profesional.

Tantangannya adalah memastikan pengembangan tersebut tidak sekadar memperbanyak agenda, tetapi menghasilkan nilai tambah.

Surabaya berpeluang menjadikan MICE sebagai jembatan antara dunia bisnis dan wajah kota. Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak orang datang untuk rapat, melainkan berapa lama mereka tinggal, berapa banyak pengalaman yang mereka bawa pulang, dan seberapa luas manfaat ekonomi yang ditinggalkan.

Jika ruang pertemuan mampu membuka pintu menuju destinasi, hotel terhubung dengan UMKM, event menyatu dengan kalender wisata, dan data digunakan untuk mengukur dampaknya, MICE dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi kota.

Peserta yang datang ke Surabaya seharusnya tidak hanya pulang membawa hasil pertemuan. Mereka juga membawa cerita tentang sebuah kota yang layak dikunjungi kembali.

Baca juga: Aloft Surabaya Pakuwon City Hadir Sebagai Destinasi MICE Terbaru di Surabaya Timur

Baca juga: 7 Alasan Adakan Event MICE di The Westin Grand Ballroom and Convention Center, Surabaya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hasil Arsenal Vs Como 1907, The Gunners Menang Adu Penalti usai Bermain Imbang 1-1
• 9 jam lalu
0
thumb
Loyalis Bos Narkoba di Kampung Bahari Melawan, Petugas Dilempari Mercon
• 8 jam lalu
0
thumb
Purbaya Buka Opsi Penerapan Pajak Marketplace setelah November
• 19 jam lalu
0
thumb
GoTo Membukukan Laba Rp607,48 Miliar, Perseroan Sebut Eksklusi MSCI Bersifat Teknis
• 1 jam lalu
0
thumb
Rekomendasi Serial Jepang Tayang di Netflix
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.